
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Hah...hah...hah... ini baru terasa pedas setelah menghabiskan ususnya. Kamu tunggu disini sebentar, aku akan membeli minuman dulu."
"Biar aku saja. Kamu pegang sosisku," ujar Regent.
"Baiklah jangan lama-lama, aku tunggu di bangku itu ya?" ucap Sarlince sembari menunjuk kearah kursi panjang yang berada didekat tepi laut.
"Ya. Tunggu aku disitu, jangan kemana-mana."
"Ya."
Regent melangkah pergi kearah belakang orang-orang yang menjual jajanan, karena disana terdapat sebuah mini market yang lumayan lengkap.
Regent sedikit kesal, karena antrian saat membayar cukup panjang, pria itu sesekali melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Tap tap tap
Tap tap tap
Tap tap tap
Hosh
Hosh
Sarlince melihat seorang gadis berpakaian serba hitam sedang dikejar oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian hitam pula. Sarlince melihat kearah jaket yang para pria itu kenakan, ada lambang sebuah naga disana.
Awalnya Sarlince mencoba tidak perduli, tapi ketika gadis itu berhenti dengan jarang yang kurang lebih 3 meter darinya, membuat dia harus memperhatikan apa yang ingin mereka lakukan terhadap gadis itu. Sementara orang-orang yang melihat itu, segera menyingkir dan tidak mau ikut campur.
"Hiattttt..."
Tap tap tap
Brukkkkk
Suara tubuh yang terbanting ketanah sangat jelas Sarlince dengar, gadis itu tampak meringis kesakitan saat beberapa pria itu memberikannya beberapa tendangan ditubuhnya hingga gadis itu terbatuk.
Bughh
Bughh
Bughh
Bughh
Bughh
Sarlince memberikan tendangan keras pada kelima pria bertubuh kekar itu, hingga para pria itu terhuyung, bahkan ada yang terjatuh ketanah.
"Heh...mau sok jadi pahlawan rupanya. Kalian wanita-wanita yang merepotkan harus segera dimusnakan dari muka bumi ini," ujar salah seorang pria berbadan besar.
"Apa kalian tidak merasa, kalau kalian itu para pria pengecut dan tidak punya malu? berbadan besar, tapi hanya bisa menindas seorang wanita lemah?"
"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini, tidak usah terlibat dengan urusan kami."
"Kalianlah yang harus pergi dan melepaskan gadis itu."
"Ternyata nyali gadis ini cukup besar juga, apa kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"
"Aku tidak perduli kalian siapa, bahkan aku tidak perduli siapa nenek moyang kalian siapa. Sekarang lebih baik kalian pergi dan lepaskan gadis itu,"
__ADS_1
"Kurang ajar, dikasih hati minta jantung? hajar dia!"
Dua orang pria maju secara bersamaan menyerang Sarlince, Sarlince menghadapi para pria itu dengan santai, bahkan sudah memberikan pukulan yang cukup keras.
Tidak terima, ketiga pria yang lain maju secara bersamaan namun tetap saja Sarlince bukan tandingan mereka. Kelima pria itu ambruk ditanah. Sarlince segera menyeret gadis berpakaian hitam itu dan mengajaknya berlari tidak tentu arah, kelima pria itu segera bangkit dan mengejar Sarlince dan juga buruan utama mereka.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas Sarlince dan gadis itu memburu hebat, bahkan gadis berpakaian hitam itu sudah ambruk bersandar ditembok.
"Seharusnya kamu tidak usah terlibat dengan urusanku. Kamu tidak tahu betapa bahayanya orang-orang itu."
"Sebenarnya ada masalah apa kamu dengan orang-orang itu? kenapa mereka ingin menangkapmu?"
"Meski kujelaskan kamu tidak akan mengerti, sebaiknya kamu cepat tinggalkan tempat ini. Aku takut mereka akan membuat perhitungan denganmu."
"Sudah seperti ini jangan pernah mendorongku pergi,"
"Mereka sangat berbahaya, kamu bisa mati terbunuh."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku tidak apa-apa, aku sudah biasa berhadapan dengan mereka. Mereka hanya menginginkan nyawaku, dan itu tidak masalah bagiku. Nyawaku juga tidak terlalu penting."
"Jangan menyia-nyiakan nyawa pemberian Tuhan, keluargamu masih mengharapkanmu pulang. Katakan padaku dimana rumahmu?"
Gadis itu malah tersenyum kecut, meskipun dia memiliki keluarga, dia tidak akan pernah bisa kembali pada keluarganya itu. Karena mereka semua sudah pergi menemui sang pencipta lebih dulu.
"Aku tidak memilikinya lagi,"
Sarlince terdiam, dia paling mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga.
"Nyawaku."
"Kenapa?"
"Karena aku menyimpan sebuah rahasia besar dari kelompok itu."
"Rahasia besar? siapa mereka sebenarnya?"
"Mafia besar dinegara J. Mereka menyebut diri mereka sebagai geng mafia naga hitam. Tidak ada yang bisa lepas dari cengkraman mereka, itulah sebabnya aku hanya menunggu giliran kematian setelah ketiga temanku sudah tertangkap."
"Kenapa? rahasia apa yang sudah kalian dapatkan?"
"Kami berempat bermaksud keluar dari lingkaran naga hitam dan ingin hidup secara normal seperti manusia biasa pada umumnya, tapi mereka tidak bisa menerima itu karena mereka pikir kami terlalu banyak tahu rahasia mereka. Itulah sebabnya mereka berpikir lebih baik menyingkirkan kami untuk selamanya."
"Apa teman-temanmu sudah tiada?"
"Aku tidak tahu. Terakhir mereka berhasil menangkap mereka disebuah kapal, karena saat itu kami bermaksud ingin pergi kepulau terpencil di negara ini. Tapi kami ketahuan, beruntung aku berhasil melarikan diri dengan terjun kelaut."
"Kamu tidak bisa terus berada dinegara ini. lebih baik kamu tinggalkan saja negara ini,"
"Aku tidak memiliki apapun, terlebih uang. Kemanapun aku pergi, mereka akan mengetahuinya. Kamu tidak tahu seberapa besar jaringan mereka,"
"Sebenarnya aku bukan berasal dari negara ini,"
"Benarkah? tapi wajahmu?"
"Aku memang memiliki separuh dari darah negara J, separuh yang lain dari negara I."
__ADS_1
"Jadi kamu kesini untuk liburan?"
"Emm. Aku datang bersama su...."
Mata Sarlince terbelalak saat teringat tentang suaminya yang dia tinggalkan begitu saja.
"Apa kamu mau ikut bersamaku?" tanya Sarlince.
"Kemana?"
"Aku sudah meninggalkan suamiku ditempat tadi,"
"Pergilah! suamimu pasti sedang kebingungan mencarimu,"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja."
Sarlince mengeluarkan sisa uang tunai yang ada didompetnya dan menyerahkannya pada gadis itu.
"Ini tidak perlu,"
"Tidak apa, kamu pasti memerlukannya untuk bertahan hidup. Carilah pekerjaan apapun dengan sebuah penyamaran, agar mereka tidak bisa menemukanmu."
"Terima kasih. Namaku Yayoi, senang bertemu denganmu,"
Gadis bernama Yayoi itu mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Sarlince dengan erat.
"Sarlince, semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti."
"Emm." Yayoi mengangguk sembari menyunggigkan senyum.
Sarlince melangkah pergi dan sesekali menoleh kearah Yayoi yang masih menatap kepergiannya. Gadis itu terlihat melambaikan tangannya sebelum Sarlince hilang dibalik tembok yang menjulang.
Sementara itu Regent tengah mondar mandir menunggu kedatangan Sarlince ditempat dirinya terakhir kali meninggalkan istrinya itu. Pria itu sangat khawatir, karena Sarlince hanya meninggalkan sosis dan usus di sebuah kursi panjang.
"Re," seru Sarlince.
"Aline,"
Tap
Tap
Tap
Regent berlari kearah Sarlince dan memeluk erat istrinya itu.
"Kamu kemana saja? kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?"
"Aku bertemu dengan seorang teman, maaf sepertinya batre ponselku sudah habis."
"Teman? teman yang mana? laki-laki atau perempuan? seharusnya kamu bilang kalau mau pergi, kita bisa pergi bersama."
"Maaf sudah membuatmu khawatir,"
"Jangan lagi seperti itu,"
"Emm." Sarlince mengangguk.
"Ayo kita pulang, ini sudah malam. Kamu pasti lelah bukan?"
"Ya."
__ADS_1
Sarlince dan Regent pulang ke hotel dengan saling bergandengan tangan.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏