
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
"Nona. Anda ada dimana? apa Nona tidak jadi kekantor hari ini?" tanya Umi.
Sarlince melirik jam yang ada dipegelangan tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Umi. kita bertemu dirumah saja, maaf aku sangat sibuk hari ini." Jawab Sarlince sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Baik."
Umi dan Sarlince mengakhiri percakapan itu. Sarlince mempercepat laju mobilnya karena ingin segera sampai dirumahnya.
Tok
Tok
Tok
Vino mengetuk pintu ruangan pribadi regent. Vino ingin mengajak Regent pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Namun karena tidak ada respon dari dalam, Vino terpaksa membuka pintu ruangan itu tanpa persetujuan Regent lebih dulu.
Kriekkk
Vino membuka pintu perlahan. Kesan pertama yang pria itu dapatkan adalah, ruangan yang sangat berantakan. Kancing baju bertebaran, juga pakaian yang berserakkan dilantai. Seprei yang biasa terpasang rapi kini sangat kusut bahkan tidak terpasang dengan benar. Regent juga tampak bertelanjang dada, karena separuh tubuhnya ditutupi oleh selimut.
"Sebenarnya dia melakukannya dengan siapa? bukankah ini kemeja seorang pria? tapi kenapa yang kudengar tadi suara seorang wanita?" batin Vino.
"Re, bangunlah! apa kamu tidak ingin pulang?" tanya Vino.
Blammmm
Mata Regent terbuka sempurna. Bukan apa-apa dia masih teringat bahwa Sarlince sedang berada satu ranjang dengannya. Mata Regent melirik kesana kemari untuk melihat keberadaan Sarlince, namun sama sekali tidak dia temukan.
"Kamu mencari siapa?" tanya Vino pura-pura tidak tahu.
"Ti-tidak ada." Jawab Regent.
"Bersihkan dirimu! aku akan menunggumu diluar," ujar Vino.
"Ya." Jawab Regent singkat.
Vino bernjak pergi, namun menatap Regent dengan penuh curiga. Regent menghembuskan nafas lega, saat tahu Sarlince sudah tidak ada sisamping tempat tidurnya. Bukan karena dia takut ketahuan melakukan hubungan terlarang itu, tapi dia tidak rela tubuh Sarlince yang indah dilihat oleh pria lain meskipun itu adalah vino.
Regent menyibakkan selimutnya dan mendapati bercak darah yang tertinggal diseprei putih miliknya. Regent tersenyum bahagia, karena dialah orang yang pertama kali menyentuh mahkota wanita yang dia cinta itu.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa dia masih perawan padahal sudah menikah berbulan-bulan dengan pria mesum itu. Tapi aku yakin hingga saat ini, pria itu mungkin tidak pernah melihat atau bahkan menyentuh tubuh indah milik Aline," ujar Regent lirih.
Regent menarik sprei putih itu dan melipatnya dengan rapi. Regent berniat tidak ingin mencuci benda itu, Karena dia ingin menjadikannya sebagai barang kenang-kenangan.
__ADS_1
Regent segera membersihkan diri dan segera menemui Vino setelahnya.
"Siapa dia?" tanya Vino tanpa basa basi saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Regent pura-pura bodoh.
"Ckk...apa kamu ingin menyembunyikannya dariku? aku tidak sengaja mendengarnya. Bahkan kalian bercinta sepanjang hari," ujar Vino.
"Ka-kamu mendengar apa?"
"Tentu saja mendegar suara laknat kalian. sekarang yang ingin aku tanyakan adalah, siapa yang kamu tiduri itu? aku melihat ada kemeja pria dikamarmu itu, tapi aku sangat jelas mendengar kalau yang bersuara laknat itu adalah suara seorang wanita. Apa kalian sedang melakukan threesome?" tanya Vino asal.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Aku masih sangat normal," ucap Regent kesal.
"Lalu siapa wanita itu?" tanya Vino.
"A-aline." Jawab Regent terbata.
"Ap-apa?" Vino terkejut hingga tidak sengaja menginjak rem mobilnya.
"Aww...Vino apa kamu ingin kita mati?" Regent menyentuh keningnya karena merasa sakit saat membentur depan mobil.
"Rasa sakitmu itu sama sekali tidak penting. Apa kamu sudah gila? kenapa kamu bermain api dengan istri orang. Itu tidak dibenarkan Re,"
"Aku tidak perduli. Karena kami sama-sama saling mencintai. Terlebih aku orang yang pertama mengambil mahkotanya itu."
"Apa maksudmu? apa kamu ingin mengatakan kalau Aline masih perawan begitu?" tanya Vino.
"Omong kosong. Dia sudah menikah hampir 3 bulan yang lalu. Apa menurutmu itu mungkin? sementara kamu tahu sendiri suaminya itu sangat mesum.
"Tapi itulah kenyataannya. Aku juga baru tahu tadi, saat kami melakukannya. Aku sangat bahagia Vin. Aku yakin ada yang tidak beres dengan pernikahannya, dan mereka akan segera bercerai."
Vino memijit keningnya yang sama sekali tidak pening.
"Apapun itu aku tidak perduli Re. Aku tidak ingin skandal besarmu ketahuan oleh publik. Kariermu bisa hancur. Bukan itu saja, Aline juga akan digunjing oleh publik karena sudah melakukan skandal besar dibelakang suaminya."
"Aku akan bermain cantik, hingga tak seorangpun menyadarinya."
Vino akhirnya menyerah, dia tidak bisa melarang Regent jatuh cinta pada siapapun. Tugasnya hanya melindungi Regent semampu yang dia bisa.
"Oh ya Re. Aku hampir lupa menyampaikan ini padamu, Umi asisten Aline ingin memintamu bertemu dengannya," ujar Vino.
"Umi?"
"Ya. Dia bilang ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu."
"Atur pertemuan kita dengannya sepulang kantor besok."
"Oke."
__ADS_1
*****
Aline memblokir nomor ponsel Regent dari kontak. Meskipun berat hati, tapi dia harus melakukan itu. Karena memikirkan hubungannya yang rumit, Sarlince jadi lupa membuka tiap email masuk kedalam ponselnya.
Malam ini Sarlince sama sekali tidak bisa tidur, ingatan tentang percintaan panasnya bersama Regent tadi siang, cukup membuat wajahnya bersemu merah.
"Aku benar-benar sudah gila," batin Sarlince.
Sementara Regent saat ini sangat kesal, chat yang dia kirim keponsel Sarlince semuanya tertolak. Regent berusaha menelpon nomor itu, namun berakhir sama saja.
"Aline...teganya kamu melakukan ini padaku," ujar Regent dengan gigi yang terkancing.
*****
"Bu ada paket bunga untuk anda," ujar salah seorang staf.
"Terima kasih."
Sarlince meraih buket mawar merah itu dan ingin tahu siapa pengirimnya.
"Aku mencintamu tertanda R."
Sarlince membaca sebait kartu ucapan yang yang terselip diantara kuntum bunga mawar. Sarlince menghirup aroma bunga itu dan mencoba merasakan kehadiran cinta yang Regent sudah kirim untuknya. Tak terasa air bening jatuh disela matanya yang terpejam.
Sarlince memanggil Umi karena ingin membicarakan hal penting dengan asistennya itu.
"Umi. Utus seseorang untuk membatalkan kerjasama dengan RB Group. Kalau mereka ingin meminta uang pinalti bayar saja semuanya."
"Ada apa? kenapa Nona tiba-tiba...."
"Turuti saja perintahku."
"Biar saya saja yang menyampaikan hal itu Nona. Hari ini aku ada janji ingin bertemu dengannya disebuah Cafe."
"Baiklah."
Umi beranjak dari sofa dan hendak keluar dari pintu.
"Umi," seru Sarlince.
"Ya Nona."
"Maaf aku tidak bermasud bicara keras denganmu tadi."
"Tidak apa. Apa Nona sedang ada masalah dengan Tuan Regent?" tanya Umi.
"Umi apa kamu bisa membaca isi hatiku?"
"Aku tidak perlu membacanya. Aku tahu saat ini anda sedang berusaha menghindari pria itu karena ingin menjaga prinsip anda itu. Tapi Nona, anda juga berhak menentukan kebahagiaan anda sendiri. Anda juga tahu suami anda bukan pria yang benar, suatu saat anda pasti akan membuangnya. Jadi untuk apa anda menahan diri dan membuat Nona dan Tuan Regent tersiksa batin?"
__ADS_1
Sarlince mencerna tiap kata yang Umi lontarkan. Sarlince sadar saat ini dirinya sedang tersesat, hingga sulit baginya untuk mencari jalan yang benar.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏