
Tinggalkan Like, Koment Dan Vote🤗🙏
*****
"Ada apa dengan Umi? kenapa dia seperti sedang ketakutan?" batin Sarlince
"Apa jangan-jangan seperti kisah disinetron? si Qiel pernah menjalin kasih dengannya, lalu si pria meninggalkannya dikampung dan pergi tanpa kabar,"
Umi secepat mungkin mengendalikan dirinya. Dia berusaha membuat raut wajahnya normal kembali.
"Umi kemarilah! ayo kita makan bersama," ujar Sarlince.
"Tidak usaha Nona. Biar saya makan dibelakang saja." Jawab Umi.
"Jangan begitu. Kamu itu temanku, bukan pembantu. Temanku harus makan satu meja denganku, bukan begitu paman?" tanya Sarlince.
"Ya tentu saja." Jawab Alex.
"Gadis sialan ini bahkan tidak bisa membedakan derajat seseorang," batin Qiel.
Umi perlahan melangkah, dan menarik kursi dibagian ujung meja. Posisi duduknya memang lebih dekat dengan Qiel dan Sarah.
"Bahkah biarpun jarak pandang sejauh radius 200 meter, aku masih bisa mengenal wajahmu atau mungkin aromamu," batin Umi.
Sarlince melirik sekilas kearah Umi, bisa dia lihat Umi masih menatap kearah Qiel, dengan tatapan penuh kebencian. Yang ditatap malah tidak tahu apa-apa, bahkan cenderung cuek.
"Umi. Makanan apa yang kamu sukai? apa kamu mau udang?" tanya Sarlince yang sengaja mengalihkan perhatian Umi dari Qiel.
"Eh? tidak Nona. Aku mempunyai alergi dengan seafood." Jawab Umi.
"Kalau begitu Umi bisa makan apa saja yang Umi sukai," ucap Sarlince.
Mereka pun makan dalam diam.
"Apa Dia yang akan menjadi calon suami Nona Aline? Kenapa seperti serba kebetulan? kenapa nama dia harus Sarlince? dan kenapa laki-laki ini harus muncul lagi?" batin Umi.
"Habiskan makananmu. Aku ingin bicara empat mata denganmu," ucap Alex.
"Baik Tuan." Jawab Umi.
Umi mempercepat makannya, kemudian menyusul Alex yang sudah menunggunya di balkon rumah.
"Apa kamu menyukai uang?" tanya Alex berbasa-basi.
"Suka Tuan." Jawab Umi.
"Berapa uang yang kamu butuhkan, agar semua kebutuhanmu dan orang tuamu bisa terpenuhi bahkan berlebih?"
Umi terdiam, untuk menimbang segala sesuatunya.
"Bagaiman kalau aku memberikanmu uang 15 juta perbulan. Apa itu cukup?" tanya Alex.
"15 juta?"
"Ya. Berapa gajih yang pengacara itu tawarkan padamu?" tanya Alex.
"5 juta." Jawab Umi.
__ADS_1
"Aku rasa 15 juta cukup untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga keluargamu. Tapi itu tentu saja tidak gratis," ucap Alex sembari memantik rokok, dan menyelipkannya diantara jarinya setelah menghisapnya.
"Lebih dari cukup Tuan. Apa yang bisa aku lakukan untuk anda?" tanya Umi.
"Aku ingin kamu bekerja untukku. Melaporkan semua gerak gerik gadis bodoh itu dan juga pengacaranya itu. Kamu akan mendapatkan bagianmu, setelah kita berhasil menyingkirkan gadis bodoh itu dan mengambil semua harta warisannya." Jawab Alex.
"Saya mengerti," ujar Umi.
"Bagus. Bersikaplah biasa saja, kalau gadis bodoh itu bertanya padamu. Katakan saja kita hanya membahas tentang rencana pernikahannya dan menasehatimu untuk menjaga dia dengan baik," ucap Alex.
"Baik Tuan." Jawab Umi.
"Pergilah!"
Umi membalikkan tubuh, dan membingkai senyum misterius disudut bibirnya. Umi melewati koridor balkon, dan pergi menuju kamarnya.
Sarlince tiba-tiba muncul, dan mengagetkan Umi yang sedang memindahkan pakaian kotornya kedalam keranjang. Sarlince melirik kearah dua pelayan, yang terlihat intens menatap kearahnya.
"Umi. Maukah kamu menemaniku bermain congklak?" tanya Sarlince.
"Baik Non." Jawab Umi.
Umi mengekor dibelakang Sarlince yang sudah merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali.
Sarlince menutup pintu kamarnya, setelah mereka tiba disana.
"Apa yang dikatakannya padamu?" tanya Sarlince basa basi.
Telinga Sarlince yang sensitif, mendengar ada pergerakkan dibalik pintu. Sarlince memberi kode dengan tangannya, agar Umi bisa menahan kata-katanya sejenak. Umi yang mengerti mengangguk, namun diluar dugaan Sarlince umi malah berkata dengan lantang.
"Tuan Alex hanya membahas tentang pernikahan Nona. Tuan Alex juga ingin saya menjaga Nona dengan baik." Jawab Umi.
Sementara dibalik pintu, Alex tersenyum karena merasa Umi memang bisa dipercaya dan sudah pasti berada dipihaknya. Pria itu kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Sarlince.
"Dia menjanjikanku gajih 15 juta sebulan asal mau bekerja sama dengannya. Untuk memberi dia info apapun tentang Nona dan Tuan pengacara. Dia juga ingin saya bekerjasama untuk melenyapkan anda setelah menikah nanti," ujar Umi.
"Umi. Apa kamu tidak menyesal berpihak padaku? dia mungkin bisa memberikan segalanya untukmu," tanya Sarlince."
"Bukankah Nona sendiri yang bilang. Kita hidup tidak melulu bicara soal uang. Saya memang menyukai uang, tapi bukan berarti saya mau menggadaikan prinsip dan harga diri saya." Jawab Umi.
"Umi. Kau tahu? kamu itu mengingatkanku pada sahabatku yang entah dimana keberadaannya saat ini. Aku sangat merindukannya,"
"Dia juga orang yang memegang teguh prinsip. Dan memprioritaskan kebenaran diatas segalanya," sambung Sarlince.
"Umi. Satu hal yang menjadi ganjalan fikiranku dari tadi, apa kamu mempunyai hubungan spesial dengan Qiel sebelumnya?" tanya Sarlince.
Umi mendadak tegang ditanya soal pria yang sangat dia benci.
"Maksudku, apa kamu mengenalnya? aku perhatikan kamu sangat terkejut, saat melihat dia pertama kali."
"Hubungan kami sangat rumit dan tidak bisa dijelaskan." Jawab Umi.
"Tapi anehnya dia bersikap seolah dia tidak mengenalmu," ujar Sarlince.
"Apa dia pernah melakukan perbuatan yang tidak senonoh denganmu? dan dia meninggalkanmu begitu saja?" tanya Sarlince.
Umi membingkai senyumnya dan berfikir untuk mencari alasan agar bisa menghindari pertanyaan yang sangat sulit dia jelaskan.
__ADS_1
"Mungkin Saya yang terlalu berlebihan Nona. Tunangan Nona sangat mirip dengan kekasih saya yang entah dimana keberadaannya." Jawab Umi.
Sarlince mengerutkan dahinya, jawaban Umi begitu janggal menurutnya, terasa tidak nyambung setelah sebelumnya Umi mengatakan hubungan mereka yang cukup rumit.
"Sudalah, lupakan kesedihanmu itu. Kamu bisa mencari kekasih yang lebih baik dari dia. Bukankah didunia ini pria sangat banyak?" ucap Sarlince.
"Nona benar." Jawab Umi sembari tersenyum.
"Apa Nona benar-benar ingin menikah dengan pria itu?" tanya Umi.
"Sejujurnya aku tidak mau. Tapi mereka bisa merasakan rasa sakit, setelah kita menghancurkannya dari dalam." Jawab Sarlince.
"Apa itu tidak terlalu beresiko? saya bisa melihat, mereka bukan orang yang mudah dihadapi," ujar Umi.
"Meskipun begitu harus dicoba. Aku ingin menghancurkan mereka, hingga mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi," ucap Sarlince.
"Umi apa kamu mau jalan keluar bersamaku? kita refresh otak dulu, siapa tahu bisa bertemu barang bagus," tanya Sarlince.
"Kemana?" tanya Umi.
"Mall." Jawab Sarlince.
"Baiklah. Tapi..."
Umi terlihat ragu saat ingin mengatakannya. Tapi Sarlince mengerti apa yang Umi fikirkan.
"Apa kamu malu jalan dengan penampilanku seperti ini?" tanya Sarlince.
"Tidak. Saya hanya takut Nona dibully." Jawab Umi.
"Jangan perdulikan hal itu. Aku akan baik-baik saja, aku sudah pernah mencobanya. Bahkan aku pernah ke toko perhiasan ternama di kota ini,"
"Be-benarkah?" tanya Umi.
"Tentu saja. Awalnya mereka seperti melihat sampah kearahku, tapi mata mereka berubah teduh saat mengetahui barang yang kujual bisa membeli harga diri mereka." Jawab Sarlince.
Umi terkekeh mendengar cerita Sarlince. Rasa kagumnya sedikit bertambah, pada sosok didepannya ini. Sarlince dan Umi akhirnya pergi ke mall bersama.
"Bukankah dia tunangan anda?" tanya Umi.
Sarlince menoleh kearah telunjuk Umi. Mereka saat ini memang sedang berada di gerai pakaian dalam, namun kaca yang tembus pandang membuat Umi dan Sarlince bisa melihat dua orang yang duduk berhadapan disebuah tempat makan.
"Biarkan saja. Mungkin itu kekasihnya, mana aku perduli apa yang dia lakukan? bukankah kita sudah tahu apa tujuannya ingin menikahiku?" tanya Sarlince.
"Pria busuk seperti itu harus sedikit diberi pelajaran. Apa anda ingin sedikit bermain?" tanya Umi.
"Bermain?"
"Bagaimana kalau kita mengacaukan kencan mesra dua sejoli itu." Jawab Umi.
"Itu ide gila. Tapi kedengarannya akan seru. Aku ingin membuatnya malu hari ini," ujar Sarlince terkekeh.
"Umi. Ayo beli satu barang bagus untuk mendukung pertunjukan kita," ujar Sarlince.
"Barang bagus?"
Sarlince hanya menjawab dengan senyum misteriusnya. Setelah itu mereka pergi menghampiri meja yang Qiel dan Celine duduki..
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏