
Tinggalkan Like, Koment, dan Vote🤗🙏
*****
Umi menahan diri untuk tidak bertanya tentang keanehan itu pada Sarlince karena sudah terdengar dengkuran halus dari wanita itu. Namun jauh dalam benaknya, hatinya bertanya-tanya apa sat ini adalah benar atau salah.
Umi merapikan kotak obat-obatan itu dan mengembalikan kotak itu di tempat Sarlince menyimpannya, kemudian Umi menutup pintu kamar Sarlince perlahan agar tidak menimbulkan suara.
"Aku harus menanyakan ini padanya. Kalau dugaanku benar, berarti aku sangat dekat dengannya selama ini. Itu memang masuk akal, karena disetiap kehidupan dia selalu berhubungan dengan pria itu," ujar Umi lirih.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Sarlince keluar dari kamarnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Umi? kamu kenapa berdiri didepan pintu?" tanya Sarlince.
"Aku menunggu Nona bangun." Jawab Umi.
"Ada apa? kenapa tidak kamu ketuk saja pintunya?"
"Nona kelihatan sangat lelah. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu."
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Bolehkan saya meminjam laptop anda Nona?"
"Laptop?"
"Ya. Itupun kalau Nona mengizinkan."
"Tentu saja. Tunggu sebentar," ujar Sarlince.
Sarlince masuk kembali kedalam kamar dan mengambil laptop dari dalam loker.
"Apa yang ingin kamu lihat?" tanya Sarlince.
"Saya hanya ingin memastikan sesuatu Nona. Maaf saya belum bisa memberitahu anda." Jawab Umi.
"Tidak apa, pakai saja sesukamu."
"Terima kasih Nona."
Sarlince membingkai senyumnya dan turun kebawah karena ingin mencari minuman segar. Sementara itu Umi berkutat pada laptop yang dia pinjam. Namun saat membuka file-file yang Sarlince simpan, Umi menemukan satu file yang menurutnya sangat menarik perhatiannya. Umi mengklik file itu dan ternyata itu berisi 5 disign yang Regent sinpan dalam flashdisk dan sempat Sarlince copy di laptopnya.
Umi memperhatikan dengan seksama disign unik itu. Disign itu begitu familiar, dan ketika otaknya sudah bekerja, mata Umi dibuat terbelalak kembali.
"Kenapa dia mempunyai disign ini? apa dia yang menggambarnya sendiri?" ucap Umi lirih.
"Aku harus bertanya langsung padanya,"
Namun sebelum dia benar-benar menutup laptop itu, Umi dengan iseng membuka emailnya yang baru dia buat sejak awal dia kembali melintasi waktu. Email yang biasa dia gunakan saat dikehidupan sebelumnya
"Ada email masuk?"
Mata Umi lagi-lagi terbelalak saat melihat email itu berasal dari sahabatnya. Dengan tangan bergetar dia membalas email itu karena tidak sabar ingin bertemu.
Umi menyeka air matanya, perasaannya sangat lega. Paling tidak sudah ada titik terang dimana keberadaan sahabatnya itu. Umi kemudian menutup latop itu, karena ingin segera menanyakan tentang disign itu.
Umi menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, Sarlince yang melihat itu sedikit khawatir karena takut Umi akan terjatuh.
__ADS_1
"Ada apa? kenapa kamu tergesa-gesa begitu?" tanya Sarlince.
"Nona. Aku ingin menanyakan ini padamu,"
Umi memperlihatkan 5 disign yang tidak sengaja dia lihat.
"Kamu membuka file-file ku?"
"Maafkan saya Nona. Tapi ini sangat penting bagiku. Apa disign ini anda yang membuatnya sendiri?" tanya Umi.
"Bukan. Itu disign Regent yang kutemukan di flashdisknya waktu itu. Ada apa dengan disign itu?" tanya Sarlince.
"Tuan Regent? bagaimana mungkin ini miliknya? mana mungkin dia bisa menggambar sosok ini?"
"Memangnya siapa kelima wanita ini? apa kamu mengenal mereka?" tanya Sarlince.
"Mereka sahabatku."
"Sahabatmu? kelima orang ini?" tanya Sarlince
"Ya. Sepertinya saya harus menanyakan ini langsung padanya. Aku takut dia hanya menemukan flashdisk itu, dan pemilik sebenarnya adalah sahabatku yang entah dimana saat ini." Jawab Umi.
"Apa kamu akan mendatangi kantornya?" tanya Sarlince.
"Sepertinya begitu. Besok Nona masih ada kompetisi kan?" tanya Umi.
"Ya. Besok tahap penyisihan 10 besar."
"Bagaimana kondisi lengan anda? apa akan baik-baik saja kalau anda ikut kompetisi besok?"
"Ya."
"Begitu ya? tapi iya juga sih. Makasih atas saran Nona,"
"Apa kamu sudah selesai dengan Laptopnya?"
"Ya. Saya cuma mengirim email untuk sahabat saya."
"Maaf saya jadi lupa memberimu fasilitas yang memadai. Seharusnya sebagai asistenku, kamu sudah harus mempunyai ponsel tercanggih,"
"Tidak apa Nona. Saya pakai ponsel kecil saja."
"Tidak. Itu sangat penting untuk komunikasi kita dari segala arah. Besok aku pastikan kamu akan memilikinya,"
"Terima kasih Nona, saya permisi keatas dulu,"
"Emm" Sarlince mengangguk.
"Aku yakin Regent tidak mungkin mendisgn itu sendiri. Bagaimana dia bisa tahu tentang wajah itu sementara dia datang dari kehidupan ini. Kecuali dia ada hubungannya dengan setiap kehidupan. Aku harus menemui dia segera," batin Umi.
*****
Seorang pria bertopeng yang duduk disebuah kursi roda tampak menekan tombol khusus, agar kursi roda itu bisa berjalan sesuai keinginannya. Pria itu menyusuri semua koridor yang memiliki sebuah kaca transparan yang mereka sebut sebagai aquarium raksasa. Aquarium itu berisi cairan khusus, yang bisa menyimpan sesuatu untuk dijadikan kelinci percobaan atau menciptakan manusia jenis baru sesuai yang mereka inginkan.
Pria itu mendorong sebuah pintu berwarna abu-abu yang akan langsung terbuka saat telapak tangannya menyentuh medan yang dia inginkan. Saat pintu itu terbuka, dia melihat beberapa orang profesor sedang sibuk meneliti dan mengembangkan sebuah obat yang dipercaya akan membuat mereka hidup abadi dan selalu terlihat awet muda.
"Bagaimana dengan kemajuan obat ciptaan kalian?" tanya Pria itu.
__ADS_1
"Sejauh ini tetap pada keputusan awal ketua, obat itu akan sempurna kalau kita bisa mendapatkan antigen dari wanita itu. Karena hanya dia keturunan terakhir dari orang itu yang masih bisa kita manfaatkan,"
"Betul ketua. Terlebih ketua sangat memerlukan gelombang otak wanita itu, agar Ketua bisa kembali seperti sedia kala." Timpal profesor yang lain.
"Berapa lama waktu yang tersisa untukku?"
"Tidak lebih dari tiga tahun. Obat yang Tuan minum sifatnya hanya sementara. hanya mampu menaha laju, agar parasit-parasit darah itu tidak menghancurkan seluruh sel yang Ketua miliki."
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat. Semoga wanita itu segera ditemukan."
"Apa tidak ada radar khusus untuk mengetahui keberadaan wanita itu?"
"Sulit. Karena dia merupakan hasil percampuran dari manusia biasa dan dari seorang dewi kegelapan. Beruntung kita bisa menghapus semua ingatannya, sehingga disetiap kehidupan dia tidak pernah ingat siapa jati dirinya."
"Bersabarlah ketua. Anda pasti akan kembali seperti sedia kala, wanita itu tidak akan pernah bisa lari lagi kali ini,"
Pria itu hanya mengangguk dan pergi dari ruangan itu. Tatapan matanya yang dingin seakan mampu menembus medan apapun yang berada disekitarnya.
"Ini semua gara-gara dia. Lihat saja, anakmu yang akan membayar semua perbuatanmu padaku,"
*****
Sarlince meringis kesakitan saat tidak sengaja lengannya menabrak sudut tembok, Sarlince sangat terburu-buru saat ini karena dia hampir terlambat mengikuti kompetisi. Sementara diruangan kompetisi Regent juga gelisah, karena tidak melihat kehadiran Sarlince.
"Kemana dia? apa dia akan mengundurkan diri lagi kali ini? atau jangan-jangan lukanya sangat parah?" batin Regent.
Namun saat memikirkan segala kemungkinan itu, tiba-tiba saja Sarlince muncul dengan nafas terengah-engah. Wanita itu menghampiri meja panitia.
"Maaf saya datang terlambat," ujar Sarlince.
Regent diam membisu, diliriknya lengan Sarlince ada bekas noda darah disana dan itu masih terlihat basah. Regent yang khawatir langsung bersuara.
"Tunda kompetisi selama 30 menit. Kamu ikut aku!" ujar Regent.
Vino mengerutkan dahinya saat mendengar perintah itu. Namun dia tetap menuruti apa permintaan sahabatnya itu. Sementara itu Regent menyeret tangan Sarlince untuk masuk kedalam ruangan priabadinya.
"Duduk!"
Regent terlihat membuka kotak P3K dan bermaksud ingin mengobati Sarlince.
"Tuan tidak perlu. Aku tidak apa-apa,"
"Diamlah!"
Regent menggulung lengan baju Sarlince yang longgar, hingga terlihatlah luka Sarlince yang berdarah meskipun tertutup kain kassa.
"I-ini tadi tidak sengaja menabrak tembok, sepertinya lukanya kembali terbuka," ujar Sarlince.
Regent hanya diam dan memasang wajah datar tanpa menanggapi ucapan Sarlince. Regent terus membongkar kain kasa itu hingga terlihatlah luka Sarlince yang membengkak. Regent dengan telaten membersihkan luka itu sementara Sarlince meringis menahan sakit. Setelah selesai di obati, Regent menutup kembali luka itu.
"Tuan. Apa anda akan bersikap yang sama dengan para peserta laki-laki yang ada di ruangan itu? masalahnya sikap anda ini sedikit tidak wajar, aku takut orang akan mengira kita ada hubungan khusus," tanya Sarlince.
"Jangan perdulikan omongan orang. Mereka tidak memberimu makan bukan? jadi jangan hiraukan " Jawab Regent sembari menurunkan kembali lengan kemeja itu.
Sarlince terdiam, pandangan matanya menatap mata pria yang selalu mampu menggetarkan hatinya.
"Tidak Sarlince, kamu tidak bisa memlibatkan dia dalam aksi balas dendammu. Tunggu sampai semuanya selesai, dan lihat apa dia benar-benar menggumu sampai hari itu?"
__ADS_1
Sarlince segera berdiri dan meminta kembali keruangan kompetisi pada Regent. Merekapun pergi bersama keruangan itu.
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏