
Tinggalkan Like, koment dan Voteπ€π
*****
"Hari ini kalian akan memepelajari seni meracik obat. Tapi sebelum itu kalian harus mampu dulu untuk mengenali jenis tumbuhan yang akan dijadikan ramuan obat," ucap Tabib Cheng.
"Apa kalian masih mengingat semua jenis tanaman obat yang kalian ambil kemarin?"
Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Tabib Cheng, termasuk Mehru. Bukan Mehru tidak tahu, tapi dia ingin bersikap rendah hati dan tidak bersikap sok pintar didepan teman-temannya. Dia lebih memilih diam, kerena dia anggap ingin mengulang kembali pelajaran yang dia terima kemarin.
"Baiklah, Suhu sudah memisahkan tiap jenis tanaman yang kalian peroleh kemarin. Aku akan menyebutkan kembali nama dan manfaat dari tumbuhan yang ku pegang."
Tabib Cheng mulai memperlihatkan satu persatu tanaman obat yang dikumpulkan oleh para muridnya kemarin, Tabib Cheng juga menyebutkan kegunaan tanaman obat itu satu persatu dengan pelan, agar para muridnya mengerti.
Setelah selesai menjelaskan, Tabib cheng menyuruh para muridnya untuk mulai mempelajari cara meracik ramuan obat. Tiap murid membuat ramuan sesuai takaran yang diberitahu oleh Tabib Cheng.
Selama satu minggu penuh para murid tabib Cheng mempelajari seni meracik obat, sampai semua muridnya mengerti dan paham
"Mehru. Maukah kau ikut denganku?" tanya Seo.
"Ikut denganmu? kemana?"
"Kita mencari cendawan di hutan. Aku ingin sekali makan itu,"
"Apa Cendawan bisa dimasak bersama daging?"
"Tentu saja. Itu akan menjadi lebih lezat."
"Kalau begitu aku akan membawa busur dan panahku. Kita akan mencari cendawan sembari berburu."
"Baiklah."
"Apa aku boleh mengajak Kheiren?"
"Kenapa harus mengajak orang lain?"
"Tidak boleh ya?"
"Bukan tidak boleh, ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu, dan aku merasa tidak nyaman, kalau ada orang lain yang ikut mendengarkan pembicaraan kita."
"Baiklah. Tapi paling tidak aku akan memberitahunya, agar dia tidak khawatir."
"Emm." Seo mengangguk.
Mehru pergi masuk kedalam gubuk untuk menemui Kheiren, untuk memberitahu kepergiannya.
"Kamu akan pergi dengan pria itu? Mehru, sebaiknya tidak usah, aku takut..."
Mehru memberikan kode dengan matanya, agar Kheiren tidak meneruskan kata-katanya karena ada Mesa yang mendengarkan obrolan mereka.
Kheiren menarik tangan Mehru keluar gubuk, dan terjadi perdebatan sengit antara keduanya. Sementara itu Mesa hanya tersenyum sinis mendengarkan perdebatan itu dari balik pintu.
"Khei, bukankah kamu bilang dia sekarang menjadi pria yang lebih baik?"
"Tapi waspada juga perlu. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Jangan berlebihan, aku hanya pergi berburu dan mencari cendawan."
"Kalau begitu aku ikut,"
"Aku sudah mengatakan itu padanya, tapi dia bilang ada yang ingin dia bicarakan denganku. Dia tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan apa yang akan dia katakan padaku."
Kheiren hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kearah mana kalian akan pergi?"
"Mungkin kearah barat, karena disana banyak terdapat cendawan dan hewan buruan."
"Berhati-Hatilah, jangan pergi terlalu lama."
"Jika aku tidak kembali saat matahari setengah dari arah barat, kamu boleh pergi mencariku,"
"Baiklah."
__ADS_1
Mehru kembali masuk kedalam gubuk dan meraih busur dan panahnya.
"Kamu akan pergi berburu?" tanya Mesa.
"Ya. Aku akan pergi bersama Seo."
"Berhati-Hatilah, bawa tangkapan besar untuk kita santap malam ini."
"Baiklah, aku pergi."
"Emm." Mesa mengangguk.
Mehru pergi bersama Seo yang sudah menenteng sebuah keranjang yang lumayan besar. Mereka pergi dengan menaiki satu kuda.
"Apa kamu menggunakan wewangian khusus?" tanya Seo yang mencium aroma khas dari tubuh Mehru.
"Tidak ada. Aku bahkan tidak pernah tahu seperti apa bentuk wewangian yang kamu maksud itu. Ada apa?"
"Aku mencium aroma wangi dari tubuhmu, aku fikir kamu sudah menggunakan sesuatu."
"Tidak. Maaf kalau kamu terganggu dengan aroma yang aku miliki,"
"Aku suka aroma tubuhmu."
Wajah Mehru mendadak merah, saat mendengar pujian itu dari Seo. Terlebih pria itu mengatakannya dengan kepala berada diceruk lehernya.
"Ap-Apa yang kau lakukan?" tanya Mehru.
Mehru gelagapan saat tiba-tiba seo menciumi area lehernya.
"Maaf, aroma tubuhmu membuatku hilang kendali." Seo perlahan menjauhkan diri.
"Se-Sebaiknya kita turun disini saja, ini sudah lumayan jauh masuk kedalam hutan."
"Tapi kita belum melihat tanda-tanda keberadaan cendawannya,"
"Tidak apa, kita berjalan sembari mencari sembari berburu. Hewan buruan akan kabur kalau mendengar suara kaki kuda yang berisik,"
"Baiklah,"
"Ayo," ujar Seo sembari memikul keranjang kosong.
"Beritahu aku kalau kau melihat buah liar, aku menginginkannya juga."
"Emm." Seo mengangguk.
Mereka mulai berjalan menyusuri hutan, dan menemukan beberapa cendawan yang mereka inginkan.
"Tunggu!"
Mehru memberikan isyarat dengan tangannya, agar Seo menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"
"Aku mendegar ada langkah kaki buruan,"
Seo menajamkan telinganya, namun sama sekali tidak mendengar apapun. Mehru mengendap-endap dan mengintip dari balik dedaunan.
"Kemarilah!" ucap Mehru setengah berbisik.
Seo mendekat perlahan dan ikut melihat apa yang Mehru lihat.
"Bukankah itu rusa?" bisik Seo.
"Apa itu enak jika dicampur dengan cendawan?"
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Aku akan memburunya. Kalau tidak enak, aku akan mencari buruan yang lain."
"Jangan lepaskan mangsa yang sudah ada didepan mata."
"Baiklah."
__ADS_1
Kreeeeeekkkkk
Mehru menarik anak panahnya dan mulai membidik dengan satu matanya.
Whussss
Tap
Whusssshhh.
Tap
Rusa itu tergeletak ditempat, Seo berdecak kagum saat melihat kemampuan memanah yang Mehru miliki.
Mehru dan Seo menghampiri rusa itu.
"Mehru. Darimana kamu mendapatkan kemampuan memanahmu itu?"
"Tidak ada. Aku belajar sendiri, dan ini juga panah buatanku sendiri."
"Sungguh?"
"Ya."
"Maukah kau mengajariku memanah?"
"Apa kamu tidak bisa memanah?"
"Tidak. Karena didesa ini untuk mendapatkan daging, orang-orang sudah banyak menjualnya dipasar. jadi tidak perlu lagi lelah berburu."
"Begitu?"
"Lalu orang yang menjual itu mendapatkannya dengan cara apa?"
"Dibantu dengan hewan yang bernama anjing, biasanya saat hewan buruan sudah terkepung, maka mereka bisa langsung menombaknya."
"Apa tidak ada yang menggunakan panah?"
"Ada tapi sangat jarang orang yang memilikinya. Kalaupun ada, kemampuan memanah mereka tidak semahir dirimu."
Mehru menjulurkan busur dan panahnya pada Seo, yang membuat pria itu mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Bukankah kamu ingin belajar memanah? kufikir mumpung kita berada dihutan, kamu bisa menguji kemampuanmu sekarang juga."
"Bagaimana caranya?"
"Aku ingin kamu membidik pohon itu!" tunjuk Mehru pada sebuah pohon yang berukuran sedang.
"Bagaimana kalau meleset?"
"Tidak masalah. Saat pertama kali belajar aku juga melakukan kesalahan itu. Tapi aku terus saja berlatih."
"Baiklah,"
Mehru menuntun Seo untuk mulai meletakkan anak panah diatas busurnya, dan mulai membenahi letak kaki dan tangan Seo yang terlihat kaku.
"Sekarang lepaskan!"
Whussssshhh
Anak panah itu hampir melekat dipohon itu, tapi sayangnya hanya menggores bagian sisi pohon.
"Coba lagi, pusatkan fikiranmu. Anggap sesuatu didepanmu adalah benda yang ingin kamu miliki. Satu lagi, saat melakukannya jangan pernah merasa ragu," ujar Mehru.
Seo kembali membidik pohon itu, dan ...
Whussshhh
Tap
Anak panah itu berhasil mendarat dipohon itu, meskipun tidak berada tepat ditengah pohon dan hanya berada disisi pohon.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote π€π