SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
166. Rencana Berikutnya


__ADS_3

Regent segera melipat surat dari Sarlince. Pria itu kemudian bergegas pergi ke labor raksasa, sesuai perjanjiannya dengan teman-temannya. Setelah sampai di labor raksasa, Vino segera menarik tangan Regent masuk. Dia begitu tidak sabar mendengar cerita dari sahabatnya itu


"Bagaimana? apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Vino.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa kalian sudah menenukan titik akhirnya?" tanya Regent.


"Sudah, tempat itu hanya 32 Km dari pusat kota. Apa kamu sungguh tidak punya kesempatan untuk melihat dengan jelas tempat itu?" tanya Megumi.


"Mobil hanya berhenti sebanyak dua kali. Pertama di Pom bensin, yang kedua sewaktu mampir beli minum di mini market. Pom bensin itu hanya berjarak 10 Km dari apartemen, dan mini market itu berada dijalan Hasanudin. Yang kira-kira berjarak 20 Km dari apartemen. Setelah itu aku tidak tahu lagi,"


"Tapi kalau kalian sudah menentukkan titik terakhirnya itu sangat bagus. Karena ponsel micro itu aku buang setelah memasuki gerbang tempat itu. Saat masuk gerbang itu, aku sudah menghitung jumlah langkah kakiku. Kami berjalan kurang lebih 100 lagkah kaki. Setelah sampai di ditempat tujuan, aku seperti mendengar suara benda yang di geser. Aku tidak tahu itu apa. Apa semacam pintu rumah, atau gerbang lagi barangkali," sambung Regent.


"Tapi ada yang lebih penting dari itu. Saat masuk kesana, tempat itu sangat unik, sangat mewah. Tapi menurutku ada yang aneh dengan bangunan itu. Aku dibawa kesebuah ruangan yang memiliki Ac, tapi disana sama sekali tidak ada pentilasi udara. Hanya ada sekitar 15 benda bulat panjang, yang dilapisi dengan benda berbahan kristal. Dan pintu itu sangat rapat."


"Logikanya seharusnya tempat itu kekurangan oksigen, karena sama sekali tidak ada udara yang masuk disana. Tapi aku bisa bernafas dengan normal disana," sambung Regent.


"Apa Sarlince mengatakan sesuatu?" tanya Megumi.


"Kami tidak bisa bicara berdua saja, selain perdebatan yang tidak penting untuk meyakinkan para iblis itu. Tapi Sarlince menyelipkan surat untukku, meski belum aku baca semuanya. Aku kesulitan membacanya dengan cepat, karena sepertinya Sarlince menulis menggunakan kuas lukis." Jawab Regent.


"Yang pasti dia bilang kalau saat ini dia sedang mengandung anak kami," sambung Regent tersenyum bahagia.


"A-Apa? Sarlince hamil? kamu nggak bohong kan?" tanya Megumi terharu.


Megumi tahu betul penantian ingin memiliki anak sudah sejak beberapa kehidupan. Dia tidak menyangka, kalau Sarlince akan hamil di kehidupan ke 7.


"Iya. Ini suratnya. Coba kamu baca sampai selesai," ujar Regent.


Megumi meraih surat dari Sarlince, dan membacanya dengan teliti.


"Iya ternyata Sarlince memang hamil Sarlince juga bilang, kalau tempat itu didalam bumi. Dan oksigen dihasilkan lewat pipa yang berjumlah 15 buah yang di lubangi dari arah atas," ujar Megumi.

__ADS_1


"Luar biasa. Menurut perkiraanku, berarti ini sejenis banker yangg dibuat dalam perut bumi. Itu artinya sisa dari ujung pipa pasti berada diatas tanah bukan? sayangnya aku tidak bisa melihat dengan jelas waktu itu," ujar Regent.


"Kita harus menyusun rencana dengan matang, saat akan membebaskan Sarlince nanti. Berarti kita harus menemukan ujung pipa itu. benda itu sumber kehidupan mereka bukan? maka kita akan menggunakan itu menjadi salah satu senjata kita," ujar Megumi.


"Kamu hanya akan berperang memantau lewat jaringan. Kamu lagi hamil, aku tidak memperbolehkanmu bertarung secara langsung," ujar Vino.


"Baiklah aku mengerti. Sekarang kapan kalian akan mengintai tempat itu? kalian harus menemukan saluran pipa itu bermuara," tanya Megumi.


"Secepatnya. Tapi kita harus menyamar. Tapi diantara kita nggak ada yang cocok menyamar di tempat itu," ujar Regent.


"Kenapa?" tanya Megumi.


"Kalau menurut perkiraanku, tempat ini pasti sedikit terpencil. Mereka tidak mungkin membuat organisasi orang sebanyak itu, di tempat yang mencolok. Iya kan?"


"Lagipula wajah kita ini kalau menyamar akan cepat ketahuan. Apalagi kalau Martin, Chio, dan Akira. Itu pasti akan cepat ketahuan," sambung Regent.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Megumi.


"Lalu apa solusinya?" tanya Megumi.


"Apa kamu bisa membuat wajah palsu lagi? buat wajah yang benar-benar seperti warga pribumi, agar tidak menimbulkan kecurigaan." Jawab Regent.


"Apa yang mau kamu lakukan dengan wajah orang pribumi itu?" tanya Megumi.


"Kenapa masih bertanya? tentu saja untuk memuluskan rencana penyamaran itu. Aku sendiri yang akan memeriksa keadaan disana. Karena kulitku tidak seputih akira, Martin dan Chio. Jadi akukah yang cocok untuk pergi kesana." Jawab Regent.


" Aku masih tidak mengerti. Apa hubungannya warna kulit dengan misi kita ini?" tanya Chio.


"Kamu akan mengerti nanti." Jawab Regent.


"Kalau begitu kamu harus kembali pergi ke Jepang. Tidak usah terburu-buru seperti kemarin. Sarlince akan baik-baik saja kalau memang dia sedang hamil saat ini," ujar Megumi.

__ADS_1


"Kenapa kamu yakin dia baik-baik saja? ditangan pria tua mesum itu, tentu saja aku merasa tidak tenang," ujar Regent.


"Karena bayi yang dikandung Sarlince bayi spesial. Aku tidak tahu kamu punya tanda itu atau tidak. Tapi yang pasti pria tua itu tidak bisa melakukan apapun disaat dia sedang mengandung seperti itu," ujar Megumi.


"Jadi pergilah ke Jepang dengan tenang. Yakinlah Sarlince akan baik-baik saja," sambung Megumi.


"Baiklah. Aku akan membeli bahan lebih, agar kamu bisa membuat wajah untuk kita semua. Siapa tahu itu akan diperlukan nantinya. Sekarang Akira, lebih baik kamu bersiap. Aku menjanjikan pada Lucia, bahwa kamu akan menjemputnya jam 7 malam. Kamu ingin mengajaknya makan malam di restauran mewah," ujar Regent.


"Oke. Aku pulang dulu ya!" ujar Akira.


Akira kemudian pergi dari labor raksasa itu, dan berencana menjemput Lucia.


"Kamu dimana?" tanya Lucia diseberang telpon.


"Aku ada dibasemant parkir. Aku mau menjemputmu." Jawab Akira.


"Kalau begitu tidak usah menjemputku keatas, biar aku langsung turun kebawah saja. Soalnya aku sudah siap," ujar Lucia.


"Oke." Jawab Akira.


Setelah menunggu hampir 5 menit, Lucia memasuki mobil Akira.


"Sayang. Kita tidak usah pergi saja ya?" tanya Akira.


"Loh kenapa?" tanya Lucia.


"Kamu terlihat sangat menggairahkan. Aku ingin memasukimu sekarang." Jawab Akira.


"Sayang. Tapi ini kan di mobil bagaimana kalau ada yang melihat?" tanya Lucia.


"Apa kamu tidak suka tantangan? lihatlah, dia sudah bangun," Akira dengan tidak tahu malunya mengeluarkan senjata berharganya dari celana.

__ADS_1


Lucia tersipu malu. Namun dia sama sekali tidak bisa menolak, karena dia juga menginginkannya. Akira segera mematikan lampu mobil itu. Dua insan itu menghabiskan malam panas didalam mobil itu.


__ADS_2