SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
61. Kecemburuan Regent


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Vino reservasi private room di restaurant tempat pertama kali kita bertemu dengan Sarlince waktu itu,"


"Ada apa? apa kamu ingin bertemu dengan Sarlince diam-diam lagi?" tanya Vino.


"Bukan aku, tapi kita."


"Kita?"


"Sarlince dan Umi ingin membicarakan sesuatu yang penting katanya. Ngomong-Ngomong bagaimana kemajuan hubunganmu dengan Umi?"


"Ckk...susah sekali ingin mengajaknya berkencan. Dia selalu disibukkan dengan urusan kantornya,"


"Ya sudah. Berarti ini kesempatan buat kamu bertemu dengan dia kan?"


"Benar juga. Ya sudah, aku tutup telponnya,"


Regent kemudian membuat panggilan untuk Sarlince, ketika wanita itu sedang berada dikamar mandi.


"Regent? ada apa dia menelpon Sarlince sepagi ini?" ucap Qiel lirih.


Qiel menggeser tombol penjawab telpon dan langsung berbicara dengan lantang.


"Sa...."


Panggilan sayang untuk Sarlince terhenti saat Qiel dengan suara lantang berbicara dengannya.


"Selamat pagi tuan Regent?"


"Pagi, apa saya bisa bicara dengan Nyonya Sarlince?"


"Bukankah ini hari libur ya? ada apa anda menghubungi istri saya sepagi ini tuan Re-gent?" tanya Qiel dengan penuh penekanan.


"Maaf kalau saya mengganggu. Saya ingin memberitahu Nyonya, bahwa proyek yang dia tangani sedikit terjadi masalah."


"Oh...begitu? nanti akan saya sampaikan, saat ini Aline sedang membersihkan diri. Mungkin sedikit lama disana, dia harus berendam air hangat agar peredaran darahnya kembali lancar setelah menghabiskan waktu semalaman bertempur." Jawab Qiel terkekeh.


"Tentu anda mengertilah sebagai sesama pria dewasa. istriku itu sangat luar biasa saat berada diranjang. Aduh...maaf tuan Regent, seharusnya saya tidak bicara terlalu fulgar dengan pria yang masih lajang sepertimu,"


"Tidak masalah tuan Qiel. Meskipun lajang saya juga sering melakukan hal itu. Jadi S**s bukan hak yang tabu lagi buatku."


"Benarkah? berarti rumor yang kudengar itu tidak benar ya?"


"Tentu saja anda jangan percaya dengan rumor. Ya sudah kalau begitu sampaikan saja apa yang saya katakan tadi dengan Nyonya Sarlince. Saya tidak mau ada kegagalan diproyek itu."


"Tentu. Terima kasih atas informasinya, sepertinya istriku sudah selesai mandi. Kau tahu? aku paling suka berciuman dengannya saat tubuhnya sudah wangi begini," ujar Qiel tertawa.


"Baik. Selamat pagi,"


Tanpa menunggu jawaban dari Qiel, Regent mengakhiri percakapan itu secara sepihak.


"He...mau mencari simpatik Sarlince? jangan mimpi! sebelum aku bercerai darinya, aku ingin bermain sepuasnya dengan wanita itu," ucap Qiel.


Sementara itu tangan Regent sudah melambung diudara bersama ponselnya, Regent hendak menghempaskan benda pipih itu karena terlalu kesal.


"Eittttt...kami mau apa?" tanya Vino yang menghentikan pergerakan tangan Regent di udara.


"Demi Tuhan aku kesal sekali dengan bajingan tengik itu."


"Bajingan tengik siapa yang kamu maksud?"


"Siapa lagi kalau bukan Qiel."

__ADS_1


"Ada apa dengannya? pagi-pagi sudah berhasil membuatmu kesal."


"Dia sengaja ingin membuatku kesal. Dia bilang semalaman menghabiskan waktu bersama Sarlince."


"Hey sadarlah. Dia kan memang suaminya? sudah seharusnya Sarlince melayaninya. Itulah resiko kalau kita menyukai istri orang."


"Apa kamu ingin membuatku panas hati sama seperti bajingan itu?" tanya Regent dengan kesal.


"Ckk...dia yang cemburu, aku yang kena omel." gerutu Vino.


"Tempat itu sudah aku reservasi. Jam berapa kita kesana?"


"11." Jawab Regent.


"Ya sudah nikmati saja dulu rasa kesalmu. Aku mau mandi dulu,"


Regent hanya diam. Fikirannya menerawang karena merasa terganggu dengan ucapan Qiel. Regent jadi membayangkan saat tubuh indah Sarlince meliuk-liuk diatas tubuh Qiel, dan itu membuatnya jadi kesal setengah mati.


"Aline. Aku harus menghukummu, lihat saja, aku akan membuatmu tidak bisa bangun dari tempat tidur," ucap Regent lirih.


Sarlince keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang masih sangat basah.


"Tadi ada orang yang menelponmu," ujar Qiel.


"Siapa?" tanya Sarlince sembari masih mengeringkan rambutnya.


"Regent."


Sarlince menghentikan gerakan tangannya saat nama pria simpanannya disebut. Dia berusaha menetralkan kegugupannya dengan kembali melanjutkan gerakkan tangannya.


"Apa kamu menerima panggilan itu?"


"Ya."


"Dia bilang proyek yang sedang kamu tangani bersamanya terjadi sedikit masalah,"


"Benarkah?"


"Apa itu artinya kamu ingin pergi dihari libur begini?"


"Tentu saja. Proyek itu sangat penting, uang yang akan dihasilkan nilainya ratusan milyar bahkan bisa mencapai triliunan. Kalau proyek ini sampai gagal, perusahaan tidak akan sanggup untuk menutupi biaya kerugian."


Qiel terdiam. Otaknya yang hanya dipenuhi dengan uang dan wanita bekerja dengan cepat.


"Sebaiknya aku biarkan saja dia pergi. Toh aku yang akan menikmati hasil jerih payahnya itu nanti," batin Qiel.


"Bajingan tengik. Jangan kamu fikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu fikirkan saat ini. Berkhayalah sepuas hatimu. Biarkan pundi-pundi uang menari-nari dimatamu, hingga matamu itu menjadi jereng," batin Sarlince.


"Baiklah kamu boleh pergi. Hubungi aku kalau ingin dijemput,"


"Baiklah."


"Apa kamu pergi sendirian?"


"Tidak. Aku akan pergi bersama Umi."


"Baguslah."


"Apa kamu tidak pergi hari ini?"


"Rencananya aku akan pergi dengan temanku untuk membahas kerja sama." Jawab Qiel dengan dustanya.


"Baiklah."


Sarlince segera berpakaian dan menemui Megumi dikamarnya.

__ADS_1


"Apa Vino menghubungimu?"


"Tidak."


"Cepatlah berpakaian kita harus pergi bertemu Vino dan Regent."


"Nona sudah membuat janji dengan mereka?"


"Seharusnya begitu. Tadi Regent menghubungiku, tapi bajingan itu yang menerima panggilan itu. Entah apa yang dia katakan padanya,"


Sarlince segera membuat panggilan untuk Regent, Regent dengan malas menerima panggilan itu.


"Apa kita jadi bertemu hari ini?"


"Ya."


"Jam berapa?"


"11."


Sarlince mengerutkan dahinya saat mendengar Regent menjawab pertanyaannya dengan singkat dan datar.


"Hey... ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Sampai ketemu nanti" ujar Regent dan langsung mengakhiri panggilan itu.


Sarlince melihat layar ponselnya dan panggilan itu benar-benar sudah terputus.


"Ada apa?" tanya Mengumi.


"Pasti ada yang tidak beres. Regent sepertinya sedang marah, tapi apa yang membuat moodnya buruk sepagi ini?"


"Apa mungkin Qiel mengatakan sesuatu?" tanya Megumi.


"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita pergi sekarang saja."


"Baiklah."


Setelah memakan waktu hampir 30 menit, akhirnya Megumi dan Sarlince tiba disebuah Restaurant mewah yang sering mereka kunjungi.


"Ini baru jam 10.30. Kita menunggu dimeja itu saja, ujar Gumi.


"Baiklah."


15 menit kemudian, Regent dan Vino datang menghampiri meja mereka dengan sama-sama berwajah masam.


"Ada apa dengan mereka? sepertinya mood mereka sedang buruk. Apa bisa kita mengajaknya bicara kalau seperti ini?" bisik Sarlince.


"Sepertinya Vino marah denganku, gara-gara sering kali menolak dia untuk mengajakku berkencan," bisik Gumi.


"Kenapa kamu menolaknya? lagipula apa kalian sudah jadian?"


"Aku sangat sibuk dengan urusan kantor. Dia tidak mengatakan apapun, tapi memperlakukanku seolah-olah aku ini kekasihnya."


"Dua pria pemaksa yang aneh."


"Apa kalian sudah puas berbisik-bisik? kalau sudah kita pindah tempat duduk."


"Pindah kemana?" tanya Aline.


"Private room."


Regent dan Vino langsung bangkit dari tempat duduknya, sementara Umi dan Sarlince mengekor dibelakang. Setelah memasuki ruangan itu, suasana mendadak hening. Tak ada satupun dari mereka ingin bicara hingga seorang pelayan mengetuk pintu karena ingin menawarkan buku menu.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2