SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
161. SAH Tapi Palsu


__ADS_3

Apa maksud dari ucapan pelayan itu? kalau orang diatas bumi tidak tahu keberadaan tempat ini, lalu dimana tempat ini? apa ini berada dalam perut bumi? tapi kalau berada dalam bumi, bagaimana cara mereka bernafas? tempat ini harusnya kekurangan oksigen bukan?" gumam Sarlince.


Sarlince tampak mengamati ruangan tempat dirinya berada. ruangan itu tidak ada celah sedikitpun untuk dirinya kabur, termasuk kamar mandi. Hanya benda bulat panjang berjumlah 15 batang yang menjulur dari dindinglah yang menjadi pusat perhatian Sarlince.


"Pelayan itu jelas mengatakan manusia diatas bumi. Berarti lawan kata dari diatas bumi tentu saja dibawah bumi. Tapi yang aku tidak mengerti, bagaimana cara kami bernafas kalau itu benar,"


Sarlince mendekati salah satu sudut kamar yang memiliki 5 batang besi dan tidak bisa dijangkau oleh tangannya. Sarlince kemudian menggeser tempat tidurnya, agar dia bisa berpijak pada tempat tidur itu.


"Sial. Masih kurang tinggi. Aku tidak bisa menyentuhnya. Aku hanya ingin memastikan, apa ada lubang di sisi batang itu? tapi bagaimana caraku menyentuhnya? bahkan sudah berpijakpun masih tidak sampai," gumam Sarlince.


"Tidak ada benda yang bisa kupakai, agar bisa mencapai batang itu. Sebenarnya aku bisa saja memanjat dinding dengan ilmu bela diri. Tapi itu sangat beresiko untuk anakku. Aku harus memikirkan cara lain, agar bisa mengetahui tempat ini. Aku nggak bisa membiarkan diriku berpangku tangan, tanpa berusaha sedikitpun. Apapun peluangnya, aku harus berusaha keluar dari tempat ini demi keselamatan anakku," gumam Sarlince.


Drrrrrrrrttt


Pintu ruangan Sarlince kembali terbuka. Seorang dokter membawa sebuah alat USG yang di design sedemikian rupa. Alat itu bahkan tidak membutuhkan aliran listrik, saat dinyalakan.


"Silahkan anda berbaring Ratu," seorang dokter wanita meraih sebuah botol berisi gel, yang akan dia gunakan untuk memeriksa usia kandungan Sarlince.


Sarlince tidak membantah. Dia juga ingin mengetahui keadaan anaknya. Gel itu terasa dingin menyentuh perut Sarlince. Dokter itu mulai menggeser alat USG dan telihatlah janin Sarlince di layar monitor. Mata Sarlince berkaca-kaca saat melihat hal itu.


"Re. Andai kamu ada sini, lihatlah anak kita Re. Aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita lahir. Aku sangat bahagia sekali sekarang," batin Sarlince.


"Janinnya sehat. Tidak ada masalah," ujar dokter.


"Berapa usia kandungan saya dokter?" tanya Sarlince.


"Kurang lebih 10 minggu." Jawab dokter.


"10 minggu?" Sarlince terkejut.


"Ya." Jawab dokter.


"Ya Tuhan. Berarti selama ini aku sudah hamil? bahkan aku bekerja yang berat-berat terus. Dan tempo hari aku berkelahi dengan para penjahat itu. Untunglah aku pingsan, bagaimana kalau waktu itu mereka sempat menendang perutku?" batin Sarlince.


Membayangkan hal itu, membuat Sarlince takut sendiri.


"Dokter. Bisakah saat anda keluar nanti, panggilkan seorang pelayan untukku?" tanya Sarlince.


"Baiklah." Jawab dokter.


"Terima kasih dok sudah meriksa kondisi anakku," ucap Sarlince.

__ADS_1


"Sama-Sama." Jawab dokter.


"Apa dokter tinggal disini?" tanya Sarlince.


"Tidak." Jawab dokter.


"Lalu dokter tinggal dimana?" tanya Sarlince.


"Aku rasa anda sudah tahu, saya nggak mungkin menjawab pertanyaan dari anda ratu." Jawab dokter.


"Hah. Ya, sesaat aku lupa kalau anda salah satu bagian dari mereka," ujar Sarlince.


"Saya permisi. Nanti akan saya panggilkan pelayan yang ratu ingikan," ucap dokter.


"Baiklah. Terima kasih dok," ucap Sarlince yang kemudian diangguki oleh dokter.


Dokter itu kembali mendorong alat itu keluar, dan Sarlince buru-buru beranjak, sebelum pintu itu benar-benar tertutup. Bisa dia lihat, kalau ruangan diluar sangatlah luas. Namun terlihat gelap, setelah dokter itu meninggalkan tempat itu.


Setelah menunggu beberapa saat, seorang pelayan datang untuk memenuhi keinginan Sarlince.


"Apa Ratu menginginkan sesuatu?" tanya pelayan.


"Ya. Aku menginginkan ayunan yang terbuat dari kain panjang. Aku pengen sekali tidur diayunan. Sepertinya ini keinginan anakku." Jawab Sarlince.


"Silahkan. Aku akan menunggu," ujar Sarlince.


Pelayan itu kemudian keluar, dan pergi melaporkan apa yang menjadi keinginan dari Sarlince. Barulah sore harinya keinginannya itu dituruti. Meski ayunan itu tidak terbuat dari kain panjang, tapi Sarlince bisa memanfaatkan ayunan tali itu untuk memanjat benda bulat panjang itu.


"Aku harus bersabar, aku harus memantau kebiasaan mereka saat menemuiku. Sepertinya aku butuh jam didinding biar aku mengetahui waktu disini," gumam Sarlince.


*****


Keesokkan harinya....


Akira tampak gugup saat ini. Bagaimana tidak? hari ini mereka sedang berada di catatan sipil. Seorang pendeta tengah menikahkan mereka, dan saat ini mereka sudah SAH meskipun palsu.


"Sekarang kamu bawa aku ke rumah kamu ya sayang," ujar Lucia.


"Tidak bisa. Aku sudah menyiapkan apartemen khusus untuk kita," ujar Akira.


"Aku tuh sebenarnya merasa suara kamu berubah deh. Kamu kenapa? sakit?" tanya Lucia.

__ADS_1


"Masak sih? ya mungkin karena ini kebanyakkan nangis." Jawab Akira seadanya.


"Ya sudahlah. Sekarang kita pergi ke apartementnya. Aku sudah tidak sabar menikmati malam pertama kita Re," ujar Lucia.


Akira berpura-pura memasang wajah sedih, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira. Merekapun pergi ke apartemen


"Apa kamu tahu? saat ini aku sedang masa subur. Aku ingin sekali punya anak dari kamu Re," ujar Lucia.


"Ya sudahlah kalau kamu mau cepat dihamili. Aku juga butuh cepat informasi dari kamu tentang Sarlince," ujar Akira sembari menarik tangan Lucia setelah mereka sampai di apartement.


"Aku akan membuatmu melupakan Sarlince. Kamu akan tahu siapa yang lebih bisa menyenangkanmu saat di ranjang," ujar Lucia.


"Buktikan saja," ujar Akira.


Brakkkk


Pintu apartemen segera tertutup. Akira dan Lucia mulai bercumbu sembari menanggalkan pakaian mereka.


"Tunggu! aku ingin kamu mandi dulu Re. Aku juga akan berbenah diri. Ini malam pertama kita, jadi harus spesial bukan?" ujar Lucia.


Akira menuruti saja apa yang Lucia katakan. Dia tidak ingin Lucia curiga. Padahal tanpa Akira tahu, Lucia meletakkan mini cam di kamar itu. Setelah Akira selesai membersihkan diri, Lucia segera beraksi. Akira sangat senang, karena perkataan Lucia tentang keperawanannya benar adanya.


"Ah...Lucia," Akira memejamkan mata saat miliknya sudah terbenam sempurna dibawah sana.


Akira mulai bergerak dan terdengar sudah suara keributan didalam kamar itu. Lucia kini merasa sedang berada diatas angin, karena Akira terlihat sangat menikmati pertempuran mereka. Hingga merekapun mengulang kegiatan itu hingga beberapa kali.


"Puas?" tanya Lucia setelah mereka mengakhiri percintaan itu.


"Sangat puas." Jawab Lucia.


"Apa aku lebih memuaskan dari istrimu itu?" tanya Lucia.


"Ternyata iya." Jawab Akira.


"Lalu untuk apa kamu ingin mencari dia lagi?" tanya Lucia.


"Sarlince sangat kaya raya. Aset yang dia miliki sangat banyak. Kalau itu tidak menjadi milikku, maka akan disumbangkan pada panti sosial." Jawab Akira.


"Benarkah?" Lucia antusias.


"Ya. Aku sudah lelah mengenjarnya dari waktu ke waktu. Aku pikir sudah saatnya aku menikmati hidup yang sebenarnya." Jawab Akira.

__ADS_1


"Aku takut Sarlince tidak kembali, dan hartanya jadi sia-sia. Sekarang kamu mengerti kan? kenapa aku sangat ingin menemukannya? setelah aku berhasil mendapatkan tanda tangannya, kita bisa hidup bahagia bersama anak kita. Kamu kan tahu sendiri, tidak ada pria yang tidak menginginkan keturunan. Sedangkan dia tidak bisa memberikan itu," sambung Akira.


Lucia menyeringai puas setelah mendengar ucapan Akira. Merekapun kembali bertempur setelah beristirahat sejenak.


__ADS_2