
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Mau lagi?" tanya Regent saat Sarlince berada didalam dekapan hangat dada Regent.
Sarlince menggelengkan kepalanya dan memainkan telunjuknya didada bidang pria itu.
"Aku sangat lelah, aku juga sangat lapar. Tadinya aku kesini ingin mengajakmu makan siang bersama sekaligus melepas rindu."
Regent mengerutkan dahinya. Hari ini Sarlince terlihat menjadi orang berbeda. Yang Regent tahu, Sarlince sangat irit bicara dengannya. Wanita itu juga tidak pernah mengungkapkan isi hatinya dengan lugas.
"Sepertinya kamu sudah benar-benar jatuh cinta padaku ya?"
"Emm." Sarlince mengangguk tanpa ragu.
Cup
Regent mengecup puncak kepala Sarlince dengan penuh perasaan.
"Jadi kapan kamu akan menceraikan suamimu itu? dan menikah denganku?" tanya Regent.
"Secepatnya."
"Re... Apa kamu benar-benar tidak masalah kalau kita tidak memiliki keturunan nantinya?" tanya Sarlince.
"Tidak. Kita bisa mempunyai anak dengan cara lain. Tidak harus keluar dari rahimmu bukan?"
"Apa itu artinya kamu akan mencari rahim pengganti?" tanya Sarlince cemas.
"Rahim pengganti apanya. Aku tidak akan menyentuh wanita lain selain kamu. Kita bisa mendapatkan anak dengan cara adopsi."
"Lagipula jangan berfikiran jauh dulu. Belum tentu ketakutanmu itu terjadi. Akan ada keajaiban saat kita mau berusaha. Aku yakin kita bisa menghasilkan anak kita sendiri,"
"Re...jangan pernah khianati aku seperti yang pria itu lakukan. Karena kalau sampai kamu melakukannya, maka aku tidak akan pernah pernah percaya lagi dengan yang namanya cinta."
"Tidak akan. Aku orang pertama mendapatkan hal berharga darimu, maka aku akan bertanggung jawab akan hal itu."
Sarlince mengeratkan pelukkannya dalam dekapan Regent.
"Kita makan siang dulu ya? setelah itu kalau masih mau lanjut juga boleh," ujar Regent sembari terkekeh.
Pukkk
Sarlince memukul dada Regent dengan pelan.
"Apa kamu tidak merasa bosan melakukan hal itu?"
"Kenapa harus bosan? kan enak,"
"Hissstttt bicaramu terlau fulgar tahu tidak?" bibir Sarlince mengerucut.
"Serius. Itulah kelemahanku, kamu tidak selalu berada disisiku selama 24 jam. Seandainya begitu, tentu aku akan memintanya seperti kita minum obat."
"Minum obat?"
"Ya. Minimal 3 kali sehari aku akan memintanya." Jawab Regent terkekeh.
Sarlince langsung bangkit dari tempat tidur dan membersihkan diri didalam kamar mandi. Saat keluar, Sarlince terlihat sudah rapi berpakaian.
"Cepat bersihkan dirimu, aku menuggumu diluar. Aku membawa makan siang untuk kita,"
"Apa tidak mau sekali lagi? aku pengen satu ronde lagi," rengek Regent.
__ADS_1
"Aku lapar."
"Ha...baiklah," Regent menghela nafas dan pergi kekamar mandi.
Sarlince menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Regent yang kekanakan. Sarlince menuangkan makanannya kedalam piring, dan menatapnya dengan lesu.
"Ada apa? kenapa menatap makanan itu dengan muram?"
"Makananya sudah dingin. Aku tidak bernafsu lagi memakannya."
"Apa kamu mau kita makan dikantin?"
"Bolehkah?" tanya Sarlince antusias.
"Tentu saja boleh. Kamu boleh memakan apa saja yang ada disana."
"Aku ingin makan sosis jumbo dan juga batagor."
"Boleh."
Sarlince dah Regent pergi kekantin bersama. Regent memesan 4 buah sosis jumbo dan dua porsi batagor. Regent menatap Sarlince begitu lahap memakan sosis dan sesekali mencocolnya dengan kuah kacang dari batagor.
"Pelan-Pelan. Apa kamu begitu sangat lapar? ***** makanmu besar sekali," ujar Regent.
"Emm...aku memang sangat lapar. Terlebih makanan ini juga enak."
"Makanlah sepuasmu."
Dari kejauhan Lucia yang melihat hal itu tidak menyiakan kesempatan untuk memotret moment itu. Bahkan dia sempat memotret adegan saat Regent mengelap sisa saus yang belepotan dibibir Sarlince.
"Aku yakin skandal ini akan heboh dimedia. Dan wanita itu akan diceraikan oleh Qiel. Kemudian kariernya akan hancur," ujar Lucia sinis.
"Apa kamu tidak menginginkan sosismu?" tanya Sarlince.
"Kamu mau lagi? makanlah," ujar Regent.
"Apa aku seganas itu, sehingga membuat tenagamu terkuras?"bisik Regent.
"Kamu selalu begitu saat melakukannya. Bahkan aku selalu menggunakan alat pijat dirumah, karena pinggangku terlalu pegal." Jawab Sarlince hingga membuat Regent terkekeh.
"Tapi kamu menyukainya bukan?"
Sarlince menghentikan makannya dan menatap pria dihadapannya.
'
"Kenapa kamu menatapku begitu? aku jadi gugup,"
"Aku menyukai apapun caramu mencintaiku, menyentuhku, bahkan memanjakanku. Re...aku harap kamu tidak akan berubah kedepannya."
Regent membingkai senyuman dibibirnya.
"Berhentilah berkata-kata manis yang membuatku akan memakanmu disini. Cintaku padamu sudah mendarah daging, jadi tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."
"Apa itu termasuk Mehru?"
Regent menghentikan gerakan tangannya saat Sarlince menyebutkan nama gadis yang pernah dicintainya itu.
"Bagaimana kalau suatu saat kamu berhasil menemukannya dan dadamu kembali berdebar-debar?" tanya Sarlince.
"Aku tidak tahu bertemu dengannya akan membuatku berdebar atau tidak. Yang pasti debaran itu sangat terasa saat aku bertemu denganmu, baik pertama kali ataupun detik ini."
"Ternyata ikatan batinnya denganku sangat kuat. Bahkan jantungnya berdebar saat pertama kali kami bertemu, padahal dia belum tahu kalau aku ini adalah gadis yang dia cari." batin Sarlince.
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia mengungkapkan perasaannya padamu?"
"Itu tidak mungkin. Mehru bukan tipe wanita yang mudah menyatakan perasaannya."
"Sepertinya kamu tahu betul tentang dia."
"Tentu saja. Aku mengenalnya bukan sehari dua hari tapi ri...."
Kata-Kata Regent terhenti saat dirinya hampir keceplosan.
"Sudahlah, kenapa jadi membahas dia."
"Kamu pasti sangat mencintainya dulu,"
"Ya. Tapi selalu direbut oleh orang lain."
"Direbut oleh orang lain?"
"Ada hal yang terjadi waktu itu, hingga disetiap pertemuan kami dia selalu melupakan aku seutuhnya. Dan aku selalu tidak berdaya dan hanya berani menatapnya dari kejauhan."
Sarlince menatap wajah mendung Regent. Bisa dia rasakan, kalau rasa cinta yang Regent miliki sangat dalam.
"Re...aku dan Umi perlu bicara serius denganmu. Kapan kamu memiliki waktu luang?"
"Hari libur saja. Kita bertemu di Kafe pertama kali kita bertemu,"
"Oke."
"Apa yang ingin kalian bicarakan?"
"Ini sangat serius. Hanya kita berempat yang boleh membahas hal itu."
"Berempat?"
"Ajaklah Vino."
"Oke."
*****
"Siapa anda? ada kepentingan apa?" tanya Qiel.
"Aku Marcus. Aku ingin menawarkan kerjasama dengan anda."
"Kerjasama apa?"
"Ini tentang anda yang ingin menguasai harta Hadinata."
Qiel tertegun saat mendengar perkataan pria dihadapannya. Pria itu terlalu berterus terang tanpa basa basi sedikitpun.
"Saya tahu anda menginginkan seluruh aset Hadinata bukan? saya bisa membantu mewujudkan itu semua tanpa bersusah payah."
"Apa yang anda inginkan?"
"Sarlince." Jawab Marcus.
"Sarlince?"
"Ya. Aku ingin kamu menukar semua aset Hadinata dengan Sarlince istrimu itu. Bukankah kamu juga tidak terlalu menginginkan dia. Dia hanya kamu jadikan alat pemuas diranjangmu saja bukan? bahkan kamu berhubungan dengan wanita lainnya diluar sana."
"Siapa anda sebenarnya? kenapa anda bisa tahu tentang semua rencanaku."
"Itu tidaklah penting. Yang penting kamu bersedia menceraikan Sarlince setelah mendapatkan seluruh aset Hadinata."
__ADS_1
Qiel tampak berfikir keras. Baginya kehilangan Sarlince bukan masalah untuknya. Dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan setelah semua aset Hadinata berhasil dia kuasai. Akhirnya Qiel menjabat tangan Marcus tanda deal setuju.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏