
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Sudah 2 minggu sejak Hideo bangun dari koma, kini pria itu sudah boleh keluar dari rumah sakit dengan catatan harus sering mengontrol lukanya. Hideo yang kurang betah suasana rumah sakit dan juga bau obat, memaksa ingin segera pulang kerumah. Setelah menandatangani surat pulang paksa, Hideo akhirnya bisa bernafas lega dan bisa kembali kerumahnya sendiri.
"Nenek tidak kuat lagi kalau harus pergi dengan perjalanan jauh begitu. Kalian carikan saja nenek seorang pelayan, untuk menjaga nenek selama kalian pergi." Jawab Azuzi ketika Hideo dan Yayoi mengajak wanita renta itu untuk pergi ke negara I.
"Tapi Aku tidak tenang meninggalkan nenek sendiri disini."
"Itukah sebabnya nenek memintamu untuk mencarikan nenek seorang atau dua orang yang bisa menemani nenek selama kalian pergi. Yakinlah, nenek pasti akan baik-baik saja."
"Baiklah kalau nenek menginginkan itu."
"Tapi tentu saja nenek ingin upah yang setimpal."
"Upah setimpal?"
Pandangan mata Azuzi berpindah menatap Yayoi, dan kemudian menggenggam erat tangan gadis itu.
"Yoi. Nenek tahu Hideo tidak lagi sempurna seperti dulu. Dia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, termasuk satu tangannya. Tapi Yoi, nenek berharap Hideo tidak kehilangan kamu juga. Maukah sebelum kalian pergi, kamu menikah dengan Hideo?"
Yayoi melihat kearah Hideo, pria itu sedikit harap-harap cemas, karena takut Yayoi menolak dan akan membuat Azuzi bersedih.
Namun sesaat kemudian Yayoi mengembangkan senyumnya dan kemudian mengangguk.
Azuzi langsung memeluk Yayoi dan berterima kasih pada gadis itu.
"Kalau begitu Hideo akan mengurus pernikahan kalian, nenek ingin 3 hari lagi kalian harus sudah sah menjadi pasangan suami istri."
"Kalian duduk manis saja, biar aku dan suamiku yang mengurus pernikahan kalian. Aku pastikan kalian akan menikah 3 hari lagi," ujar Sarlince yang baru tiba di kediaman Hideo.
"Aline, Regent, terima kasih atas semua bantuan kalian," ujar Hideo.
"Jangan sungkan. Itulah gunanya punya teman bukan?" ucap Regent.
"Kemarilah, nenek ingin tahu seperti apa negara kalian itu," ujar Azuzi.
Sarlince dan Regent duduk disebuah kursi kayu dan berbincang banyak hal. Sarlince menceritakan banyak hal tentang negara I, baik budaya maupun orangnya. Azuzi sesekali mengangguk, mendengar cerita Sarlince Azuzi bisa bernafas lega dan tidak khawatir jika harus melepaskan Yayoi dan Hideo disana.
"Nenek sangat berharap tangan buatanmu bisa nenek lihat saat Hideo kembali,"
"Aku berjanji akan membuatnya dengan cepat, agar nenek bisa menyaksikan Hideo bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala."
"Beruntung sekali Hideo punya teman yang tulus seperti kalian, padahal kalian orang baru dalam hidup Hideo dan Yayoi."
"Semua yang terjadi pada kami pasti Tuhan punya alasannya bukan? dan alasan pertama yang bisa kita rasakan saat ini adalah, kita seperti memiliki keluarga baru yang perduli dengan kita."
__ADS_1
"Kamu benar. Apapun yang terjadi pasti ada alasan dibalik semua ini. Nenek titip Hideo dan Yayoi selama mereka disana."
"Tentu. Nenek tidak usah khawatir,"
Seperti janji Sarlince pada Azuzi, Yayoi dan Hideo, Sarlince dan Regent sudah mengurus semua dokument pernikahan antara Yayoi dan Hideo. Meskipun pernikahan itu hanya digelar sederhana, namun Azuzi sangat bahagia melihat sang cucu akhirnya melepas masa lajangnya.
"Selamat untuk kalian berdua, aku beri waktu 3 hari untuk kalian berbulan madu dirumah. Setelah itu kita akan berangkat ke negara I," ujar Sarlince.
"Ckk...tidak usaha bahas masalah itu, bulan madu bisa dilakukan nanti-nanti saja, kita bisa berangkat besok pagi." Jawab Hideo.
"Dasar pria tidak peka. Kamu tidak ingin karena kamu sudah sering melakukannya, tapi Yayoi? kamu tidak ingin memberikan hak nya?"
"Sarlince apa yang kamu katakan," wajah Yayoi bersemu merah.
"Kamu mau?" goda Hideo.
"Mau apa?" tanya Yayoi bingung.
"Mau yang dibilang Sarlince tadi."
"Berhentilah menggodaku," ujar Yayoi
Sarlince, Hideo dan Regent terkekeh saat melihat rona malu diwajah Yayoi.
Tang ting
Tang ting
Hideo mendorong mangkok dan sumpitnya kearah depan, pertanda dirinya sudah mengakhiri makan malamnya. Pria itu tampak mencabut beberapa lembar tisu dan mengusapkannya kesudut bibir.
Setelah selesai makan, Yayoi bergegas membawa peralatan makan yang kotor kedapur dan segera mencucinya.
"Tidak buruk bukan punya istri? dia bisa melayani dan mengurusmu dengan baik. Jangan sakiti dia, kalian punya nasib yang tidak jauh berbeda. Jadi nenek minta untuk kedepannya kalian harus saling menyayangi" ujar Azuzi.
"Iya."Jawab Hideo singkat.
Hideo menoleh kearah Yayoi yang terlihat sibuk mengelap piring, mangkok maupun gelas.
"Nenek pergi kekamar dulu, rasanya lelah sekali hari ini."
"Ya."
Hideo mendekati Yahoi yang tengah menyusun peralatan makan diatas rak piring.
Greppppp
Hideo tiba-tiba memeluk Yayoi dari belakang dengan satu tangannya. Yayoi Yang sudah hafal aroma tubuh Hideo, tidak terkejut lagi namun wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?"
"Emm." Yayoi mengangguk.
"Terima kasih sudah mau jadi istriku,"
Yayoi berbalik badan dan mengalungkan kedua tangannya pada leher kekar pria itu.
"Aku yakin kita sama-sama bisa saling membahagiakan," ucap Yayoi.
Hideo menyelipkan anak rambut Yayoi kebelakang telinga wanita itu, Hideo menarik dagu Yayoi dan kemudian mencium lembut istrinya itu. Yayoi kemudian memejamkan matanya dan membalas ciuman yang kian lama kian panas itu.
Hah
Hah
Hah
Hideo yang sudah terbakar gairah langsung menarik tangan Yayoi untuk naik keatas.
"Bantu aku melepas bajuku," ujar Hideo.
Meskipun malu, Yayoi menuruti keinginan Hideo. Yayoi kemudian melepas pakaiannya sendiri sembari mereka kembali bercumbu mesra.
"Ah...."
Yayoi tak bisa mengontrol suaranya lagi saat Hideo sudah bermain dipuncak dadanya, dan setelah itu membenamkan diri dibawah sana.
"Emmpppttt"
Yayoi menutup mulutnya sembari terpejam, saat sesuatu berusaha menerobos pertahanannya. Hideo sangat bahagia, karena Yayoi ternyata gadis yang masih bersegel.
"Apa masih sakit?"Bisik Hideo saat benda kebanggaannya sudah menyeruak sempurna kedalam sana."
"Sedikit,"
"Aku akan melakukannya dengan lembut,"
"Emm." Yayoi mengangguk.
Meski dengan menggunakan kekuatan satu tangannya, Hideo mampu membuat Yayoi bersuara merdu, dan berkali-kali mendapatkan pelepasan. Percintaan panas itu bahkan terjadi berulang-ulang karena Hideo yang sudah terlatih tidak puas jika hanya melakukannya satu kali.
"Lagi?" tanya Hideo.
Yayoi menggeleng cepat, tubuhnya benar-benar lelah dan kehabisan tenaga. Sementara itu Hideo tersenyum puas dan merasa bangga, karena meskipun dirinya saat ini memiliki kekurangan, tapi dalam hal satu itu dia sangat membanggakan. Malam ini Hideo melepaskan Yayoi setelah 3 kali mengulang percintaan panas. Hideo mengerti ini kali pertama untuk Yayoi, jadi dia tidak ingin membuat Yayoi kesakitan.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1