SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
108. Tersadar


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Mehru membuka matanya perlahan, suasana tampak hening. Tak ada seorangpun yang berada disisinya saat ini.


"Apa aku sudah mati dan sedang berada dialam lain?" ucap Mehru lirih.


"Tapi sepertinya ini masih berada dalam gubuk sekolah."


Mehru perlahan bangkit dari tidurnya, dan merasakan sakit disekujur tubuhnya karena terlalu lama berbaring.


Sayup-Sayup Mehru mendengar suara-suara berisik dari arah tempat biasa Tabib Cheng membagikan ilmunya.


"Sudah berapa lama aku tertidur? aku pasti banyak meninggalkan pelajaran dari suhu, ini sangat rugi. Aku harus cepat-cepat menyusul ketertinggalanku."


Mehru menoleh kearah busur dan panah miliknya dan milik Kheiren.


"Kheiren..."


Mehru tiba-tiba mengingat kejadian terakhir kali yang menyebabkan dia muntah darah dan tidak sadarkan diri.


"Tidak mungkin Kheiren yang melakukannya. Aku mengenal Kheiren dengan baik, pasti ada orang yang sudah menukar obatnya atau sengaja mencampurkan jenis obat lain kedalam ramuan yang Kheiren buat."


"Kheiren membuat ramuan itu sejak hari pertama aku sakit, lalu kenapa dia harus meracuniku di hari ketiga? pasti ada yang salah disini, kasihan Kheiren dia pasti sangat ketakutan.


Mehru perlahan berjalan kearah tempat Tabib Cheng mengajar, meski jalannya sedikit sempoyongan dan berwajah pucat, Mehru tetap menyeret langkahnya kesana.


Krieeeeekkkk


Mendengar suara pintu terbuka, semua mata tertuju pada sosok Mehru yang berdiri didepan pintu dengan wajah yang pucat.


"Mehru," ucap Tabib Cheng.


Pria tua itu mengulas senyum dibibirnya, dia senang karena salah satu murid kesayangannya sudah tersadar dari tidur panjangnya. Tidak jauh berbeda dengan tabib Cheng, mata Kheiren berkaca-kaca saat melihat kehadiran Mehru dihadapan mereka, begitu juga dengan Galeo.


"Kemarilah," ujar Tabib Cheng.


Perlahan Mehru menyeret langkah kakinya menuju kedepan dan mendekati tabib Cheng.


"Duduklah, apa kamu benar-benar sudah sehat Hem?"


"Aku jauh lebih baik suhu. Aku tahu ini pasti berkat pertolongan dari suhu. Aku ucapkan terima kasih."


"Aku senang kamu kembali lagi, kamu bisa menimba ilmu kembali."


"Berapa lama aku tertidur suhu?"


"Hampir satu pekan."


Mehru tiba-tiba memasang wajah murung.


"Ada apa?"


"Berarti sudah sepekan pula aku tidak mendapatkan ilmu dari Suhu,"


Tabib Cheng tertawa keras mendengar ucapan Mehru. Pria tua itu tahu, Mehru memang seorang murid yang sangat giat belajar. Itulah sebabnya kemampuan dalam meracik obat dan membantu orang menyembuhkan penyakit tidak perlu diragukan lagi. Malah terkadang tabib Cheng mendapat ilmu baru yang tak terduga dari Mehru.


"Teman-Temanmu akan memberitahumu ilmu apa saja yang harus kamu kejar selama sepekan ini. Atau kamu bisa langsung mendatangiku saat malam hari,"

__ADS_1


"Baik suhu."


"Sekarang kamu pergi beristirahat saja, besok kamu baru bisa mengikuti pelajaran. Tunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih kembali."


"Baik suhu."


Mehru melirik kearah Kheiren, tapi Kheiren malah menundukkan wajahnya. Gadis itu takut Mehru akan marah padanya dan menuduhnya yang tidak-tidak. Mehru menyunggingkan senyumnya saat Kheiren kembali melihat kearahnya, dan seketika mata Kheiren berbinar. Gadis itu seolah tahu, Mehru sama sekali tidak menyalahkannya dalam arti Mehru masih mempercayainya.


"Mehru,"


Kheiren berhambur kepelukkan sahabatnya itu, sesaat setelah dirinya menyudahi pelajaran dari tabib Cheng. Kheiren seakan tidak sabar ingin menemui sahabatnya itu digubuk mereka. Kheiren menangis terisak.


"Sudahlah, aku tahu ini bukan perbuatanmu."


Kheiren melerai pelukkannya dari tubuh Mehru.


"Maafkan aku Mehru, aku gagal menjagamu dengan baik, aku juga belum menemukan pelaku sebenarnya. Aku memang teman yang buruk."


"Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri. Asalkan itu bukan kau, maka tidak perlu khawatir."


"Tapi bagaimana bisa kamu seyakin itu? bukankah aku yang membuat dan memberikan ramuan itu padamu?"


"Aku mengenal sifat dan watakmu sejak lama. Bahkan kita pernah satu kehidupan di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang bisa mengenalmu sebaik aku. Tidak ada untungnya kamu menghianatiku, karena tujuan kita adalah sama."


"Mehru, terima kasih sudah percaya padaku. Entah siapa sebenarnya yang tega ingin melenyapkanmu. Kalau aku tahu orangnya, aku akan memaksanya minum racun yang sama."


"Sudahlah, tidak perlu dendam berlebihan. Yang terpenting aku sudah sehat sekarang, kedepannya kita harus lebih berhati-hati."


"Emm." Kheiren mengangguk.


Tok


Tok


Mehru bisa melihat dari celah pintu kedatangan teman-temannya itu.


"Biarkan mereka masuk Kheiren," ucap Mehru.


"Masuklah!" ujar Kheiren.


"Mehru," sapa Seo dan langsung mendekati Mehru sembari menggenggam erat tangan gadis itu.


Greeett


Tangan Galeo terkepal, karena Seo lebih dulu mengambil hati gadis pujaannya.


"Apa kamu sudah baik-baik saja? apa yang kamu rasakan saat ini? apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Aku baik-baik saja, aku tidak menginginkan apapun saat ini." Jawan Mehru.


"Maaf kami belum bisa menemukan pelakunya. Kamu juga harus cepat pulih, kurang dari dua bulan, suhu akan mengadakan sebuah ujian khusus untuk kita."


"Ujian?"


"Ya. Semacam ujian akhir untuk para calon tabib."


"Ujian akhir? apa itu artinya kita akan selesai belajar disini?"


"Bisa dibilang begitu,"

__ADS_1


"Sayang sekali," ucap Mehru lirih.


"Kenapa?"


"Aku masih belum puas belajar dan mendapatkan ilmu yang lebih dari suhu. Aku yakin suhu masih banyak ilmu yang dia sembunyikan."


"Suhu bilang, sebagai hadiah untuk para Calon tabib yang memiliki nilai tertinggi, suhu akan memberikan sebuah kitab kuno, yang berisi cara pengobatan dan resep ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Dengan mendapat hadiah itu, sudah dipastikan orang itu akan menjadi tabib tersohor."


"Benarkah?"


"Ya. Itulah kenapa tiap murid akhir-akhir ini sangat rajin berlatih dan giat belajar. Kamu harus cepat pulih, agar kamu bisa mendapat hasil ujian yang baik."


"Besok aku akan mulai mengikuti pelajaran."


"Bagus."


"Mehru," Galeo mendekati Mehru dan mencoba mengalihkan perhatian gadis itu padanya.


Mehru menoleh kearah Galeo dan memberi senyum manis pada pemuda itu.


"Apa kau sudah tidak marah lagi padaku?"


"Aku tidak pernah marah padamu,"


"Baguslah. Aku tidak ingin kehilangan satu teman, hanya karena aku memperoleh satu teman yang lebih khusus."


"Bagiku keselamatanmu diatas segalanya dari perasaanku. Aku akan mendukung apapun keinginanmu,"


"Terima kasih. Aku tahu kamu orang yang baik,"


"Mehru, aku perlu bicara berdua denganmu," timpal Seo yang tak mau kalah.


Teman-Teman Mehru yang mengerti, langsung keluar dari gubuk itu untuk memberikan Seo kesempatan bicara.


"Ada apa?"


"Sehari setelah kau tidur, aku mengirimkan pesan untuk orang tuamu karena aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Dan hari ini pedagang yang menyampaikan pesan sudah datang menemuiku."


"Pesan apa yang kau sampaikan?"


"Aku ingin menikahimu disini dan mengharapkan kehadiran mereka."


"Lalu apa jawaban orang tuaku?"


"Mereka tidak bisa hadir, tapi mereka bilang setelah kita menikah, kita bisa mengunjungi mereka dan mengadakan perayaan disana."


"Benarkah?"


"Iya. Mehru, aku terpaksa mengmbil keputusan mengirim pesan itu tanpa sepengetahuanmu. Itu karena aku sangat takut kehilanganmu,"


"Tidak apa, kalau begitu kita bisa menikah setelah selesai ujian."


"Baiklah. Sekarang sebaiknya kamu beristirahat saja,"


"Emm."


"Aku kembali ke gubukku dulu,"


"Ya."

__ADS_1


Seo keluar dari gubuk Mehru, saat berbalik dia menyunggingkan senyum misteriusnya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2