
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Kak. Jangan seperti ini, nanti ada yang masuk."
Sarlince berusaha keras melepaskan diri dari Qiel, namun Qiel seolah tuli dan mulai mencumbu Sarlince di ceruk leher wanita itu hingga meninggalkan bekas merah.
Qiel yang mulai terbakar gairah, dengan tidak sabar membuka kancing baju Sarlince bagian depan, namun sekuat tenaga Sarlince mempertahankannya agar Qiel tidak tahu didalamnya terdapat banyak bekas tanda percintaannya dengan Regent.
Kriekkkk
Regent yang semula masuk dengan senyum terbaiknya, mendadak wajahnya memerah saat melihat adegan didepan matanya.
"Lancang!" hardik Qiel yang membuat Sarlince menoleh kearah pintu.
Wajah Sarlince mendadak takut, bukan dia takut karena teriakkan Qiel, tapi dia takut Regent akan kembali salah faham padanya. Sarlince bergegas turun dari pangkuan Qiel, dan membenarkan kembali pakaiannya yang sudah sedikit kusut.
"Ini bukan salah tuan Regent kak, aku memang mengundangnya datang kemari."
"Kamu mengundangnya? untuk apa?"
"Ini tentang proyek yang kami tangani bersama. Itulah sebabnya aku ingin mengatakan hal itu padamu, tapi kamu malah..."
"Kalau begitu kalian bicara saja, aku akan mendengarkan apa yang ingin kalian bahas."
"Sepertinya saya datang diwaktu yang tidak tepat, kalau begitu kita bisa bicarakan lain kali saja Nyonya Qiel."
Sarlince sedikit menggelengkan kepalanya untuk memberikan kode pada Regent agar jangan meninggalkannya bersama Qiel yang mesum. Namun karena rasa cemburu lagi, ditambah Regent melihat tanda merah dileher Sarlince, Regent lebih memilih pergi daripada harus bertahan.
"Tunggu tuan Regent!"
Sarlince berusaha mengejar Regent kearah pintu, tapi Regent sama sekali tidak memperdulikan panggilannya, terlebih Qiel sudah menarik tangannya hingga dia terjatuh kembali dipangkuan pria itu.
"Jangan mengejarnya, aku bisa mengira kalau kalian punya hubungan spesial dibelakangku."
"Qiel. Dengarkan aku baik-baik, hal yang ingin aku bicarakan ini sangat penting, jadi kamu harus mendengarkanku dulu,"
Sarlince beranjak segera dari pangkuan Qiel dan mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya.
Plakkkk
Sarlince melempar surat dari pengadilan diatas meja, tepat didepan Qiel. Qiel mengerutkan dahinya saat melihat amplop berwarna coklat dan mempunyai kop surat disana.
"Apa ini?"
"Kamu bisa membacanya sendiri."
Qiel perlahan membuka isi amplop itu, dan matanya terbelalak saat membaca bahwa surat itu berasal dari pengadilan, dan Sarlince sudah mengajukan gugatan perceraian untuknya.
"Apa maksudnya ini?"
"Disitu sudah tertulis jelas, bahwa aku menggugat cerai dirimu."
__ADS_1
"Apa kau sudah gila? selama ini kita baik-baik saja, kenapa kamu tiba-tiba ingin meminta cerai dariku?"
"Mungkin menurutmu kita baik-baik saja selama ini, tapi tidak denganku. Aku tidak mencintaimu,"
Qiel tertawa cukup keras, baginya ucapan Sarlince terdengar seperti lelucon.
"Kamu ini ada-ada saja, aku tahu betul kamu itu sangat tergila-gila padaku."
"Mungkin itu dulu, tapi sekarang tidak lagi. Jangan kamu kira aku tidak tahu tujuanmu datang kemari, aku sarankan cepatlah bangun dari mimpi indahmu,"
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kamu datang kesini ingin membujukku menyerahkan perusahaanku? aku sudah tahu perusahaanmu dan papamu sudah bangkrut sekarang. Kamu mendatangiku, hanya takut jatuh miskin dan hidup dijalanan."
Wajah Qiel menggelap, dia tidak mungkin mundur lagi setelah sampai ketahap ini. Munculah ide gilanya tiba-tiba.
"Baiklah, aku setuju bercerai denganmu. Tapi sebelum aku menandatanganinya, maukah kau tidur denganku untuk terakhir kalinya? aku tahu kamu tidak ingin punya suami miskin sepertiku, jadi paling tidak kita melakukannya karena mengingat hubungan baik kita selama ini."
Sarlince tersenyum sinis kearah Qiel.
"Maaf aku tidak bisa melakukan itu denganmu,"
"Kenapa?"
"Tentu saja aku tidak berselera berhubungan dengan pria miskin seperti dirimu," hina Sarlince.
"Apa kamu fikir, setelah kamu mengatakan tidak , lalu aku akan menyerah begitu saja?"
"Tentu saja aku tahu. Pria tidak tahu malu sepertimu dan Papamu, akan melakukan apa saja demi tujuan kalian tercapai."
Qiel yang bermaksud ingin menodai Sarlince secara paksa, harus menerima tendangan akurat diselankangannya yang membuat Qiel jatuh terguling menahan sakit.
"Sebaiknya cepat kamu tanda tangani surat cerai itu, mungkin aku akan berbaik hati membagi sedikit harta untukmu membuka usaha."
Mendengar itu sakit yang Qiel rasakan mendadak hilang.
"Apa itu artinya kamu akan memberikan harta gono gini untukku?"
"Apa kamu fikir kamu layak?"
"Jadi harta apa yang kamu maksud."
"Muluskan dulu perceraian kita, maka aku akan mulus pula memberikan bagianmu. minimal fikirkan mamamu, kalau sampai kamu hidup dijalanan."
Qiel dengan terpaksa menandatangani surat perceraian itu. Namun otaknya masih bekerja, dia memikirkan caranya agar bisa merebut perusahaan Sarlince.
"Aku menurut saja saat ini, sepertinya aku harus menemui orang itu, bukankah dia sudah menjanjikan akan membantuku mengambil seluruh aset Hadinata asal aku membantunya menyerahkan Sarlince ketangannya?"
"Saat ini Sarlince sudah tidak bisa lagi aku tangani, mungkin dengan bantuan orang itu aku baru bisa menguasai seluruh aset Hadinata. Aku tidak perduli lagi tentang wanita ini, saat aku kembali kaya nanti, aku akan mendapatkan wanita yang jauh lebih dari dia,"
Sarlince menyeringai, saat dia sudah berhasil mendapatkan tanda tangan dari Qiel.
"Terima kasih sudah bekerja sama. Sebaiknya kamu pulang saja, aku sangat sibuk hari ini,"
__ADS_1
Qiel mengepalkan tangannya karena merasa Sarlince benar-benar tidak memberikan muka padanya. Pria itu keluar ruangan dengan sedikit membanting pintu.
Sarlince yang melihat Qiel sudah pergi, dengan cepat membuat panggilan untuk Regent, namun pria itu sama sekali tidak mau mengangkat telponnya.
Sarlince segera menyambar kunci mobilnya dan pergi menuju kantor Regent.
"Vin, Apa Regent ada diruangannya?" tanya Sarlince saat bertemu Vino di lobby.
"Ada. Kalian kenapa lagi? kenapa dia datang dengan mood yang buruk?"
"Sebaiknya aku langsung menemui Regent saja,"
"Silahkan. Hati-Hati, disaat seperti itu dia suka hilang kendali."
"Emm." Sarlince mengangguk.
Sarlince bergegas masuk kedalam lift, dia tidak ingin membiarkan masalahnya berlarut-larut.
Kriekkkk
Sarlince masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dapat Sarlince lihat kondisi lantai yang berantakan. Sepertinya Regent melampiaskan amarahnya pada barang-barang itu.
Sarlince menghela nafas panjang, wanita itu kemudian merapikan ruangan itu hingga kembali rapi seperti semula. Setelah itu Sarlince perlahan masuk keruang pribadi Regent yang tampak gelap gulita.
Jeglekkk
Sarlince menekan saklar dan lampu diruangan itupun menyala. Regent terlihat meringkuk didalam selimut dengan pakaian yang teronggok dilantai.
Sarlince masuk kedalam selimut dan memeluk Regent dari belakang.
Blammmm
mata Regent terbuka saat merasakan ada tangan yang melingkar ditubuhmya, dan terlebih ada aroma khas dari tubuh Sarlince.
"Pergilah, aku tidak ingin kamu ada disini. Bukankah tadi kamu baru ingin melakukan sesi bercinta dengan suamimu itu? atau barangkali saat ini kalian baru sudah puas melakukannya."
Sarlince menyunggingkan senyumnya, dia sama sekali tidak mengambil hati ucapan Regent, karena dia tahu kekasihnya itu sedang cemburu lagi padanya.
"Kamu salah faham lagi padaku seperti kemarin-kemarin."
"Mana aku tahu, barangkali kamu juga menikmatinya saat dia membuat tanda merah dilehermu."
"Maaf itu diluar kendaliku, aku sudah berusaha menghindar, kamu tidak tahu betapa pemaksanya pria mesum itu."
Sarlince membuat dirinya berada diatas tubuh Regent, pria itu menatap wajah Sarlince masih dengan tatapan marah.
"Aku hanya mencintaimu, tolong kamu juga harus mengerti situasi yang sedang aku hadapi selama ini."
Brukkkk
Regent membuat Sarlince berada dibawah kungkungannya.
"Jangan kamu mengira aku tidak pernah memahamimu, kalau tidak bagaimana mungkin aku jadi pria simpananmu yang selalu kamu duakan."
__ADS_1
Regent dengan tergesa-gesa menanggalkan sisa pakaiannya, begitu juga dengan Sarlince. Diluar dugaan Sarlice, Regent malah langsung menghujamkan miliknya tanpa perasaan hingga membuat Sarlince kesakitan. Regent memompa dengan cepat dan kasar, bahkan pria itu tidak perduli dengan air mata yang sudah mengalir deras dipipi Sarlince.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏