
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Siren bangun lebih dulu dari ketiga pria yang ada disekitarnya. Gadis itu segera membersihkan diri agar membuat dirinya kembali segar. Setelah itu dia mencabut umbi-umbian dan merebusnya untuk sarapan pagi.
Mata Dean terbuka saat mencium aroma dan mendengar ada suara ranting yang terbakar. Dapat Dean lihat, sosok berpunggung halus sedang membelakangi dirinya. Dean membingkai senyum dibibirnya saat melihat sosok gadis yang dicintainya itu.
"Apa yang kamu masak?" tanya Dean sedikit mengejutkan Siren.
"Eh? umbi-umbian. Kamu sudah bangun? sebaiknya langsung bersihkan diri saja dibelakang."
"Emm."
Dean menuruti ucapan Siren dan segera membersihkan diri.
"Bisakah kamu menjauhi Dean?"
Lagi-Lagi Siren dikejutkan oleh suara, tapi kali ini suara Aru lah yang terdengar.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku atau bahkan membenciku. Tapi aku tidak bisa mengatur semua yang terjadi sesuai kehendakku."
"Kalau kamu tidak menjauhinya, kamu akan susah sendiri pada akhirnya. Apa kamu mau kejadian di hutan peri terjadi juga disini? paling tidak fikirkan Ayahmu."
"Katakan bagaimana cara aku menjauhinya?"
"Bersikap dinginlah padanya, jangan menemuinya meskipun kita berada dibutan yang sama. Dan satu lagi, jangan pernah membiarkan dia menyentuhmu."
Aru memang tidak sengaja melihat adegan panas yang terjadi semalam. Suara decap dan desah keduanya cukup mengganggu indera pendengarannya hingga memaksa matanya terbuka.
"Kalau begitu aku akan lebih sering menyentuhnya, sampai matamu itu buta karena melihat apa yang terlarang untuk kamu lihat," Dean tiba-tiba muncul dan tidak sengaja mendengar percakapan Aru dan Siren.
"Aru. Aku terima kalau kamu marah padaku atas semua yang terjadi dihutan peri, karena aku sadar itu memang kesalahanku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mempengaruhi Siren agar dia menjauhiku, karena aku tidak ingin dipisahkan dengannya."
"Apa kalian sudah puas bertengkar? bahkan para kera pun tidak dibuat tidur tenang oleh suara kalian," hardik Pakuo.
Dean, Aru dab Siren terdiam. Pakuo turun dari rumahnya dan memakan umbi yang sudah Siren rebus.
"Sebaiknya kalian cepat buat rumah sendiri,"
"Paman, apa kami boleh membangun rumah didekat aliran sungai sebelah barat?" tanya Dean.
"Terserah." Jawab Pakuo.
Dean, Aru, dan Siren duduk di atas kayu gelondongan dan menikmati umbi secara bersama-sama. Setelah itu Dean, Aru dan Siren pergi menuju sungai disebelah barat untuk membangun rumah pohon disana.
"Kenapa kamu memilih sungai ini untuk menjadi tempat tinggalmu?"
"Aku suka suasananya. Begitu dingin dan tenang,"
"Apa kamu pernah menangkap ikan disungai?" tanya Siren.
"Belum."
__ADS_1
"Aku akan mengajarimu cara menangkapnya. Sungai ini adalah tempat dimana aku mencari banyak ikan, terlebih saat aku sedang bosan memakan hewan darat."
"Baiklah, kita selesaikan dulu rumahnya," ucap Dean.
Siren melirik kearah Aru yang tampak diam tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Wajahnya sangat datar dan dingin.
"Jangan hiraukan dia,"
"Dia membenciku."
"Tidak apa, yang terpenting aku yang mencintaimu."
Setelah rumah pohon itu selesai, Aru turun dari rumah itu dan mengambil busur panahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dean.
"Berburu. Perutku sudah lapar!"
"Kita berburu bersama saja."
"Tidak perlu. Biar aku sendiri saja." Jawab Aru yang kemudian melangkah pergi.
"Dia masih sangat marah padaku,"
"Tidak apa. Kita berburu ikan saja,"
"Emm."
Siren dan Dean pergi menyusuri aliran sungai untuk mencari hewan bersisik itu.
Siren menatap pergerakan ikan tersebut. Dengan sekali tombak, Siren berhasil membuat ikan itu bersarang diujung tombak miliknya
"Ini hebat..." Dean antusias.
Dean dan Siren pergi kedaratan setelah berhasil menangkap beberapa ekor ikan disana. Siren kemudian membakar ikan itu dan menyantapnya bersama Dean. Siren juga menyisihkan untuk Aru agar pemuda itu bisa menikmatinya.
Sementara itu disisi lain, manusia murni sedang mengadakan rembukkan dihutan bagian timur. Mereka yang kehilangan tempat tinggal dihutan Peri, sangat marah pada Dean yang merupakan penyebab terjadinya bencana.
"Kita harus menyeret anak itu keluar dari hutan larangan. Kita musnahkan saja anak pembawa mala petaka itu, untuk membalaskan rasa sakit hati para manusia campuran," ujar Pao.
"Aku setuju. Anak itu suah membuat rumah-rumah kita hangus terbakar. Kita jadi terpaksa mengungsi ke hutan lain," timpal Gao.
"Tapi bagaimana kalau penghuni hutan larangan membelanya?"
"Mereka tidak akan menang. Kita memiliki puluhan orang untuk menyerang mereka. Jadi sekalian saja kita musnahkan saja penghuni hutan larangan yang cuma ada ayah dan putrinya itu,"
"Benar. Jadi kita bisa bernafas lega, bukan tidak mungkin penghuni hutan larangan itu akan membuat bencana yang sama. Kalau itu sampai terjadi, seluruh hutan akan dibumi hanguskan oleh mahluk-mahluk jelek itu. Karena seluruh hutan kuncinya ada dihutan larangan itu. Kalau hutan itu musnah, makan hutan disekitarnya akan ikut musnah juga."
Putri Pao yang diam-diam menyukai Dean merasa sedikit sedih karena orang-orang ingin membunuh Dean. Dalam hati kecilnya dia tidak menginginkan hal itu terjadi, dan berharap Dean bisa sadar bahwa ada seorang gadis yang selalu menunggu dirinya sejak dulu.
"Sudahlah Paolin. Lupakan bocah tengik itu. Dari dulu dia tidak pernah menyukaimu, terbukti dia lebih memilih gadis itu sehingga mengorbankan kita semua yang ada disini."
Paolin hanya diam saja. Apa yang dikatakan orang-orang itu benar adanya.
__ADS_1
"Jadi kapan kita akan menyerbu hutan itu?" tanya Gao.
"Kita harus persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Terutama senjata yang akan kita gunakan." Jawab Pao.
Matahari sudah tegak lurus diatas kepala saat Siren dan Dean berbincang banyak hal dipinggiran sungai sembari bermain air.
"Dean aku harus pulang,"
"Apa kamu tidak ingin menunggu sampai Aru pulang?"
"Dia pasti berburu sampai sore, terlebih dia tidak menyukaiku. Jadi sebaiknya aku pulang saja,"
"Jangan dimasukan kedalam hati, suatu saat dia pasti akan menyukaimu dan menerima hubungan kita."
"Hubungan kita?"
"Ya. Sekarang kamu sudah jadi kekasihku bukan?"
"Kekasih?"
"Emm. Kekasih itu orang yang lebih penting dan berharga dari seorang teman."
Siren mencerna semua ucapan Dean. Dean perlahan mendekat kearah Siren yang tampak kebingungan.
"Yang pasti seoarang kekasih itu bisa kita sentuh ditempat yang kita inginkan,"
Dean menarik tangan Siren untuk mengikutinya naik keatas rumah pohon yang baru saja mereka buat. Tanpa banyak basa basi, Dean segera menc***u Siren hingga gadis itu gelagapan. Entah sejak kapan mereka sudah tidak mengenakan apapun lagi, dan Siren sama sekali tidak mengerti apa yang mereka lakukan saat ini. Yang Siren tahu tubuhnya hanya bereaksi aneh dan selalu menginginkan lebih.
"Ah...Dean..."
Siren mengeluarkan suara indahnya saat Dean bermain dipuncak dadanya yang sudah menegang. Siren merasakan perasaan yang luar biasa saat Dean melakukan semua itu padanya.
"Emmmpptttt sssstttttttt...." Siren merasakan sakit dan perih saat Dean mulai membenamkan miliknya kedalam goa hangat milik Siren.
Siren memeluk tubuh Dean dengan erat saat pria itu sudah berhasil membenamkan seluruh miliknya. Nafas Siren tertahan saat merasakan sesak penuh dibawah sana.
"Ah...Dean..." Siren sekali lagi menyerukan nama itu, saat Dean mulai menggerakkan pinggulnya dan memompa dengan pelan.
Dean bisa melihat ekspresi Siren yang begitu sangat menikmati kegiatan panas itu. Bahkan Siren terlihat seperti mendambakan hal lebih dan Dean berusaha memenuhinya. Dua insan yang sedang dimabuk kasih itu bergumul panas hingga tidak tahu sudah berapa lama dan sudah berapa kali mereka mengulanginya.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas keduanya saling berkejaran saat mereka baru saja menyelesaikan erangan terakhir mereka secara bersamaan.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Dean.
Siren hanya mengangguk dengan wajah tersipu malu. Setelah kembali mengenakan pakaian, Dean dan Siren turun dari rumah itu dan sudah mendapati Aru berada dibawah sana sedang membakar hasil buruannya. Siren dan Dean saling berpandangan, karena mereka menyadari, Aru pasti sudah tahu dan mendengar apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka bisa melihat dari raut wajah Aru yang begitu sangat datar dan dingin.
Tanpa banyak bicara Siren segera pulang kerumahnya meskipun sedikit susah berjalan. Namun untuk bertahun-tahun lamanya, Siren kali ini lebih banyak tersenyum. Gadis itu sama sekali tidak sadar, Dean sudah merubah banyak hal dari dalam dirinya.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏