SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
157. Aku Dimana?


__ADS_3

"Jadi menurut kalian aku harus menikahi Lucia, agar kita bisa mengetahui tempat itu?" tanya Regent.


"Mengingat betapa liciknya orang-orang itu, aku rasa menikahinya saja tidak akan membuat gadis itu kenyang. Bagaimana kalau dia membuat syarat yang lain! misalnya sampai dia mengandung benihmu barangkali?" ujar Megumi.


"Gumi benar. Gadis itu pasti akan mengikatmu, tidak mungkin dia maumembiarkanmu menemukan Sarlince. Dia pasti akan mengulur-ngulur waktu. Dan kalau sampai itu terjadi, kita nggak tahu apa yang akan terjadi pada Sarlince," ujar Vino.


"Aku masih bingung. Cerita kalian terdengar hebat. Kalau kalian memang punya ilmu sulap, kenapa tidak sulap saja wajah Martin menyerupai Regent," ujar Akira sembari terkekeh.


Regent, Megumi dan dan Vino saling berpandangan. Seolah mereka mempunyai satu pemikiran.


"Ada apa dengan senyum kalian itu? sangat mencurigakan sekali," tanya Chio.


"Coba kalian berjejer. kami harus memilih diantara kalian bertiga siapa yang poster tubuhnya mendekati seperti Regent," ujar Megumi.


Chio, Martin dan Akira saling berpandangan, namun mereka tetap menuruti ucapan Megumi.


"Sepertinya postur tubuh Akira yang hampir seperti Regent. Akira," ujar Megumi.


"Ya?"


"Maukan kamu berperang bersama kami? kami tahu ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi kalau mau maju bersama kami. Kamu akan melihat hal yang belum pernah kamu lihat dalam hidup. Tapi tentu saja kami tidak akan memaksa, karena ini hanya untuk orang-orang yang suka dengan tantangan," ujar Megumi.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Akira.


"Maukah kamu menikahi Lucia menggantikan Regent?" tanya Megumi.


"Menikah? tapi bukankah yang dia inginkan Regent? mana mau dia denganku? kalau aku mau menikah dengan siapa saja tidak masalah, karena yang aku butuhkan bukan status tapi urusan ranjang." Jawab Akira dengan kekeh.


Bugh

__ADS_1


"Dasar mesum," ucap Martin, sembari meninju pelan bahu sahabatnya itu.


"Seperti kamu tidak mau saja, padahal kamu mau juga kan?" tanya Akira.


"Bagaimana kalau aku saja?" tanya Martin Antusias.


Megumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Teman-Temannya itu memang orang-orang yang tidak terlalu memikirkan masalah perasaan. Yang penting bagi mereka urusan perut dan urusan ranjang terselesaikan, maka semua urusan lain tidak jadi masalah.


"Tidak bisa. Karena rencana kita ini tidak boleh ada kesalahan, termasuk memilih pengganti Regent. Postur tubuh Akira lebih mirip dengan Regent. Sekarang lebih baik kira menuju Labor besar," ujar Megumi.


"Benar. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Tapi apa kamu bisa membuat prototipe wajah yang menyerupaiku?" tanya Regent.


"Kenapa tidak bisa? aku bahkan berhasil membuat prototipe tangan untuk Hideo. Dikehidupan sebelumnya, aku dan Sarlince pernah menjadi seorang ilmuan. Pernah membuat berbagai prototipe. Seperti tangan, kaki, wajah, bahkan kami pernah mencoba membuat prototipe bola mata. Tapi sayang, waktu itu tidak sampai selesai, karena kami harus mati dan menjalani kehidupan kami yang selanjutnya." Jawab Megumi.


"Bagus kalau begitu," ujar Regent.


"Kami akan menjawab kebingungan kalian itu. Sekarang kita harus kerja keras, agar rencana kita berhasil mengelabuhi Lucia. Aku akan menyelesaikan prototipenya, dan kamu harus terbang ke negara Jepang sekarang juga Re. Karena disana bahan pembuatan wajah palsu itu lebih mudah di dapat," ujar Regent.


"Oke. Kalau begitu aku terbang ke Jepang sekarang," ujar Regent.


"Oke. Kalian bertiga ikut aku. sayang, kamu pantau terus kegiatan Lucia. Beritahu kami kalau ada gerak gerik yang mencurigakan," ujar Megumi.


"Baiklah." Jawab Vino.


Megumi, Akira, Chio dan Martin pergi ke labor besar. Mereka dibawa ke ruangan khusus oleh Megumi.


"Akira. Berbaringlah diatas tempat tidur ini!" ujar Megumi.


Akira menuruti perintah Megumi. Sebuah alat berbentuk segi empat berbahan khusus bergerak tepat didepan wajah Akira. Alat itu dilengkapi dengan teknologi canggih, yang mampu memindai struktur wajah Akira yang langsung tersambung dengan sebuah komputer yang dirancang secara khusus.

__ADS_1


Dilayar komputer bahkan langsung bisa menamai titik-titik wajah Akira, bahkan bagian terkecil sekalipun. Mata Chio dan Martin sama bingungnya, saat melihat Magumi dengan lincah membuat persamaan antara dua wajah Akira dan Regent. Regent yang sudah pernah di scan wajahnya, hanya tinggal membuat penyesuaian dengan wajah Akira.


"Luar biasa. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membuat prototipenya? dan berapa lama sampai wajah palsu itu selesai dibuat.


"Mungkin sebelum Regent mencapai negara Jepang aku sudah berhasil membuatnya. Kalau untuk sampai tahap finishing, itu tergantung seberapa cepat Regent menemukan semua bahan yang aku butuhkan." Jawab Megumi.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. semua tampak hening, hanya terdengar suara jari jemari Megumi yang menari lincah pada tombol-tombol komputer, dan sesekali menggunakan touch screen pada layar komputer tersebut. Akira yang berbaring santai bahkan tertidur sejenak, sampai urusan Megumi selesai.


Hanya butuh waktu satu jam tiga puluh menit bagi Megumi untuk menyelesaikan protitipe itu. Dan setelah sore harinya, Regent menghubungi Megumi, bahwa saat ini dinya sudah berada di Jepang. Megumi memberitahu Regent toko yang biasa Sarlince dan dirinya membeli bahan yang mereka butuhkan. Regent bergegas mencari tempat itu, karena dia tidak ingin membuang-buang banyak waktu.


Setelah menemukan apa yang dia cari, Regent bergegas kembali ketanah air dengan penerbangan sore. Sementara itu di tempat berbeda, Sarlince baru sadarkan diri namun dengan kondisi yang lemah.


"Ehmmm...aku ada dimana?" ucap Sarlince lirih, dengan menahan denyut dikepalanya.


Sarlince menatap ruangan tempat dirinya berada saat ini. Ruangan itu tampak lembab dan sejuk karena ada pendingin ruangan. Namun ruangan itu tidak memiliki celah atau ventilasi udara sama sakali. Namun bangunannya terlihat sangat unik. Bangunan itu memang berbentuk segi empat pada umumnya, namun ditiap sisi, ada 5 bulatan panjang, sepanjang hasta yang dari luar tampak seperti terbuat dari kaca kristal. Sarlince tidak mengerti apa fungsi dari benda panjang itu. Sarlince hanya berpikir kemungkinan itu digunakan untuk menggantung pakaian atau barang semacamnya.


Tidak hanya benda itu yang tampak terbuat dari kristal. Tapi seluruh ruangan itu, bahkan ubinpun seperti terbuat dari kristal yang berkilau. Sarlince menatap pakaian yang dia kenakan, dan dia bisa menebak kalau itu bahan yang terbuat dari sutra.


"Apa aku sudah berada ditangan orang itu? apa yang dia inginkan darikj?" batin Sarlice.


"Aku tidak boleh gegabah, aku harus sabar agar semua berjalan dengan baik. Aku harus tahu siapa orang yang menginginkan aku di culik," batin Sarlince.


Drap


Drap


Drap


Sarlince bisa mendengar derap langkah beberapa orang mendekat ruangannya. Sarlince terpakasa berpura-pura tetap pingsan, karena dia ingin melihat situasi yang akan menguntungkan dirinya untuk kabur.

__ADS_1


__ADS_2