
Tinggalkan Like, Koment Dan Vote🤗🙏
*****
Pria yang membawa payung hitam itu mengulurkan tangannya pada Sarlince. Karena derasnya hujan, wanita itu begitu sulit untuk memfokuskan matanya saat ingin mengenali sosok didepannya.
Sarlince meraih tangan itu yang ingin membantunya berdiri. Setelah berada tepat didepan wajah pria itu, mata Sarlince sedikit melebar saat tahu sosok itu adalah Qiel.
"Ka-kakak kamu disini?" tanya Sarlince.
"Ya. Apa kamu senang aku menjemputmu?" tanya Qiel.
"A-aku...."
"Aline," seru Regent.
Dari jarak sekitar 5 meter, Regent bisa melihat saat ini Sarlince sedang berdiri disamping seorang pria. Qiel tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Sarlince dengan posesif yang membuat tubuh wanita itu sedikit menegang.
Perlahan Regent mendekati dua orang itu untuk memperdekat jarak pandangnya. Ada rasa cemburu yang dia rasakan saat melihat Qiel memeluk Sarlince dengan mesra, sementara yang di peluk hanya diam saja sembari menundukkan wajahnya.
"Apa kabarmu Tuan Regent binara? apa yang anda lakukan ditengah hujan deras seperti ini?" tanya Qiel.
"Sayang. Apa dia yang menjadi rekan bisnismu?" tanya Qiel pada Sarlince.
"Ya." Jawab Sarlince singkat.
Regent menyeka air yang memenuhi wajahnya sesekali sambil menatap pasangan yang berada didepannya.
"Apa Tuan Regent senang bermain hujan? kalau orang yang melihamu seperti ini pasti akan jadi salah faham. Aku sempat mengira kamu sedang bermain kejar-kejaran bersama istriku seperti sedang syuting film india," ucap Qiel.
Regent hanya terdiam sembari menatap intens kearah Sarlince yang juga menatap kearahnya. Qiel menggertakkan giginya karena tidak suka Regent menatap Sarlince dengan penuh perasaan. Sementara Sarlince sesegera mungkin membuang wajahnya kearah lain.
"Sayang. Apa kamu kedinginan?" tanya Qiel.
"Ya." Sarlince mengatakan itu agar Qiel segera membawanya pergi dari situ.
Tetapi apa yang Qiel lakukan sungguh diluar dugaannya. Pria itu malah menangkup kedua wajah Sarlince, hingga payung yang dia pegang melayang entah kemana. Qiel tanpa aba-aba menci*m dan Melu**t b***r Sarlince tepat didepan mata Regent.
Mata Sarlince terbuka lebar karena terkejut, sementara Regent hanya mengepalkan tangannya saat melihat pasangan itu sedang asyik berci***n dibawah hujan.
Sarlince perlahan mendorong tubuh Qiel dan saat menoleh kearah Regent , pria itu sudah tidak ada lagi disana.
Qiel tersenyum sinis penuh kemenangan dan menarik tangan Sarlince untuk masuk kedalam mobil.
"He...mau merebut milikku, bermimpilah!" batin Qiel sesaat setelah mobil hitam miliknya melaju.
Sementara Sarlince larut dalam pemikirannya sendiri. Dia tahu betul apa yang Regent rasakan saat ini, karena dia pernah merasakannya hingga berulang kali.
__ADS_1
"Aline. Jangan terlalu dekat dengan pria tidak normal itu. Aku takut kamu hanya di manfaatkan saja," ucap Qiel memecah keheningan.
"Iya kak." Jawab Sarlince seadanya.
"Jangan sampai dia menyukaimu. Kamu tidak menyukai dia kan? aku bisa melihat, kalau dia melihatmu sebagai seorang wanita dewasa," ujar Qiel.
"Tidak. Aku hanya menyukaimu." Jawab Sarlince.
"Aku tahu kamu tidak akan bisa berpaling dari pesonaku Aline. Terlebih kamu sudah pernah mencicipi betapa perkasanya aku saat diatas ranjang," batin Qiel.
Sementara itu Regent sedang mengerang frustasi didalam mobilnya. Masih terbayang dipelupuk matanya saat-saat Sarlince dicium mesra oleh Qiel dibawah hujan deras. Suasana yang begitu romantis namun mampu membuat dadanya terbakar meskipun dalam cuaca yang sangat dingin.
"Kenapa aku selalu mengalami cinta sepihak seperti ini?" ucap Regent sembari membenturkan dahinya dikemudi mobil.
Regent membuat panggilan untuk Vino.
"Vin. Aku tunggu kamu dimobil! sekalian bawa Umi kemari. Kita akan mengantarnya pulang, Aline sudah pulang lebih dulu dijemput oleh suaminya," ujar Regent.
"Oke."
Vino dan Umi menerobos derasnya hujan, agar cepat sampai dimana mobil Regent terparkir. 3 orang yang berada didalam mobil itu sama-sama basah kuyup.
"Kenapa pulang sekarang? kenapa tidak menunggu sampai hujan reda?" tanya Vino.
"Ada hal yang harus aku selesaikan." Jawab Regent.
Regent segera menginjak gas mobilnya, dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Tak ada yang bersuara karena mereka larut dalam fikiran masing-masing.
"Saya tinggal bersama Nona Aline, dijalan Puri Melati no 96." Jawab Umi.
"Apa Aline sudah lama menikah dengan Qiel?" tanya Regent.
"Baru sekitar 2 bulan." Jawab Umi.
"Masih pengantin baru. Masih sedang hot-hotnya," batin Regent sembari mencengkram erat stir mobil.
"Anda mengenal Tuan Qiel?" tanya Umi.
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal si playboy itu." Jawab Regent dengan lugas.
"Playboy?"
"Ya. Bahkan aku sempat melihat pria itu menggandeng mesra wanita lain sekitar sebulan yang lalu di sebuah pusat perbelanjaan." Jawab Regent.
Apa yang Regent katakan bukan mengada-ada. Saat itu dia memang tidak sengaja melihat Qiel bersama Celine sedang berbelanja banyak barang mewah.
"Umi. Katakan padaku? apa Nona mu bahagia dengan pernikahannya?" tanya Regent.
__ADS_1
"Maaf Tuan Regent. Itu bukan koridor saya untuk menjawab. Rahasia hubungan seperti itu hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh pasangan itu sendiri. Terkadang apa yang terlihat oleh mata, belum tentu berdasarkan kenyataan bukan?" Jawab Umi.
"Iya Re. Kamu kenapa ingin tahu urusan rumah tangga Nona Aline? itu terdengar tidak wajar," timpal Vino.
"Aku menyukai aline." Jawab Regent tanpa ada yang ditutupi.
"Apa???" Vino dan Umi menjawab serentak.
"Apa yang kamu katakan Re? jangan membuat scandal besar seperti itu. Kamu dan dia bukan orang sembarangan. Kalian akan menjadi topik pemberitaan dimedia, kalau sampai membuat scandal besar seperti itu. Lagian apa kamu sudah tidak menginginkan gadis yang sedang kamu cari itu?" tanya Vino.
"Aku tidak tahu. Aku sudah lelah dengan semua teka-teki ini. Saat ini hanya Aline yang ada difikiranku. Tapi disaat hatiku mulai terbuka untuk gadis lain, aku malah terjebak dalam situasi yang sama lagi. Apa aku memang harus ditakdirkan selalu mencintai istri orang lain?" Jawab Regent.
Umi hanya bisa menyikmak apa yang sedang dibicarakan oleh kedua pria itu.
"Umi jangan katakan pada Aline perihal aku melihat suaminya jalan dengan wanita lain. Aku tidak mau membuatnya sedih," ujar Regent.
"Baik Tuan." Jawab Umi.
"Aline bagaimana kamu akan bahagia menikahi pria seperti itu. Setelah dia merasa bosan, dia pasti akan mencampakkanmu. Harus berapa lama aku menunggumu saat itu terjadi?" batin Regent.
"Pria ini jauh terlihat lebih tulus. Andai saja mereka berjodoh," batin Umi
Setelah memakan waktu hampir 30 menit, Mobil Regent akhirnya berhenti didepan gerbang sebuah rumah mewah yang merupakan tempat tinggal bagi Sarlince.
"Terima kasih atas tumpangannya Tuan. Maaf saya tidak bisa mengajak kalian berdua mampir, sebelum mendapat izin dari majikan saya," ujar Umi.
"Tidak apa. Masuklah! segera mandi air hangat agar tidak masuk angin," ucap Vino yang dibalas anggukkan oleh Umi.
"Lupakan dia Re, jangan gila," ujar Vino setelah mobil mereka kembali melaju.
"Aku akan lakukan kalau aku bisa." Jawab Regent.
"Bukankah kamu sangat mencintai Mehru? kenapa kamu menyerah?" tanya Vino.
"Aku tidak menyerah. Aku hanya sedang mengisi kekosongan hatiku saja saat ini." Jawab Regent.
"Omong kosong. Aku sudah mengenalmu sejak lama. Kamu bukan tipe pria yang mudah pindah kelain hati, kali ini kamu pasti benar-benar menyukai Sarlince. Menyebut namanya saja, aku juga tahu kamu sudah terobsesi oleh nama itu,"
"Kali ini biarkan aku mencari kebahagianku sendiri meskipun caranya salah," ujar Regent.
"Apa itu berarti kamu ingin merebut istri orang lain?" tanya Vino.
"Aku tidak tahu." Jawab Regent.
Vino hanya menghela nafas. Bukannya dia tidak mengerti apa yang Regent rasakan saat ini. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan sahabatnya itu berada dalam koridor yang salah.
Sementara itu ditempat yang berbeda Sarlince merasa cukup lega karena mengetahui Umi sudah berada dirumah. Wanita itu sempat melupakan keberadaan asistennya itu.
__ADS_1
Sarlince meringkuk didalam selimut. Bayangan saat-saat Regent menyentuhnya begitu lekat dalam ingatannya. Pelahan dia menyentuh bibirnya sendiri karena ci***n yang Regent berikan begitu menggetarkan jiwanya. Namun rasa senang itu mendadak lenyap, wajah Sarlince berubah jadi dingin, ketika tiba-tiba saja dia teringat saat Qiel mencuri ciuman darinya. Dan sekarang pria itu pergi entah kemana, setelah sebelumnya Sarlince menolak ajakan pria itu untuk bercinta dengan alasan kelelahan.
Tinggalkan Like, Koment Dan Vote🤗🙏