SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
71. Bencana


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Dean merenung diperbatasan, sudah seharian dirinya menunggu kedatangan Siren, tapi gadis itu tidak pernah muncul lagi.Bahkan Dean memanggil nama gadis itu berulang kali dengan suara terbesar yang dia bisa, namun tetap saja Siren tidak juga mau menemui dirinya. Meskpun tanpa Dean ketahui, gadis itu melihat semua apa yang dia lakukan. Bahkan untuk pertama kalinya gadis itu terlihat menangis karena tidak berdaya.


"Aku tidak bisa terus begini. Bukankah mati juga harus membawa kepuasan diri? bagaimana aku bisa menunggu mati sampai tua ditempat terkutuk ini? aku sama sekali tidak percaya kutukan itu ada."


Dean berdiri dari duduknya, dengan segenap keberaniannya, pemuda itu keluar dari perbatasan hutan peri dengan membawa busur panah miliknya.


Begitu Dean melewati batas itu, batu yang ada dilehernya pecah seketika. Ada suara auman dari dalam perut bumi yang tidak Dean tahu mahluk apa itu. Angin besar tiba-tiba mengoyak-ngoyakkan dedaunan dari hutan peri, hingga Dean berlari memasuki hutan terlarang dan bersembunyi dibalik semak belukar.


Dean merasakan keanehan yang luar biasa disaat hutan diseberang diserang angin misterius, tapi tidak dengan hutan terlarang. Hutan itu tampak tenang, dan membuat Dean nyaman untuk berlindung.


Tanpa Dean tahu, semua penduduk manusia campuran sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. Tubuh Babilo gemetar, karena tahu waktu kehancuran telah tiba bagi kaumnya.


"Ayah. Ada apa ini? kenapa suasana hutan jadi mencekam begini?" Aru berpegang pada sebuah pohon yang kokoh karena takut diterbangkan angin.


Aru yang tiba-tiba teringat akan keberadaan Dean, Pria itu mendadak bertambah panik.


"Ayah. Dean...."


Babilo menyunggingkan senyum getir pada sudut bibirnya.


"Anak itu sudah mematahkan segelnya, dan hari ini adalah hari kehancuran kaum kita."


"Maksud ayah apa? apa angin ini adalah pertanda segel itu telah terbuka?"


"Ya. Apa kamu tidak merasakan rasa dingin yang menusuk?"


"Ya ayah. Ini seperti bukan dingin yang berasal dari tiupan angin."


"Ini rasa dingin yang dipancarkan dari ribuan roh yang bangkit dari alam kematian. Aru bersiaplah,"


"Apa maksud ayah?"


Babilo yang berada dipohon berbeda, berusaha mendekat kearah Aru meskipun tubuh tua itu beberapa kali terbentur oleh pohon yang lainnya.


"Aru.Ini adalah perisai milik ibumu, yang ditinggalkan oleh ayahmu sebelum dia mati. Ayah harap ini bisa membantumu, pergilah kehutan seberang. Jika memang segel hutan disana belum terbuka, kamu bisa berlindung disana sementara waktu."


"Ayo kita pergi bersama ayah."


"Tidak bisa, kamu larilah sekuat mungkin agar jangan sampai tertangkap. Jangan buang-buang waktu lagi."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mau meninggalkan ayah sendirian. Hikz..."


"Aru cepatlah! mahluk-mahluk itu akan segera datang,"


Suara jerit kesakitan mulai terdengar diberbagai pojok hutan, Babilo bisa tahu kalau itu jerit kesakitan dari manusia campuran yang nyawanya diambil dengan paksa dan roh mereka dikurung untuk dibawa kealam iblis.


Tubuh Aru gemetar saat mendengar jeritan-jeritan pilu itu.


"Aru pergilah cepat!" teriak Babilo.


Dengan segenap keberaniannya Aru berlari pontang panting.


"Berlarilah dan jangan menoleh kebelakang lagi." Teriak Babilo kembali.


Aru terisak sembari berlari, namun untuk terakhir kalinya dia menoleh kearah Babilo tepat ketika sebuah tangan mahluk astral menembus perut pria itu hingga semua ususnya terburai.


Bibir Aru bergetar dengan mata yang semakin memanas.


"A-ayah...."


Senyum Babilo mengembang dan bibirnya memberikan isyarat agar Aru segera pergi dari situ.


Dengan kecepan penuh Aru berlari hingga tiba diperbatasan. Saat dia berhasil menyebrang ke hutan larangan, pria itu segera berbalik badan dan melihat apa yang terjadi diseberang sana.


"Ayah hikz....Dean terkutuklah engkau Dean!" teriak Aru memecah keheningan hutan terlarang.


Sementara itu Dean yang sudah terlanjur mengambil keputusan, menyusuri hutan terlarang dengan tatapan waspada. Sejujurnya dia sangat gentar, karena suasana hutan terlarang berbeda jauh dengan hutan peri. Jika hutan peri sangat nyaman ditinggali, sementara hutan terlarang terlihat suram dan sangat menakutkan.


"Aku merasa haus sekali, sebenarnya dimana rumah Siren? apa dia pergi sejauh ini untuk menemuiku diperbatasan?"


Dean kembali menyusuri jalan yang tampak sering dilalui. Dean yakin itu jalan setapak yang sering Siren jalani saat akan menuju perbatasan.


Siren mengerutkan dahinya saat melihat orang asing masuk kedalam hutan. Hutan yang menjadi wilayah kekuasaannya. Bibir gadis itu bergetar, saat menyadari pemuda itu sosok manusia yang sudah ia kenal meskipun tidak terlalu jelas.


"De-dean....," ucapnya lirih.


"Ap-apa yang terjadi pada hutan itu jika Dean berada disini?"


Siren menatap punggung pria itu dari atas pohon apel liar yang rimbun.


Tap


Siren mendaratkan kakinya ketanah dan mengikuti Dean dari arah belakang. Sementara mata Dean bersinar saat melihat sebuah aliran sungai, dirinya bisa menghilangkan dahaga disitu dan membuat tubuhnya segar sebelum melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Ah...airnya dingin dan segar. Hutan ini tidak buruk seperti yang orang-orang gambarkan."


Mata Siren terbelalak saat Dean dengan tidak tahu malunya melepas penutup area kejantanannya dan mandi berendam kedalam air. Bisa Siren lihat tubuh pemuda itu tampak kekar dan berotot. Untuk sesaat Siren tersihir oleh ketampanan pria itu.


Setelah dirasa cukup, Dean berdiri dan mengenakan kembali penutupnya. Namun baru saja dia melangkah, suara lembut dari arah belakang membuat senyumnya terbit seketika.


"Dean...."


Dean membalikkan tubuhnya dan menatap gadis cantik yang ada didepannya. Perlahan Dean mendekat sembari menatap lekat kearah mata gadis itu.


"Kenapa kamu ada disini?"


"Aku sudah membuktikan padamu, bahwa aku sanggup berkorban untukmu."


"Apa kamu tahu bencana apa yang sudah kamu buat? kamu akan menghancurkan seluruh kaummu."


"Aku tidak percaya itu. Saat segel itu terbuka, hanya ada angin saja yang datang. Tidak ada mahluk yang menelan bulat-bulat hutan itu."


"Tapi kamu tidak diterima disini."


"Aku akan kembali setelah puas bertemu denganmu."


"Siren. Kita saling mencintai bukan?"


"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Elak Siren.


"Sebaiknya kamu pulang saja jika memang tidak terjadi apapun disana. Jangan mempersulitku. Lagipula Baba pasti tidak akan menyukai kehadiranmu disini."


"Aku akan pergi. Bolehkah aku memelukmu?" tanya Dean.


"Peluk?"


Dean merapatkan tubuhnya kearah gadis pujaannya itu dan memeluk tubuh Siren dengan erat.


"Tubuhmu tercium aroma khas. Aku pasti tidak akan bisa lupa wangi segar ini,"


Dean semakin membenamkan wajahnya diceruk leher Siren hingga gadis itu merasakan gelenyar aneh saat hembusan nafas Dean beradu disana.


Dean perlahan mendorong tubuh Siren hingga gadis yang kehilangan akal sehat itu tubuhnya membentur sebuah pohon yang sangat besar. Mata Siren terbelalak saat Dean menempelkan b***r penuhnya dan melu**t b***r tipis miliknya.


Sungguh Siren tidak bisa berbuat apapun, dia tidak tahu harus melakukan apa. Yang pasti tubuhnya memiliki reaksi aneh saat Dean menyentuh dirinya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2