
°°°~Happy Reading~°°°
Mobil mewah itu berangsur memasuki area pelataran mansion, Hanna tampak menyembul dari balik pintu mobil yang kini terbuka otomatis.
Setelah mengantar sang putri ke sekolah, ia putuskan untuk langsung pulang saja, rasanya letih luar biasa, lihat saja, langkahnya bahkan terlihat layu, perempuan itu benar-benar tak berdaya meski untuk mengedipkan mata.
"Nona, anda terlihat pucat. Apa perlu saya buatkan obat herbal?" Tawar bibi Ann, kepala pelayan berusia paruh baya itu terlihat begitu khawatir pada sang nyonya muda.
"Tidak bibi Ann, Hanna hanya kurang tidur saja. Bibi tolong nanti bangunkan Hanna kalau sudah jam pulang sekolah Maura ya, takutnya nanti Hanna ketiduran..."
Bibi Ann pun mengangguk sembari membungkuk kecil, "baik nona..."
"Bibi, tolong jangan membungkuk padaku lagi... Bukankah sudah pernah Hanna katakan, Hanna tidak suka..." Rengek Hanna pada bibi Ann.
"Ahaha, maafkan bibi nona. Ini karena bibi sudah terbiasa membungkuk pada tuan David, pelayan lain juga sama, jadi nona tidak usah sungkan..."
"Baiklah bi, bibi Ann boleh membungkuk pada suamiku, tapi jangan padaku, yah..." pinta Hanna.
"Baik nona..."
Hanna pun berlalu kembali ke kamarnya, rasanya tak sabar ingin segera merebahkan diri di kasur empuknya, merengkuh guling dengan selimut hangat, rasanya pasti akan sangat melegakan.
"Alhamdulillah... Akhirnya bisa tidur juga..." Hanna bersiap merebahkan diri di atas ranjangnya, namun belum sempat tubuhnya mendarat dengan sempurna, tiba-tiba ia terlonjak.
"Astaghfirullah, mas?" Bola matanya kini membelalak sempurna saat di dapatinya suaminya kini baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.
__ADS_1
"M-mas belum berangkat kerja?" Heran Hanna, karena biasanya suaminya itu akan berangkat kerja setelah kepergiannya mengantarkan Maura. Tapi apa ini, suaminya itu bahkan telah menanggalkan semua atributnya.
"Libur sayang..." Timpal David, membuat Hanna seketika mengernyit.
"Libur? Kok bisa mas? Perasaan hari ini bukan tanggal merah deh, Maura juga tetep masuk sekolahnya tadi..." .
"Ahahaha, maksudnya, mas libur sendiri sayang..." Sembari mengusap kepala sang istri dengan gemasnya.
"Emang boleh mas?"
"Kamu lupa kalau mas yang punya perusahaan itu, hmmm..." Angkuhnya menyombongkan jabatannya.
Ahhh, iya ya... Bagaimana ia bisa melupakan fakta sepenting itu?
Hanna terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, terlihat begitu menggemaskan dengan wajah polosnya.
David menyunggingkan senyum smirk nya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin menyegarkan tubuh..." Jawabnya seadanya.
"Baiklah, Hanna ambilkan baju ganti dulu buat mas..." Hanna membalik badan hendak berlalu ke ruang walk in closet, namun langkahnya tiba-tiba tertahan oleh cekalan tangan suaminya.
"Sayang..." Sahut David mengiba, membuat Hanna mengernyit.
"Iya mas, kenapa?"
__ADS_1
"Kita harus cepat kabulkan keinginan Maura..."
Membuat perempuan itu semakin mengenyit, tak paham dengan apa yang di maksud suaminya saat ini.
"Maksud mas?"
David memilih membisu, di bimbingnya sang istri mendekati ranjang, lalu mendudukkannya dengan sedikit dorongan.
Membuat Hanna sontak mendelik, perempuan itu panik luar biasa, melihat pergerakannya saja Hanna sudah tau apa yang kini di maksud suaminya.
"Mas..."
Hanna mencekal tangan suaminya yang hendak mengulur menyentuh kancing bajunya.
"M-mas mau apa?" Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut Hanna, jelas-jelas suaminya itu tengah meminta kembali hak nya.
"Mau buatin baby buat Maura sayang..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Sedikit amburadul ya tulisannya, hehehe
Sambil terkantuk-kantuk soalnya, jadi harap maklum ya chingu...
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕