
°°°~Happy Reading~°°°
Pintu terbuka, menampilkan sosok mama Agatha dan tuan Sebastian, kedua wajah itupun sontak berbinar saat mendapati Hanna telah benar-benar bangun dari koma nya.
"Hanna, Alhamdulillah kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanmu, apa sudah baikan?"
"Alhamdulillah nyonya, saya sudah baikan..." Timpal Hanna menyunggingkan senyum.
"Glanny..." Pekik Maura berbinar saat mendapati granny dan grandpa nya kembali menjenguknya, hampir setiap hari keduanya itu datang ke rumah sakit, bahkan tak segan membawakannya mainan beraneka ragam.
"Ohhh utututu... Cucunya granny juga apa kabar, hmmm..." Goda mama Agatha.
"Hamdalah, Molla duga baik-baik sheupeulti mommy kok glanny, hehehe..."
"Oh iya glanny, mommy na Molla udah banun loh... Molla sheunang sheukalli, shenang banak-banak, nanti Molla mau main-main shama mommy shehallian, hihihi..." Kikik nya penuh binar bahagia.
"Girl, mommy harus banyak istirahat. Jadi jangan ajak mommy main-main dulu, oke..." Tegur David dengan nada tegas.
"Tapi Molla mau main shama mommy daddy..." Rengek gadis kecil itu manja.
"Girl..." Peringat David seolah tak ingin lagi di bantah, membuat gadis kecil itu sontak memanyunkan bibirnya sebal, wajahnya berubah kesal, gadis kecil itu menjatuhkan tubuhnya dalam rengkuhan sang mommy.
__ADS_1
"Mommy, daddy dahat... Eundak bollehin Molla main shama mommy, hiks..." Rengek Maura menyembunyikan wajahnya di lengan kiri sang mommy, membuat Hanna tak ada pilihan lain selain menenangkan gadis cengeng itu.
"Tidak sayang, kenapa Maura bilang gitu... Kan daddy yang selalu jagain Maura waktu mommy tidur, hmmm... Putri cantik mommy tidak boleh marah gitu dong sama daddy, daddy sayang kok sama Maura. Iya kan... Daddy?" Hanna melempar pandang pada David, membuat laki-laki itu sontak saja gelagapan.
"Hah..."
"Daddy sayang kan sama Maura?" Ulang Hanna, kalau tidak seperti ini mungkin putri kecilnya itu akan ngambek seharian penuh.
"Oh... Iya iya..." Jawabnya seadanya, membuat mama Agatha sontak berdecak.
"Ck... Jawab gitu aja pekek mikir..." Sahut mama Agatha dengan mata memicing.
"Mola mau shama glanny, eundak mau shama daddy..." Tolak gadis kecil itu mentah-mentah saat sang daddy berniat meraih tubuhnya, membuat mama Agatha pun maju menggendong sang cucu turun dari ranjang Hanna.
"Ck... Lagian kamu ini Dav, jangan galak-galak sama anak. Wajah kamu aja menyeramkan gitu, gimana anak kamu ngga takut sama kamu?" Sungut mama Agatha mengajak Maura duduk di sofa sebelah tuan Sebastian.
"Hanna masih belum sembuh betul ma, gimana kalau..." David beralibi.
"Shhht... Sudah, laki-laki ngga boleh banyak ngebantah, pamali..." Sela mama Clara, membuat David sontak tercengang, memang apa hubungannya pamali dengan pembelaannya?
David hanya bisa menarik nafas dalam saat hanya diacuhkan, dirinya yang diluar terlihat begitu berwibawa kini seolah menjadi bulan-bulanan sang putri dan sang mama.
__ADS_1
"Dave, ikut papa..." Ajak tuan Sebastian keluar dari ruangan Hanna, membuat laki-laki itu hanya menurut, mengekor pada sang papa.
"Bagaimana rencana kamu Dave, sudah membicarakannya pada Hanna?" Sahut tuan Sebastian mengingatkan.
David menghela nafas dalam, ia bahkan melupakan janjinya itu pada sang papa. Bukan ia tak ingin menepatinya, tapi untuk saat ini, kesembuhan Hanna lah yang paling penting.
"Ya, nanti aku akan membicarakannya..."
"Tidak Dave, jangan menunda-nunda lagi, kita bicarakan sekarang, sekalian ada mama sama papa" Saran tuan Sebastian.
"Give me more time, pa..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maaf ya, kemarin sempet libur 2 hari karena othor ngga enak badan
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1