
°°°~Happy Reading~°°°
"Mama kenapa?"
"Perut mama mules Han... Mama ke toilet dulu ya sebentar sama Maura..." Rintih mama Agatha sembari meremas bagian perutnya yang terasa melilit, sedang sebelah tangannya yang lain masih setia menggandeng tangan si kecil Maura.
"Uchhh, Molla eundak mau ikut-ikut glanny ahhh... Molla eundak mau nanti lihat glanny buang beushall-beushall, iyuhhh..." Gadis kecil itu menolak keras, membuat Hanna sontak menegur sang putri yang sudah bertindak kurang ajar pada sang granny.
"Sayang..."
"Molla eundak mau myh..." Timpal gadis kecil itu mengiba.
"Maura temani granny dong... Kalau nanti granny di culik sama monster gimana, Maura nggak mau tolongin granny gitu?" Celetuk mama Agatha.
"Eundak, eundak bolleh. Molla shayang glanny banak-banak, moshtell eundak bolleh tullik-tullik glanny na Molla..." Sontak saja gadis kecil itu berhambur ke dalam rengkuhan sang granny, bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa tega jika granny kesayangannya itu sampai di makan monster raksasa.
"Kalau gitu Maura temani granny ke toilet ya sayang..."
Angguk Maura tak punya pilihan lain. Dari pada ia kehilangan sang granny, lebih baik ia merelakan mata sucinya saja untuk melihat yang besar-besar.
__ADS_1
"Kalau begitu mama ke toilet dulu ya Han. Kamu masuk aja ke dalam, nanti mama nyusul..." Usul mama Agatha.
"Tidak ma, Hanna tunggu di sini saja, nanti kita masuk sama-sama..." Enggan Hanna masuk ke dalam ruangan itu seorang diri. Apalagi ia tak memiliki kenalan di dalam sana, pasti rasanya akan sangat canggung dan merasa tersisihkan.
"Tidak-tidak... Mama bisa aja lama BAB nya, nanti kamu malah capek kalau harus nungguin mama di sini. Kamu masuk aja ya Han..." Saran mama Agatha.
"Tapi ma..."
"Tidak apa-apa, teman arisan mama baik-baik semua kok. Kamu masuk aja ya Han, soalnya kalau mama telat absen, nanti mama tidak dibolehin dapat arisannya. Aduh, ini perut mama makin mules, mama ke toilet sekarang. Kamu masuk aja, absenin mama..."
Mama Agatha berjalan tergesa menyusuri lorong hotel dengan menggandeng tangan si kecil Maura, meninggalkan Hanna seorang diri dalam dilema luar biasa.
Ingin menunggu sang mertua di sini saja, namun hati tak enak akan titahnya.
Tapi, amanah itu...
Klek...
Perempuan itu memilih membuka pintu itu dengan hati tak tenang, jantungnya berdebar.
__ADS_1
Tangannya bergerak mendorong pintu agar semakin terbuka lebar, namun seketika Hanna mengernyit, gelap gulita, hening yang hanya di rasa, apa arisan bisa di lakukan di tempat segelap ini, atau ia yang salah ruangan.
Tiba-tiba perempuan itu bergidik, Hanna benar-benar takut akan suasana gelap yang mencekam.
Niat hati ingin menutup kembali pintu ruangan itu, namun tak di sangka, sorot lampu kini mulai berpendar menyorot sosok di kejauhan sana, menampilkan sosok laki-laki gagah dengan balutan jas yang tengah berdiri mematung menghadap kearahnya, menajamkan penglihatannya, seketika Hanna membulatkan matanya.
"Mas David..." Pekik Hanna penuh keterkejutan.
Perempuan itu tertegun, bagaimana bisa laki-laki itu ada di tempat ini. Bukankah suaminya itu tengah berkutat dengan setumpuk pekerjaan kantor yang tak bisa di tinggal tanpa kompromi?
Rasa rindu yang teramat menyiksa itupun mengantarkan Hanna untuk melangkahkan kaki mendekat pada sang suami yang seharian ini tak bisa ditemui. Merengkuhnya erat, tak perduli pada rasa jengkel yang seharian ini bersarang dalam relung hatinya.
"Mas kok disini? Hanna kangen..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Jangan lupa like
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja