Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Perkara Kumis


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Wajah rupawan itu tampak serius meneliti berkas kerja sama bernilai triliunan rupiah, namun tiba-tiba dahinya mengernyit, laki-laki itu menghentikan pergerakannya, kepalanya kini mendongak memikirkan hal gila yang berhasil mengalihkan fokusnya dari pekerjaan. Hingga pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan tampaklah Erick dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi tuan... ." Sapa Erick dengan tablet di genggamannya, laki-laki itu berencana membacakan agenda apa yang akan dilakukan David seharian ini.


"Rick, apa kau tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" tanya David tak mengindahkan sapaan dari sang asisten.


Erick mengernyit, batinnya menggerutu. "Memangnya aku cenayang sampai bisa mengerti pikiran orang lain..." Namun laki-laki itu tak akan mungkin mengungkapkannya secara langsung, apalagi kepada bos yang suka sensi itu.


"Maaf tuan, memang apa yang sedang anda pikirkan?"


"Aku pikir--" David menjeda kalimatnya, laki-laki itupun beralih menatap sang asisten dengan seksama. "Kau akan lebih tampan jika memakai kumis,"


Membuat Erick sontak membelalakkan bola matanya. "K-kumis?"


Angguk David antusias. "Ya, ku pikir kau akan jauh lebih tampan jika memakai kumis, jadi cobalah pakai kumis palsu... ." Nilai David.


Erick seketika menggeleng tak mau, bagaimana bisa ia menghancurkan wajah tampannya itu dengan memakai kumis palsu. "ohhh tidak tuan. Saya lebih percaya diri dengan penampilan saya saat ini," tuturnya menolak halus permintaan David.


"Jadi kau tak sependapat denganku? Kau pikir seleraku seburuk itu, Rick?!" cecar David tak rela dengan penolakan dari sang asisten.


Membuat Erick seketika gelagapan.


"B-bukan begitu tuan, maksud saya... anda memiliki selera yang sangat bagus, penampilan anda selalu memukau luar biasa, jadi bagaimana bisa anda memiliki selera yang buruk, tuan..." Faktanya laki-laki itu tak akan berani membantah sang atasan meski dirasa pendapatnya memang tak bisa disalahkan, setiap orang memiliki pendapat dan selera masing-masing, dan ia sendiri pun berhak menentukan pilihan dan seleranya sendiri.

__ADS_1


David mengembangkan senyumnya. "Jadi, mulai besok pakailah kumis palsu, itu akan sangat cocok untukmu, Rick... ."


Erick sontak membulatkan bola matanya lebar, "tidak tuan... " tolaknya mentah-mentah.


"Sudah saya katakan saya sudah nyaman dengan penampilan saya saat ini, jadi saya--"


"Jadi kau tak ingin mendengar nasehatku, huh?" tukas David dengan wajah yang berubah nyalang, laki-laki itu tak menerima penolakan apapun.


Membuat Erick semakin pucat saja, apa yang sebenarnya laki-laki itu inginkan? Kenapa laki-laki itu mendadak mengurusi penampilannya segala?


"Tidak tidak... Tidak seperti itu tuan... ."


"Jadi mulai besok, pakailah kumis palsu. TIDAK ADA BANTAHAN!!!" titahnya tak ingin lagi di sanggah.


Suasana berbeda kini tengah terjadi di sebuah ruang rapat, suasana tegang dan mencekam yang biasanya menyelimuti ruangan ber AC itu, seketika sirna terganti oleh tawa lirih yang tertahan.


Kumis tebal yang tersemat di bawah hidung Erick kini benar-benar sukses mencuri banyak perhatian, semua orang tampak terkikik geli dengan penampilan baru Erick yang biasanya klimis namun kini tiba-tiba saja berkumis. Membuat laki-laki itu sontak menjadi pusat perhatian oleh puluhan pasang mata.


"Di harap semua tenang, rapat akan segera di mulai!" tegas Erick berusaha menutupi rasa malunya yang kini sudah membuncah sampai ke ubun-ubun.


Sial benar-benar sial.


Bos pemaksa yang suka memerintah itu benar-benar memaksanya memakai kumis sial*n itu tanpa memikirkan image yang selama ini sudah dibangunnya.


Hilang sudah reputasinya, hancur sudah image cool yang selama ini melekat pada dirinya sang asisten perusahaan ternama.

__ADS_1


Hingga akhirnya rapat pun usai tanpa umpatan dan kalimat keji dari bibir pedas David, Erick membuntuti sang CEO dengan mulut berdecak sebal, bisa-bisanya bos nya itu tersenyum renyah di saat dirinya sendiri tersiksa akan titah yang diberikan.


"Kau lihat Rick, bahkan mereka kagum dengan penampilan barumu, AHAHAHA... ." Tawa David menggelegar memecah koridor perusahaan, membuat Erick memutar bola mata malas.


Kagum? Apa bos nya itu buta? Mereka tertawa bukan karena kagum dengan penampilan barunya, tapi karena menertawakan penampilannya yang aneh dengan kumis sial*n itu.


"Jadi lebih baik kau pakai kumis itu setiap hari, karena aku ragu, mungkin kau tak bisa menumbuhkan kumis mu sendiri, hahaha..."


Hinaan itu membuat Erick sontak semakin kesal saja, laki-laki itu bahkan sudah bebal dengan tingkah David yang selalu saja kekanakan.


"Mas..." Sapa Hanna yang baru keluar dari pintu lift dan mendapati suaminya yang akan memasuki ruangannya.


"Hai sayang, kau sudah datang?" Berbalik, laki-laki itupun merengkuh tubuh sang istri dan tak lupa mendaratkan ciumannya tanpa rasa malu di hadapan asisten dan kedua sekretarisnya.


Hanna tak protes, perempuan itu diam saja menerima perlakuan manis dari sang suami, karena ia yakin, sekalipun ia memberontak, suaminya itu akan tetap bertindak semaunya sendiri.


Tiba-tiba Hanna mengernyit, "Asisten Erick? Itu asisten Erick mas?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Double Up yuhu


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2