
°°°~Happy Reading~°°°
"Sayang, come on. Dia akan jatuh... ."
Menatap wajah David yang kian panik, Hanna lantas mengambil baby Arshell dari dekapan sang suami. Membuat David sontak bernafas lega. Hampir saja jantungnya copot saat bayi mungil itu mulai menggeliat di dekapannya. Bahkan dirasakannya bayi mungil itu hendak menggelinding, jatuh dari pangkuannya.
"Mas nih harus banyak latihan lagi," sindir Hanna pada sang suami yang rupanya tak segarang penampilannya. Di luar saja badannya tampak kekar berotot, namun nyatanya, menggendong bayi semenit saja sudah teriak-teriak ketakutan.
"Dia gerak-gerak sayang, mau gelinding tadi..." kilah David penuh alasan.
Mana ada bayi gelinding tuan David... .
"Ck, begitu saja takut" cibir Arsha menatap remeh ke arah David. Bagaimana bisa laki-laki dewasa itu takut pada seorang bayi kecil. Ia saja berani menggendong adik laki-laki nya. Sedang laki-laki itu? Ck, sangat tidak becus.
"Boy!" Peringat Marvell pada celetukan Arsha yang mengudara tanpa filter. Putranya itu memang selalu bicara apa adanya, bahkan cenderung sarkas dan menusuk hati. Entah itu akan menyakiti hati orang lain atau tidak, bocah laki-laki itu tidak perduli. Yang penting pemikirannya tersampaikan tanpa harus di tutup-tutupi. Watak itu benar menurun darinya, Marvell akui itu.
"I speak according to reality, dad*" seru Arsha dengan wajah datar tanpa menunjukkan rasa bersalahnya.
*(Aku berbicara sesuai kenyataan, dad)
"it's not good, boy" saran Marvell. Jika itu untuk orang lain, mungkin itu tidak masalah. Namun jika itu ditujukan untuk David, calon besan incarannya, itu akan menjadi masalah serius nantinya.
"I hope you are not offended, tuan David. My son really likes to joke."*
*(saya harap anda tidak tersinggung, tuan David. Putraku memang suka melawak.)
Seru Marvell merasa tak enak pada sang rekan bisnis. Jangan sampai laki-laki itu merasa tersinggung hingga membuat rencana perjodohan itu gagal nantinya.
"Ouh, it's oke tuan Marvell. I salute your son, he is too honest."
__ADS_1
*(Ouh, tidak apa-apa tuan Marvell. Saya malah salut pada putra anda, dia terlalu jujur)
Timpal David menunjukkan senyum tipisnya seolah tak terpengaruh oleh celotehan Arsha. Namun ketahuilah, jauh dalam lubuk hatinya, laki-laki itu merutuk tak terima. Bisa-bisanya bocah ingusan itu meremehkan dirinya, merutuki ketakutannya.
Ahhh, membayangkan hal itu membuat David semakin kesal saja.
"Shhht... Sial*n, bocah ingusan itu benar-benar menyebalkan. Bagaimanapun aku tak akan bisa menyerahkan putriku pada bocah seperti itu, tidak akan!" Umpat David dalam hati sembari menatap nyalang pada si kecil Arsha.
Sedang Arsha, bocah laki-laki itu tampak santai saja mendapati tatapan sinis dari sang "calon mertua".
"Mommy mommy..." Lama tak terlihat, akhirnya kedua gadis kecil itu kembali bergabung dengan keluarganya setelah selesai membersihkan wajahnya dari sisa rona merah buah naga. Kedua gadis kecil itu sontak mengerubungi Hanna yang kini tengah memangku baby Arshell yang tampak tenang di pangkuannya.
"Molla mau tium dedek Acell bolleh myh?" tanya Maura penuh antusias pada sang mommy.
"Minta izin pada aunty Hanna," titah Hanna.
"Bolleh onty?" lirihnya malu-malu.
Cup cup cup... .
"Dedek Acell gemoyi kaball-kaball..." selorohnya sembari mengusap kedua pipi chubby itu penuh sayang.
Hanna mengulum senyum tipisnya, putri kecilnya itu terlihat begitu menyayangi adik sahabatnya, ia berharap putri kecilnya juga akan mampu menyayangi calon adiknya, nantinya.
"Dedek Acell eundak bisha bicalla Molla, pashti kallau di ajak shuppik-shuppik tuma bisha oek-oek mulullu, Ashi shuka sheuball jadina," seloroh Arshi menimpali celotehan sang sahabat yang tak mendapat banyak respon dari si kecil Arshell.
"Shius Ashi?"
Angguk Arshi. "Hihhh, shius Molla. Nih Ashi toba ya..."
__ADS_1
"Dedek Acell, shuppik-shuppik dong..." seru Arshi mencoba memancing sang adik laki-laki agar mau membuka suaranya. Jari mungilnya pun kini bergerak menoel-noel lesung pipi baby Arshell yang kini tak begitu nampak karena tertimbun lemak di pipinya, membuat baby Arshell sontak bergerak gelisah dan mengeluarkan rengekan khas bayinya karena merasa terganggu oleh sentuhan sang kakak perempuan.
"Oek... Oekk... ."
"Tuh kan dedek Acell eundak bisha shuppik-shuppik..." seru Arshi bangga karena mampu menunjukkan kebenarannya.
"Sayang, adiknya kan masih bayi. Jadi belum bisa bicara dong..." Sahut Anelis memberikan pengertian. Jika tidak segera di luruskan, putrinya itu akan semakin membahayakan.
"Tapi waktu Ashi mashih baby, Ashi bisha shuppik-shuppik kok myh, kok dedek Acell eundak bisha?" sanggah Arshi.
"Bisa bicara apaan? Sudah sebesar ini saja kamu belum bisa bicara dengan baik Arshi," kalimat pedas itu meluncur deras dari mulut kejam Arsha. Arsha, bocah laki-laki itu tampak santai saat pelototan Arshi kini menghunus ke arahnya.
"Asha eundak bolleh shuppik-shuppik shepeulti itu, Ashi eundak shuka. Nanti Ashi adu ke daddy shupaya Asha eundak bolleh liding-liding di luang kellja na daddyh."
"Terserah!"
"Mommyh... ."
"Sayang... ."
"Hwaaa, Asha dahat... ."
"Oekkk... Oekkk... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Riweh memang kalau duo bocil udah berdebat, pasti ujung-ujungnya Arshi yang mewek
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕