
°°°~Happy Reading~°°°
"Shuttop, onty dotell eundak bolleh opun-opun baju na mommy..." Sentak gadis kecil itu menghentikan pergerakan sang dokter.
*Opun-opun: open-open/buka-buka.
"Kenapa girl?"
"Itu aulolla daddy, kallau onty dotell opun-opun pullut na mommy shepeulti tadi, nanti mommy beulldosha, eundak bolleh..." Rutuk gadis kecil itu sembari menutup kembali perut sang mommy rapat-rapat.
*Aulolla : Aurora/aurat.
Membuat Hanna sontak tergelak, perempuan itu benar-benar tak menduga atas aksi absurd sang putri tercinta.
"Tidak apa-apa sayang, kan dokternya perempuan, jadi tidak apa-apa kalau lihat perutnya mommy..."
"Mommy lupa? Itu ada daddy. Daddy kan towok, eundak pellempuan. Beullalti daddy eundak bolleh shini hallush kellual shana biall eundak lihat-lihat aulolla na mommy..." Sanggah Maura, membuat Hanna makin tergelak saja dengan celotehan sang putri yang tiada habisnya.
"Hahaha, astaghfirullah mas, kamu di usir Maura tuh..."
David mendelik.
Apa istrinya itu menganggap serius perkataan sang putri?
"Sayang... Seriously? Hanya melihat perutmu saja kau menyuruhku keluar? Aku bahkan sudah biasa melihat yang lain, aku juga biasa menyentuh bahkan merasakan--"
"Mas..." Tukas Hanna menghentikan pembelaan sang suami.
"Jangan di terusin ih, malu..." Cicit Hanna agar tak sampai terdengar oleh dokter juga beberapa suster yang ikut dalam pemeriksaan kandungannya.
Namun harapan tinggal harapan, nyatanya mereka kini diam-diam tersenyum geli akan drama keluarga itu.
"Huhhh..." Laki-laki itu mendengus, ia tak habis pikir jika dirinya benar-benar akan di usir oleh istri dan putrinya sendiri.
__ADS_1
"Mommy.. kok Molla di tuekin sih?"
"Oh ya Allah sayang iya..." Hanna menepuk keningnya, rupanya pembahasan opun-opun masih berlanjut juga.
"Molla beunnal kan, daddy hallush kellual shana..." Gadis kecil itu benar-benar mengusir sang daddy, tangan mungilnya kini bahkan bergerak mendorong tubuh kekar itu, membuat wajah David sontak memerah padam.
"Sayang..." Rengek David meminta pertolongan sang istri.
"Sayang, berhenti Maura..."
Membuat gadis kecil itu menghentikan aksinya.
"Keunnapa myh, daddy kan hallush kellual biall eundak bisha lihat-lihat aulolla na mommy?"
"Daddy boleh lihat perut nya mommy kok sayang, kan daddy daddy nya Maura sama adek, jadi boleh lihat perutnya mommy juga"
"Setelah bajunya mommy nanti di buka, kita bisa lihat sama-sama adik bayinya Maura, heummm..." Papar Hanna dengan tingkat kesabaran ekstra.
"Lihat dedek bayi oek-oek na hallush opun-opun baju na mommy dullu? Eundak bisha intip-intip aja, biall aulolla na mommy eundak lihat-lihat..."
"Heummm, baiklah..." Angguk Maura sembari melepaskan baju sang mommy dari cengkramannya.
Dokter Stephanie pun kembali melanjutkan aksinya yang lama tertunda, jemari tangan nya kini dengan lihainya memainkan alat USG itu di atas perut Hanna yang sudah diolesi gell khusus.
"Apa anda bisa lihat bulatan kecil ini tuan, nona?" Tunjuk dokter Stephanie pada layar monitor.
David mengangguk dengan antusias, "yeah..."
"Jadi ini calon baby nya ya, usianya masih 7 minggu, jadi masih kecil kira-kira sebesar apel hijau. Semuanya dalam keadaan baik, perkembangan janin juga baik."
"Apa dia sehat? Apa yang dia lakukan disana?"
Terlalu antusias nyatanya juga tidak baik-baik amat, terbukti pertanyaan bodoh David kali ini sukses membuat dokter Stephanie kebingungan untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Eummm, karena masih berusia 7 minggu, baby nya masih belum terbentuk sempurna tuan, jadi hanya ada pergerakan-pergerakan yang sangat lembut dan tentu nona Hanna belum bisa merasakannya..."
David hanya manggut-manggut berusaha mengerti ucapan sang dokter yang kini menjadi pembelajaran baru baginya.
"Eummm, apa tuan dan nona ingin mendengarkan detak jantung baby nya?"
"A-apa bisa?" Tanya David ragu.
"Tentu saja tuan..."
Dokter Stephanie kembali fokus dengan alat-alat medisnya, hingga tak berapa lama kemudian, terdengarlah bunyi detak jantung mulai menggema memecah keheningan.
Deg-deg... Deg-deg... Deg-deg...
Bunyinya keras dan nyaring, cepat dan berirama, membuat David seketika terperangah.
Jantungnya berdetak cepat, bulir permata itu tak sengaja luruh dari pelupuk matanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu hal yang luar biasa, entah perasaan apa itu, ia tak mampu menjabarkannya. Namun yang pasti, laki-laki itu tengah berada dalam puncak bahagia.
Seketika David merengkuh Hanna yang masih terbaring di atas ranjang, laki-laki itu tak mampu lagi menahan haru yang begitu membuncah saat dirinya dapat mendengarkan detak jantung sang baby untuk pertama kalinya.
"It's our baby honey..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Sepertinya udah pada paham sama bahasa planet nya Molla ya, jadi lain kali ngga usah othor terjemahin ya chingu✌️
Hayo pilih mana😂
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja