
°°°~Happy Reading~°°°
"Sayang, gimana kalau nanti mas jadi gendut beneran, terus perut mas ngga sixpack lagi gimana..." keluh David menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri. Akhir-akhir ini dirinya memang terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak dalam porsi besar, berat badannya pun terancam naik, beruntung ia bisa mengontrolnya dengan aktif melakukan olahraga pagi.
"Ngga papa mas, mas tetap ganteng kok walaupun nanti tambah gendut sekalipun..."
Membuat David sontak melayang ke atas awan. "sayang..." Laki-laki itupun semakin menduselkan wajahnya ke dalam rengkuhan sang istri karena meleleh dengan gombalan Hanna yang jelas-jelas tengah berusaha menenangkan dirinya yang terbakar oleh celotehan sang putri.
"Mas... Malu ah sama mama..." Lirih Hanna berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami, perempuan itu bahkan masih mengukir senyum meski kini tengah dipermalukan suaminya di depan ibu mertuanya sendiri.
Diam-diam Hanna merutuk, bagaimana bisa laki-laki itu dengan tanpa canggungnya memeluk bahkan menciuminya disaat mama Agatha kini tengah menatapnya jengah tanpa ekspresi?
"Cih, kamu tuh benar-benar ngga tau tempat ya Dave, bisa-bisanya pelukan di depan mama sama Maura, ck... bikin mata mama terkontaminasi aja..." decak mama Agatha merutuki tingkah tak tau malu sang putra.
Dari pada ia semakin iri dengan keromantisan itu, lebih baik dirinya enyah dari sana dan segera menemui suami tercintanya.
Mama Agatha pun kini beranjak dari duduknya, membungkukkan badannya dan mencium kening sang cucu dengan sayangnya.
"Baik-baik ya cucunya granny, kalau daddy peluk-peluk mommy lagi, kamu pukul aja daddy mu yang suka mes*m itu ya sayang..."
Membuat Maura sontak mengernyit, "Mushum? Mushum itu apa glanny?" tanya Maura penuh tanda tanya.
"Tanya daddy kamu aja ya, granny mau nyusul grandpa dulu, muachhh muachhh..." Pamit mama Agatha setelah melabuhkan dua kecupan di pipi gembul Maura, perempuan itupun melenggang keluar dengan melemparkan tatapan peringatan pada sang putra.
"Daddy, mushum itu apa? Kok glanny shuppik-shuppik kallau daddy shuka mushum?"
Membuat David dan Hanna sontak saling pandang, Hanna mengedikkan bahu jengah, seolah berisyarat jika kali ini ia tak ingin dilibatkan.
"Sayang, gimana?" bisik David setengah frustasi.
Hanna menarik nafas dalam-dalam. "mas harus bertanggungjawab, jika saja mas tidak memulai, mas juga tidak perlu mengakhiri, benarkan?"
Membuat David semakin terpojok, "tapi sayang..."
__ADS_1
"Ihhh, Mommy shama Daddy kok malah shuppik-shuppik sheundilli, Molla anggullin?" Gadis kecil itu mengerucut kesal, merasa diabaikan.
David menyugar rambutnya frustrasi, "sayang..." rengeknya, sampai gadis kecil itu mendapatkan jawabannya, Maura masih akan terus mengejarnya.
"Tanggung jawab dong mas..."
"Daddy..."
Dengar sendiri, kan? Bahkan belum ada satu menit Maura mengatupkan mulutnya, gadis kecil itu sudah menagih saja jawabannya.
"Itu girl, eummm... Mesum itu-- eummm... makanan..." pekik David mendapatkan ide brilian.
Membuat Hanna sontak mengernyit.
"Ya, makanan yang sangat enak..." ulang David penuh keyakinan
Gadis kecil itu terlihat mengernyit, berpikir keras, "mamam? Jadi daddy shuka mamam mushum?"
Angguk David, "yeah, of course girl..."
Mendengar pertanyaan dari sang putri, membuat Hanna sontak mendelik, suaminya itu benar-benar tidak bisa diandalkan.
"Mas, kamu memperkeruh suasana..." decak Hanna.
Hingga terdengar pintu ruangan di ketuk dari luar, buru-buru David mempersilahkannya masuk agar dirinya bisa terhindar dari amukan sang istri.
aman aman...
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok asisten Erick dengan penampilannya yang sama seperti sebelumnya, meski enggan, namun faktanya kumis tebal itu masih saja bertengger di atas bibirnya.
"Itu shapa myh?" selidik Maura pada sosok laki-laki berkumis di depannya. Tidak mengenal tapi merasa tak asing, pikirnya.
"Itu uncle Erick sayang..." timpal Hanna tak ingin membuat kebingungan sang putri semakin membuncah.
__ADS_1
"Hahhh... Uncle Lick-Lick? Itu beunellan uncle Lick-Lick myh?" pekik Maura penuh keterkejutan.
Angguk Hanna.
Maura sontak berlari mendekat pada Erick. "Woahhh, ini beunnal uncle Lick-Lick?" tanya Maura memastikan.
Erik mengangguk pasrah, dikiranya ia akan mendapatkan panggilan ajaib lagi dari gadis kecil itu, tentunya panggilan yang tidak mengenakkan, karena ia sadar jika penampilannya kali ini begitu buruk dan-- memalukan.
"Woahhh uncle Lick Lick jadi tambah tampan, Molla shuka Molla shuka. Mullai sheukallang uncle Lick-Lick jadi uncle tampan na Molla ya, hihihi..." puji Maura pada sang asisten, membuat semua terperangah, apalagi Erick yang tak menyangka jika dirinya akan mendapatkan pujian dari putri cantik sang CEO.
"A-anda serius nona muda?" tanya Erick memastikan.
Maura mengangguk dengan cepat, " ya ya... Molla shius uncle tampan, hihihi..."
"Tapi tetap saja lebih tampan daddy, benar kan girl?" seloroh David merasa iri akan pujian sang putri.
Sejenak Maura menimbang, lalu menggeleng dengan cepat, "no no daddy, lebih tampan uncle tampan na Molla..."
David seketika mendelik. " GIRL..." sahut David menaikkan nada suaranya, membuat gadis kecil itu seketika terkikik.
"Hahaha, daddy angli, hihihi... Daddy eundak bolleh engli-engli enjin ya daddy, Molla tuman kiding, ahahaha..."
*kiding : kidding/bercanda.
"Girl, awas kamu ya..." Peringat David pada sang putri yang sudah dengan beraninya menggodanya.
"HAHAHA, MOMMYH, HEP-HEP MOLLA MYH... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja