
°°°~Happy Reading~°°°
"Eungh... ."
Di tengah suasana mengharu biru itu, terdengar lenguhan lirih dari si kecil Maura. Tampak gadis kecil itu bergerak tak tenang, tidurnya terganggu saat mimpi buruk itu kembali datang menyergap.
"Euhh..." Gadis kecil itu bahkan terisak dalam tidurnya, membuat David sontak beranjak mendekati sang putri dan mencoba menenangkannya.
"Shhhut... Calm down Girl. Ini Daddy. Tidak ada yang bisa menyakitimu, Girl. Ada daddy..." Tangannya bergerak mengusap lembut kepala sang putri. Tak bisa dipungkiri, David benar-benar khawatir saat putri kecilnya itu bahkan terisak dalam tidurnya.
Apa trauma itu begitu dalam melukai hatinya?
Perlahan si kecil Maura mulai mengerjap. Membuat David sontak di buat lega.
"Putri daddy sudah bangun... ."
Maura menatap kosong pada bingkai wajah sang daddy. Lalu tak lama suara tangisan itu kembali menggaung saat ingatan itu kembali memenuhi isi kepalanya. Maura benar-benar trauma akan sosok bu Nurma yang telah begitu banyak menyakitinya.
"Hiks... Daddy Molla eundak mau shini. Molla mau pullang, Molla eundak mau shini, hiks..." racau Maura tak sadar jika dirinya kini telah berada di kediaman.
__ADS_1
"Tenanglah, Girl... Kita sudah di rumah. Don't cry anymore, Baby... ."
"Molla eundak mau shini. Mommy na Bobby shulluh pulgi. Molla eundak mau mommy na Bobby. Mommy na Bobby dahat, Molla eundak mau, hwa..." Tanpa mendengar penjelasan dari sang daddy, gadis kecil itu terus saja meracau. Tangisannya kian menggema, tubuhnya pun semakin bergerak tak tentu arah. Membuat David terpaksa menahan tangan kiri sang putri yang tertancap tajamnya jarum infus.
"Sayang, tenang ya. Ini mommy..." Hanna ikut mendekat. Melihat sang putri yang begitu trauma, ia pun menjadi tak tega. Meski keadaannya sendiri belum sepenuhnya pulih, namun putrinya lebih membutuhkannya.
"Mommy ayo pullang. Molla eundak mau shini, Molla mau pullang, hwa..." Maura semakin meronta, membuat David mau tak mau akhirnya menggendong tubuh sang putri, sedang Hanna, perempuan itu menahan tangan sang putri agar tak sampai terluka akan jarum infus yang masih tertancap di pergelangan tangannya.
"Hwa... Daddy lupash, Molla mau pullang, hiks..." Di tahan seperti itu membuat gadis kecil itu semakin bergerak liar.
"Calm down girl. Tenanglah... ."
"Dengarkan Daddy. Maura sekarang sudah di rumah. Mommy nya Bobby sudah pergi. Tidak ada yang bisa sakiti Maura lagi, di sini ada Daddy. Nanti akan daddy hukum siapa saja yang nakal sama Maura, heummm... ."
"Da-ddyh, hiks..." lirih Maura lemas tak bertenaga.
"Yes girl, ini daddy..." sahut David menimpali. Tangannya kini tak henti mengusap lembut punggung kecil dalam dekapannya. David benar-benar hancur saat menatap pada sang putri yang mendadak histeris kala mengingat akan masa kelamnya.
"Mommy na Bobby eundak ada shini kan daddy, Molla tatut, Molla eundak mau beultemu shama mommy na Bobby. Mommy na Bobby dahat, Molla tatut, hiks..." rintih gadis kecil itu mengeratkan rengkuhannya. Ketakutan itu benar nyata adanya. Maura benar-benar takut akan sosok bu Nurma yang selalu berhasil menyakitinya.
__ADS_1
"Yes girl. Mommy nya Bobby sudah pergi jauh, dia tidak akan bisa menyakiti kamu lagi, Girl. Ada daddy... ."
"Mommy na Bobby dahat, Molla eundak mau shama mommy na Bobby hiks..." seru Maura hampir-hampir kembali menangis.
"Shhhut, its oke. Tenanglah. Putri cantik daddy tidak boleh menangis lagi. Lihat, kasihan mommy khawatir sama Maura... ."
Membuat Maura sontak beralih menatap pada sang mommy, buliran air mata itu bahkan masih tampak jelas mengaliri wajahnya yang sembab kala menatap pada sang putri yang tadi menangis histeris.
"Mommyh, mau mommy..." Gadis kecil itu merentangkan tangannya ingin di gendong sang mommy. Hanna yang sudah bersiap menerima uluran tangan sang putri sontak tertahan saat suaminya itu angkat bicara.
"Jangan gendong Maura dulu ya, kondisi kamu belum pulih..." pinta David mengikuti saran sang dokter obgyn.
"Maura sama daddy dulu ya. Kasihan adek bayinya... ."
"Mau tidull pulluk mommy shama daddy... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕