
°°°~Happy Reading~°°°
"Lihat, dia rakus sekali" cibir David menatap tak suka pada bayi mungil di dekapan sang istri.
"Seperti kamu kan mas?" kekeh Hanna. Wajah suaminya kini benar-benar terlihat jengkel. Apa laki-laki itu tengah iri pada putranya sendiri?
Dasar David kekanakan.
"Ngga. Lebih rakusan dia, mas cuman dikit-dikit kok..." kilah David.
"Hei, pelan-pelan saja. Aku tidak akan merebutnya." Peringat David menoel-noel pipi chubby bayi menggemaskan itu.
Bayi mungil itu tak lantas menghentikan isapannya. Sebaliknya, bayi mungil itu malah semakin kuat menghisap saat dirasakannya air susu itu begitu menyegarkan dahaganya.
"Lihat, dia bahkan tidak mendengarkan peringatanku?!"
"Mas yang ngga pengertian. Adek lapar mas... ."
"Bilang saja kalau dia mes--"
Ucapannya tertahan saat cubitan kecil itu menghujam lengan tangannya, membuat David seketika merintih.
"Ah- ahhh... Sayang..." rintih David memohon untuk dilepaskan.
"Mas sih, kalau ngomong ngga pernah di saring... ."
"Ngga sengaja, Sayang... ."
Selang beberapa puluh menit berlalu, bayi mungil itu lantas melepaskan sumber ASI nya, menandakan jika dahaga itu sudah terpuaskan. Membuat sang dokter mengambil kembali bayi mungil itu dari dekapan sang mommy.
Eaaaa... .
Bayi mungil itu terlihat enggan saat dekapan hangat sang mommy hilang dari rengkuhannya, membuat dokter itu tergelak.
"Sepertinya baby nya tidak mau jauh-jauh dari mommy nya, ahahaha... ."
__ADS_1
"Sekarang giliran sama daddy ya ganteng... ."
"Mari tuan." ajak sang dokter.
David mengernyit. "Apa?"
"Sekarang waktunya anda melakukan skin to skin contact dengan bayi anda."
"A-aku?" David menunjuk dirinya sendiri dengan ragu.
"Iya tuan."
Eaaa... Oeee... .
Bayi mungil itu semakin menangis histeris, menunjukkan jika ia tak ingin jauh-jauh dari yang terkasih.
"Mari tuan." Ajak sang dokter setengah memaksa.
"Tapi--"
Memaksa David duduk di atas kursi yang sudah disediakan. Dokter perempuan itupun segera meletakkan bayi mungil itu di atas dada David yang dibiarkan tersibak.
Hangat kulit David begitu terasa, membuat bayi mungil itu lantas menghentikan tangisannya. Kelopak matanya berkedip-kedip menatap sang daddy yang terlihat was-was.
"A-apa benar seperti ini? Ini tidak akan melukai bayinya kan?" cicit David merasa tak nyaman ketika benda kecil itu menempel di tubuhnya.
"Tidak tuan. Anda rileks saja."
David kembali menatap pada bayi mungil di dekapannya.
"Kenapa dia kecil sekali?" Sahut David bermonolog. Sebelah tangannya pun mengusap pipi chubby itu dengan gerakan perlahan. Dirasakannya ada gelenyar aneh yang kini mengusik relung hatinya, bahkan air mata itu di buat hampir menetes.
"Kenapa kamu membuatku hampir menangis, heummm..." keluhnya, laki-laki itu sudah seperti orang gila, tersenyum lebar namun kedua bola matanya berkaca-kaca.
"Kenapa diam saja boy, kamu tak ingin menyapa Daddy?" ucapnya tak lagi dapat menahan isak.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Selesai Hanna dan sang bayi di bersihkan, saatnya keduanya dipindahkan ke ruangan VVIP yang sebelumnya telah disiapkan.
Pintu kaca itu di buka lebar, menampilkan sosok David yang dengan setia berada di sisi sang istri yang masih terbaring lemah. Membuat mama Agatha sontak mendelik saat menatap pada hal yang ganjal.
"David!!!" Sentak mama Agatha langsung berhambur mendekat pada sang putra.
Plak... Plak... .
Perempuan tak lagi muda itu bahkan tak segan memukuli lengan kekar sang putra, membuat David mengernyit bingung.
"Apa sih ma... ."
"Kamu yang apa-apaan Dav... ."
"Apa pantas pakai beginian di rumah sakit?"
Hanna dan David sontak menatap pada baju yang di kenakan David, membuat keduanya membeliak. Saking gugup menghadapi persalinan, keduanya bahkan tak sadar jika David masih mengenakan kimono mandinya.
"Shiiit... " Laki-laki itu berdecak. Jadi dari tadi ia menjadi pemandangan gratis untuk para perawat di dalam.
Ahhh, sial.
"Mas, ini pake selimutnya."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Mau di kasih nama apa ya dedek bayi oek-oek nya, hihihi
Happy reading semua
Saranghaja
__ADS_1