Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Jagoan


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Glanny... ."


Gadis kecil itu berlari kencang mendekat pada sang granny yang tengah duduk tak tenang di ruang tunggu rumah sakit.


Membuat mama Agatha sontak beranjak, merengkuh gadis kecil yang tengah terisak itu.


"Sayang... ."


"Glanny, mommy mana? Molla mau mommy, hiks..." isak Maura dalam rengkuhan sang granny.


"Ouhhh, cantiknya granny kenapa menangis, heummm... ."


"Mommy shama daddy peullgi tiba-tiba. Eundak ajak Molla. Molla tellupa. Hiks..." Isak gadis kecil itu mendusel dalam rengkuhan mama Agatha.


"Ouhhh, kasihannya cucu granny," gelak mama Agatha akan ucapan si kecil Maura.


Apa? Gadis kecil itu terlupakan? Ada-ada saja tingkah cucu perempuannya itu.


"Udah dong nangisnya. Kan sebentar lagi adiknya mau keluar... ."


"Mau lihat dedek bayi oek-oek na mullutush."


Membuat mama Agatha sontak membeliak. "Eh? Tidak boleh dong sayang. Maura tunggu disini dulu ya sama granny. Itu mommy nya Maura ada di dalam sana, " tunjuk mama Agatha pada ruangan didepannya.

__ADS_1


"Mau shana. Mau mommy, sruk... ."


"Kita tunggu disini ya cantik. Tunggu sampai baby nya keluar, baru boleh masuk." Mama Agatha serasa di buat pusing tujuh keliling. Gadis kecil itu tak mudah untuk dihadapi.


"Kallau dalam shana takut mullutush-- Duall?"


Membuat mama Agatha sontak tergelak. "Ahahaha, meletus? Dikira balon, ahahaha... ."


"Kok glanny teulltawa?" Gadis kecil itu mengernyit bingung. Kenapa granny nya itu tiba-tiba tertawa seperti orang gila?


"Ngga sayang, ini ingusnya Maura bentuknya lucu, ahahaha..." Sembari mengusap ingus Maura dengan sehelai tissue di dalam tasnya.


"Mah, kamu gimana sih. Bukannya coba ditenangin malah di godain seperti itu," peringat tuan Sebastian. Kalau saja putranya itu memergoki putrinya tengah menangis akibat ulah sang istri, bisa-bisa gempar seluruh rumah sakit.


"Sini gendong grandpa, Girl."


🍁🍁🍁


Suara tangis itu menggelegar memecah ketegangan. Hanna menghembuskan nafas kasar, letih luar biasa ia rasakan setelah berjuang melahirkan sosok bayi mungil yang sudah sembilan bulan ini di kandungnya. Keringat yang membasahi wajahnya menunjukkan dengan jelas, seberapa keras perempuan itu berjuang melahirkan bayi kecilnya.


"Terimakasih sayang, kamu luar biasa. I love you so much, Honey..." Laki-laki itu tak henti menghujani wajah Hanna dengan kecupan. Perasaannya tak lagi dapat di jabarkan, bahagia itu bahkan membuat tangisnya kini semakin menjadi di rengkuhan sang istri tercinta.


"Mas, nanti diketawain adek loh..." Kekeh Hanna mengusap helai rambut sang suami yang masih saja terisak di rengkuhannya. Rupanya perempuan itu tengah berusaha mencairkan suasana. Suaminya itu terlalu mengharu biru hingga kini menangis terisak di rengkuhannya.


"Nanti mas ketawain balik. Dia nangisnya lebih kenceng," seloroh David tak perduli.

__ADS_1


Laki-laki itupun bangkit dari rengkuhan sang istri.


"Lihat, dia bahkan menangis begitu keras setelah membuat mommy nya kesakitan berjam-jam lamanya," mengusap lelehan bening di bawah matanya. Rasa haru tak dapat ia singkirkan saat menatap pada bayi mungil yang tengah menangis histeris di tangan sang dokter.


"Dia jagoan mas," seloroh Hanna dengan senyum manis menyungging di bibirnya.


Membuat David sontak membeliak, "Boy? Are you sure?"


"Mas tidak menyadarinya? Bahkan tangisannya begitu kencang."


"Benar tuan. Dia seorang jagoan. Lihat, dia tampan seperti anda," seloroh sang dokter mendekat pada sepasang suami istri yang tengah diliputi bahagia. Setelah bayi mungil itu tadi dibersihkan, kini saatnya bayi mungil itu mendapatkan asupan pertamanya.


"Sekarang, biarkan baby nya mencari sendiri sumber ASI nya." peringat sang dokter setelah meletakkan bayi mungil itu di atas dada Hanna yang dibiarkan terbuka.


Tangis seketika terhenti saat bayi mungil itu merasakan dekapan hangat sang mommy untuk pertama kalinya. Kelopak matanya yang kecil berkedip sesekali, menatap pada sang mommy yang tak henti merengkuhnya hangat.


Perlahan, bayi mungil itu mulai bergerak kecil mencari sumber ASI nya. Tak susah untuk mencarinya, baru beberapa menit, bayi laki-laki itu sudah menemukan sumber ASI nya dan langsung menghisapnya dengan rakus.


"Lihat, dia rakus sekali." Seloroh David menatap tak suka.


"Seperti kamu kan mas,"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu

__ADS_1


Happy reading


Saranghaja💕💕💕


__ADS_2