
°°°~Happy Reading~°°°
Langkah kaki itu mulai mengalun ke sebuah ruangan dimana menyimpan sosok perempuan cantik yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri, langkahnya terasa berat, David benar-benar tak kuasa untuk memperlihatkan keadaan Hanna yang sebenarnya pada putri kecilnya yang masih tak tau apa-apa itu.
"Daddy... Itu shapa?"
Maura menatap bingung pada sosok yang kini tengah terbaring lemah di atas ranjang rawatnya, gadis kecil itu belum terbiasa dengan penampilan baru sang mommy yang kini terlihat begitu cantik dengan hijab yang membalut kepalanya.
David mengeratkan rengkuhannya, di kecupnya kening sang putri dengan menahan segala rasa sesak yang kian mendera dalam dada.
"Itu mommy sayang..." Bisiknya, suaranya lirih penuh akan kegetiran, tak mampu ia menatap pada wajah sang putri yang kini terlihat kebingungan.
"Hmmm... Mommy? Mommy na Molla?"
Angguk David.
Maura menajamkan indra penglihatannya, sontak gadis kecil itu berbinar bahagia saat menyadari perempuan cantik itu benar-benar sang mommy yang kini tengah dirindukannya.
"Iya, itu mommy... Mommy na Molla, hihihi..."
Gadis kecil itu merundukkan tubuhnya, jemari mungilnya mengulur menyentuh lengan sang mommy yang tak sedikitpun bergerak untuk sekedar merengkuhnya.
"Mommy... Mommy banun, inni Molla... Mommy eundak mahu pelluk Molla?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari gadis polos itu, membuat David sontak tersenyum getir, bagaimana jika putri kecilnya itu tau bagaimana keadaan Hanna yang sebenarnya?
"Daddy... Mommy kok bobok mulullu shih, mommy kok eundak mau banun tullush pelluk Molla, mommy eundak kangen shama Molla?" Manik matanya mulai berkaca-kaca, gadis kecil itu benar-benar takut jika sang mommy benar-benar marah padanya.
"No... Mommy sayang Maura"
"Kalau shayang Molla, keunnapa mommy eundak mahu pulluk Molla. Molla nakal ya daddy kalluna shuka nanit-nanit, hiks..." Air mata itu berangsur luruh membasahi wajah cantik Maura, gadis kecil itu benar-benar rapuh dan mudah menangis akan hal-hal kecil yang berhasil mengusik hatinya.
__ADS_1
"No, siapa bilang putri cantik daddy ini nakal, hmmm... Mommy tidur karena mommy masih capek sayang, semalam kan mommy tungguin Maura tidur sampai pagi. Jadi, mommy masih mengantuk..." Kilah David.
"Tullush mommy banun na kapan daddy? Molla udah kangen mommy, pengen pelluk mommy banak-banak..." Pinta Maura.
"Secepatnya girl, mommy akan segera bangun dan peluk Maura lagi, hmmm..." Sahut David berusaha meyakinkan dirinya yang tengah diselimuti kabut keraguan.
"Molla bolleh tium mommy, daddy?" Pinta Maura penuh harap.
"Of course girl..." Didekatkannya Maura dengan wajah lelap Hanna.
Cup...
Cup...
Dua kecupan hangat berhasil mendarat di kening Hanna, Maura, gadis kecil itu sontak menarik indah bibir manisnya.
"Mommy teupat banun ya... Molla kangen mommy, mau pelluk mommy banak-banak, muach..." Satu kecupan kembali mendarat di kening Hanna.
🍁🍁🍁
Sampai malam hari, Maura masih setia menemani sang mommy di ranjang miliknya. Ranjang tambahan yang di minta David secara khusus untuk di letakkan di samping ranjang milik Hanna karena gadis kecil itu tetap bersikukuh tak mau meninggalkan sang mommy sedetikpun.
Tentu ini telah melewati segala prosedur rumah sakit, asalkan tak mengganggu pasien, maka hal itu tetap sah-sah saja untuk dilakukan. Malahan, inilah yang di anjurkan, ditemani oleh orang-orang tersayang, mungkin ini akan menjadikan pasien memiliki semangat hidup lebih besar hingga akhirnya tersadar dari koma nya.
Gadis kecil itupun tak henti menatap sang mommy penuh harap, berharap agar mommy nya itu segera membuka mata dan memeluk hangat tubuh mungilnya.
"Daddy... Mommy kapan banun na, kok mommy eundak banun-banun dalli shiang?" Sahut Maura dengan wajah menekuk kecewa. Padahal dirinya sudah menemani sang mommy seharian, apa mommy nya itu masih marah dengannya hingga enggan membuka matanya?
"Mommy harus istirahat sayang, kan kemarin nungguin Maura tidur semalaman..."
__ADS_1
Gadis kecil itu menghela nafas berat.
"Mommy nantuk beullat kalluna beugadang temenin Molla ya daddy?"
Angguk David tak memiliki alasan lain.
Gadis kecil itu kembali beralih menatap pada sang mommy yang masih tertidur pulas.
"Mommy... Mommy ladi main shama peulli mimpi yah, kok eundak banun-banun shih... Molla kangen mommy... Mau pelluk mommy..." Bola mata itu mulai berkaca-kaca.
"Mommy tepetan banun ya myh, dangan main shama peulli mimpi mullullu, Molla shepian, mau main shama mommy ladi..."
"Molla eundak nakal ladi kok myh... Molla eundak nanit-nanit ladi, Molla kan anak kuat shepeulti mommyh..." Gadis kecil itu mengenyahkan setetes air mata yang tak sengaja jatuh membasahi wajahnya dengan gerakan cepat, seolah tak ingin ketahuan oleh sang mommy jika kini ia tengah terisak.
"Good girl... Sekarang kasih mommy semangat..." Sahut David setelah mendaratkan satu kecupan di kening sang putri.
"I love you mommyh..." Lirih Maura sebelum akhirnya mendekap erat sang daddy, menyelusupkan wajahnya yang mulai memerah menahan tangis itu dalam rengkuhan sang daddy.
"It's oke, putri daddy hebat. Maura harus bersabar menunggu mommy bangun, ok girl..." Angguk Maura masih setia menyembunyikan wajahnya di dada sang daddy, lirih isak tangis terdengar, namun tak lama isakan lirih itu mulai menghilang saat sang dewa mimpi mulai merengkuh gadis kecil itu dalam dekapan mimpi indahnya.
🍁🍁🍁
Aniong Thingu
Dangan lupa komen yang banak-banak ya thigu, xixixi...
Biall othor na sheumangat, hahaha
Happi Liding
__ADS_1
Shalanghaja💕💕💕