
°°°~Happy Reading~°°°
"Ck, pakai senyum-senyum segala. Apa dia mau menggoda istriku. Awas saja kalau berani..." Batin David menatap sinis pada pegawai laki-laki itu.
David bergerak cepat mendekati keberadaan sang istri, tanpa aba-aba, direngkuhnya bahu istrinya itu posesif, mengukuhkan jika hanya dirinya lah yang berhak atas tubuh itu.
Ingat! Tidak ada yang lain selain dirinya yang berhak atas tubuh berharga itu.
"Kau boleh pergi, aku sendiri yang akan melayani ISTRIKU..."
Pegawai itupun menyunggingkan senyum nya, sadar jika laki-laki didepannya merupakan tipikal suami posesif yang tak akan membiarkan istrinya di sentuh atau bahkan di pandang orang lain sekalipun.
"Baik tuan, nona, kalau begitu saya permisi dulu..."
Lagi-lagi pegawai itu menyunggingkan senyum lebarnya. Membuat David sontak bertambah kesal saja.
"Cih, dia tersenyum lagi? Benar-benar tidak tau malu. Dia kira orang-orang akan terpesona dengan senyum pepsodent nya itu? Ck... Bahkan aku saja merasa sangat jijik melihatnya..."
David tak henti mengoceh bak ibu-ibu kompleks yang kehilangan sandal jepit nya, membuat Hanna menghela nafas dalam-dalam.
"Mas..." Sembari mengusap lengan kekar sang suami yang kini tercetak jelas dari balik kemeja warna putihnya.
"Lihat sayang, bukankah aku tadi sudah mengatakan jika kau adalah istriku? Tapi lihat, dia malah tidak berhenti menggod*mu, benar-benar menjijikkan. Aku..."
"Mas, sudah... Dia kan pegawai disini, jadi wajar kalau dia harus ramah dengan calon pembelinya..." Lirih Hanna berusaha meredakan emosi sang suami yang kini sudah meluap-luap bagai bara api.
"Jadi kau lebih membelanya?"
Bukan, bukan itu yang dimaksud istrimu wahai tuan posesif.
"Bu--bukan begitu mas..." Perempuan itu jelas-jelas bingung bagaimana harus menjelaskan kesalahpahaman itu pada suami posesif nya.
__ADS_1
"Mommy shama daddy shuttop shuppik-shuppik na, nanti mainan na bullu culli ollang..." Keluh si kecil Maura saat mommy dan daddy nya itu tak henti berdebat.
"Oke girl, tadi kau mau mainan yang mana?" Sahut David pada akhirnya, acara ngambeknya di lanjutkan nanti saja di rumah, putusnya.
"Itu daddy, plincess Elsha..." Tunjuk nya pada mainan yang dimaksud.
"Baiklah..."
David bergerak mengulurkan tangannya mengambil mainan besar itu, lihatlah bagaimana pesonanya saat otot-otot tangannya mulai menyeruak dengan lengan kemeja yang di gulung ke atas, wajahnya yang dingin namun misterius, jelas memancing rasa penasaran setiap insan untuk lebih mengenalnya.
"Ini kan?"
Gadis kecil itu mengangguk dengan wajah berbinar, " tullu daddy, tapi..."
*Tullu: True, boleh
"Tapi?"
"Of course girl, kenapa tidak..."
Hingga kedua tangannya kini penuh akan dua mainan besar itu, begitu besar hingga tingginya hampir menyamai tubuh mungil putri kecilnya.
"Tencu daddy, daddy tullballik..."
Hah, Daddy terbalik?
Terbaik Maura...
🍁🍁🍁
Lama berkeliling di toko mainan, namun si kecil Maura belum juga mendapatkan mainan yang cocok untuk si dingin Arsha, meski mommy dan daddy nya sudah memberikan banyak referensi, namun gadis kecil itu terus saja menolaknya, berpikir jika mainan-mainan itu tak ada yang cocok untuk bocah laki-laki sedingin Arsha.
__ADS_1
Membuat David lama-lama jengkel juga, karena bocah ingusan itu ia harus rela membuang waktu berharga nya di toko mainan itu sampai berjam-jam lamanya.
Sungguh menjengkelkan.
Lalu kenapa ia tetap bertahan disana jika tak menyukainya, apa dia perduli pada bocah itu? Cih, perduli? tentu saja tidak. Ia hanya terpaksa karena sedari tadi putri kecilnya itu merengek ingin mencarikan mainan yang paling cocok di antara ratusan mainan yang terpajang.
Benar-benar merepotkan.
Apa untungnya memiliki wajah tampan namun dingin seperti kulkas?
Ck, David tak henti berdecak.
Jengkel sekali rasanya.
Hingga akhirnya mereka memilih menyerah, tak ada satupun mainan yang cocok untuk bocah laki-laki itu.
Berjalan dengan tangan hampa, tiba-tiba bola mata gadis kecil itu terlihat berbinar saat menatap pada setelan jas anak-anak yang kini terpasang di tubuh manekin di salah satu toko baju ternama, membuat gadis kecil itu sontak memekik bahagia.
"Daddy daddy, Molla mau itu shaja. Shepeulti na badus buat Asha, ya daddyh... yah..." Rengek Maura berusaha mengambil hati sang daddy yang sedari tadi berwajah masam.
"Hmmm, baiklah..."
Memaksa mereka untuk berbelok ke toko pakaian itu.
Tak banyak pertimbangan, si kecil Maura langsung minta di bungkus saja pakaian berharga fantastis itu, merasa jika hanuya pakaian itu yang akan pas dan cocok untuk laki-laki sedingin Arsha.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕