
°°°~Happy Reading~°°°
Selesai berbelanja, David mengajak keluarga kecilnya bertandang ke sebuah restoran mewah untuk menyantap menu makan siang. Maura yang sedari tadi merengek kelaparan pun kini menyantap makanannya dengan lahap. Bahkan bocah kecil itu hampir-hampir menghabiskan 2 porsi makan siang hingga membuat Hanna sendiri gelagapan.
"Sayang, kalau Maura sudah kenyang makannya sudah ya," bujuk Hanna pada sang putri yang masih saja lahap menyantap seafood didepannya.
"Siap myh..." Angguk nya masih dengan menggigit rakus sepotong lobster berukuran jumbo di tangannya.
"Maura tidak kenyang? Itu Maura sudah habis 2 piring loh..." Hanna bergidik ngeri menatap piring kosong sisa pasta dan sepiring seafood yang hampir-hampir di lahap habis oleh sang putri.
"Bellum myh, Molla mashih lapall-lapall. Shoal na, wallung na pullit sheukalli. Masha tuma kashih dikit mamam na, kan Molla jadi na mashih lapall-lapall tellush," keluh Maura pada sang restoran yang begitu perhitungan dalam menghidangkan makanannya.
Padahal, untuk ukuran restoran western, restoran bintang lima itu merupakan restoran dengan pelayan terbaik dengan menu-menu andalan yang selalu berhasil memanjakan lidah para pelanggannya.
Bilang saja makanannya terlalu enak hingga membuat gadis kecil itu menjadi rakus.
"Shhuttt, sayang... Ngga boleh bicara gitu dong. Nanti kalau kedengaran yang punya gimana..." Peringat Hanna sembari menoleh kiri kanan. Takut ada salah satu karyawan restoran atau bahkan petinggi restoran yang mendengar celotehan putrinya itu.
"Tidak apa-apa sayang. Lagian yang dikatakan Maura juga benar. Restorannya terlalu perhitungan. Lihat, mas saja masih lapar hanya dengan satu daging steak super tipis ini," David menunjuk olive wagyu di piringnya sedikit kesal. Dengan harga 10 juta per porsi, daging steak itu bahkan terlihat sangat tipis.
__ADS_1
Hingga tanpa diduga, seorang manajer restoran kini mendekati keberadaan mereka.
"Selamat siang tuan," sang manajer tampak antusias juga sedikit gugup saat menyapa pelanggannya. Aneh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu manajer di sini kan?" Tebak David yang langsung di angguki sang manajer.
"Oh iya, kebetulan kau disini. Kau lihat semua makanan di meja ku? Porsinya terlalu sedikit. Lihat, daging steak ini terlalu tipis. Yang ini porsinya seperti makanan kucing. Terlalu sedikit. Bahkan jika di makan mungkin hanya sampai di kerongkongan. Dan satu lagi, kau sudah membuat putriku tidak puas, dia tidak bisa kenyang hanya dengan makanan kucingmu itu," cecar David tanpa hati. Membuat para pelanggan menatapnya penuh tanda tanya. Mereka tidak makan di private room, melainkan di tempat biasa menikmati peran sebagai "pelanggan biasa".
Hanna menghela nafas dalam, karena terlalu sayangnya dengan sang putri, suaminya itu bahkan sampai komplain hanya karena sang putri yang tidak puas dengan porsi makanannya.
"Yes uncle, ini pashta na sheudikit sheukalli, jadi Molla mamam shiput lagi deh. Nanti kapan-kapan, uncle eundak bolleh peullit-peullit lagi yah. Kata beshti na Molla. Kalau peullit, kubullan na shumpit, uncle. Ihhh, ngulli..." sahut Maura ikut berkomentar. Membuat Hanna menepuk jidat, lagi-lagi putri kecilnya itu berguru dengan besti nya yang sudah pasti akan mengeluarkan kata-kata absurd dan nyeleneh.
"Maaf ya mas, atas komplain dari suami dan putri saya. Tapi sejujurnya makanannya sangat enak, jadi kami sangat menikmatinya," seru Hanna menatap tak enak pada sang manajer.
"Tidak apa-apa nyonya. Segera akan kami perbaiki keluhan tuan dan nyonya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya... ."
Sepeninggalan sang manajer restoran, Hanna kini beralih menatap pada sang suami dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Mas ngga boleh gitu dong, kan ngga enak sama manajernya tadi. Mereka mungkin hanya menjalankan tugasnya dari atasan. Kalau memang porsinya terlalu sedikit salahkan perutnya mas yang terlalu rakus atau sama pemiliknya sekalian," rutuk nya tak mengerti dengan jalan pikiran David.
Makan di restoran dengan di warteg jelas berbeda. Di restoran western porsi makanannya memang sedikit, namun elit. Berbanding terbalik dengan di warteg yang akan selalu membuat kita kekenyangan dengan porsinya yang terkadang tidak manusiawi.
"Terus mas harus komplain sama diri mas sendiri?"
"Hahhh" Hanna mengernyit tak paham. " maksud mas gimana?"
"Kamu bilang mas harus komplain sama pemiliknya 'kan?"
"Maksud mas--" Hanna membekap mulutnya. Tersentak tak percaya jika restoran itu mungkin salah satu aset milik sang suami.
"Ini punya mas?" Sentaknya yang jelas hanya di balas cengiran oleh David.
Duh Hanna... Aset milik suamimu saja kamu tidak tau. Apa karena saking banyaknya bisnis yang digeluti David hingga membuat kamu tidak mengerti satu per satu bisnis milik suamimu?
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕