
°°°~Happy reading~°°°
Dor dor dor... .
"Help help... Kita tellkunci kita tellkunci... ."
Gedoran pintu bercampur dengan teriakan dari si kecil Arshi itu terdengar begitu nyaring dan memekakkan telinga. Membuat Maura sontak tercengang. Inikah ide brilian yang di maksud sahabatnya itu.
"Molla shini bantu Ashi, kallau telliak sheundilli nanti eundak ada yang deungall..." pinta Arshi.
Maura menurut, gadis kecil itupun mendekat dan mengikuti aksi dari sahabatnya itu.
Dor dor dor... .
Dor dor dor... .
"Help help... Kita tellkunci kita tellkunci... ."
"Help help... Kita tellkunci kita tellkunci.. ."
Berkali-kali dua gadis kecil itu menyerukan permintaan tolong, namun berkali-kali itu pula mereka harus menelan kekecewaan. Tidak ada yang mendengar jerit rintihan mereka.
"Shepeulti na eundak ada yang deungall Ashi..." keluh Maura pesimis.
"Iya Molla. Shepeulti na teullinga na ollang-ollang ada kulla-kulla na, jadi eundak bisha deungall. Heufff, sheuball sheuball sheuball... ."
"Kita toba lagi ya Ashi... ."
Mereka kembali menggedor-gedor pintu itu dengan tangan mungilnya, suara cempreng pun semakin lantang menggema mengisi keheningan malam.
Sedetik dua detik masih tak ada yang merespon. Hingga di detik kemudian, suara bising itu berhasil mengusik sosok bocah kecil.
__ADS_1
"Hei... Kalian jangan berisik!" Tukas Arsha tak mengerti jika kedua gadis kecil itu tengah terkunci. Pikirnya, kedua gadis kecil itu kembali berulah, bermain penculik-penculikan seperti yang biasa dilakukan Arshi di kediaman.
"Asha Asha... Help help... Kita tellkunci Asha, kita tellkunci..." Teriak si kecil Arshi meminta pertolongan.
"Sudahlah Arshi, ini masih tengah malam. Jangan berisik, ini bukan di rumahmu sendiri." saran Arsha tak ingin saudara kembarnya itu kembali mengacau.
"Ihhh, Ashi shius Asha, kita tellkunci kita tellkunci... ."
"I-iya Asha. Ashi... Ashi shama Molla tellkunci. Pintu na eundak bisha opun-opun..." timpal Maura meyakinkan.
Arsha menghela nafas dalam. Awas saja jika mereka berani membodohinya. Akan ia buat mereka menyesal.
Di bukanya pintu itu.
Klek klek klek...
Benar-benar tidak bisa terbuka.
"Kalian taroh kuncinya dimana? Sini kasih Arsha lewat celah pintu bawah." instruksi Arsha.
"Eundak ada kunci Asha. Kita tellkunci sheundilli. Pintu na kenna shihill..." timpal Arshi, membuat Arsha sontak menepuk jidat. Mana ada pintu terkunci sendiri.
"Kalian ada jepit rambut tidak?"
"Puna, ini Molla ada dua."
"Sini, kasih ke Arsha."
" Mau yang wallna black oll gley?" tanya Maura dengan polosnya. Membuat Arsha sontak menghela nafas dalam.
"Terserah!" decak Arsha menahan geram.
__ADS_1
Si kecil Maura pun membuka jepit rambut yang masih menghiasi atas kepalanya, diletakkannya jepit rambut itu di bawah pintu. Membuat Arsha dengan leluasa mengambilnya.
Klik klik klik... .
Klek... .
Pintu terbuka membuat Arshi dan Maura sontak berhambur keluar. Kedua gadis kecil itu bahkan tak sadar telah memeluk bocah laki-laki itu begitu erat, membuat Arsha di buat semakin geram.
"Menjauh dariku!" rahangnya mengeras, sorot matanya menajam, Arsha benar-benar tak suka jika orang lain memeluknya.
Sadar akan aura mencekam itu, Maura dan Arshi sontak melepaskan rengkuhannya.
"Asha hebat bisha opun pintu na pakai dupit llamput. Asha pakai mantlla apa?" tanya Arshi kepo. Siapa tau ia juga bisa memakainya, xixixi.
"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang kalian tidur lagi, ini masih tengah malam." Hendak berlalu, namun cicitan itu berhasil menahan langkahnya.
"Tapi Molla eundak mau tidull shitu. Nanti pintu na eundak bisha opun lagi." tolak Maura.
"Huum, Ashi duga. Nanti nenek shihill dahat na datang lagi tellush kunci kita di dalam, ya Molla... ."
"Terus kalian maunya gimana?" tanya Arsha to the point.
"Mau bobok shama Asha aja ya Asha... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1