Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Mullutush?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Hari demi hari berlalu dengan mengalun. Kondisi psikis Maura perlahan mulai membaik setelah menjalani serangkaian terapi psikologis dari psikolog ternama kenalan tuan Sebastian.


Dan kini, keluarga kecil itu tengah menikmati libur akhir pekan bersama di halaman belakang. David bersama dengan sang putri terlihat begitu asik berenang di kubangan air kolam.


Sedang Hanna, perempuan itu memilih menepi. Perutnya semakin membuncit. Kandungannya sudah memasuki bulan terakhir. Menurut perkiraan dokter, mungkin seminggu lagi, bayi dalam kandungannya itu akan siap dilahirkan ke bumi.


"Mas..." Panggil Hanna pada sang suami yang masih asik berenang bersama sang putri. Sedang Hanna, perempuan itu memilih duduk di kursi santai dekat kolam karena tak mungkin berenang dengan kondisinya yang seperti ini.


"Iya sayang... ."


"Mas sini sebentar," pinta Hanna, membuat David memutuskan mengakhiri latihan berenangnya pagi itu.


"Nanti beshok Molla mau latihan beullenang lagi shama daddy ya, biall Molla dago beullenang shepeulti bebek wek wek. Hihihi... ."


"Siap girl..." mengusap pipi chubby sang putri yang kian hari kian menggemaskan.


"Mas..." Panggil Hanna tak sabar saat sang suami masih saja asik berbincang dengan sang putri.


Apa perempuan itu menjadi sangat serakah akhir-akhir ini?


"Iya sayang... ."

__ADS_1


David mendekat. Tangannya pun mengulur, mengusap-usap pada perut membuncit itu. Membuat janin yang ada didalamnya sontak menendang keras.


"Kenapa, heummm..." Tanya David saat mendapati sang istri terlihat mengernyit.


Apa perempuan itu kesakitan saat tendangan keras itu menghantam perutnya?


"Sepertinya adek mau keluar, mash..." cicit Hanna menahan kontraksi yang semakin kuat kala tangan besar David bertengger di atas perutnya.


"Keluar kemana sayang," pertanyaan bodoh. Bahkan pemilik perusahaan ternama itu tak mampu menangkap sinyal-sinyal yang diberikan sang istri jika anak mereka akan segera lahir ke dunia.


"Adek mau lahir mash, astaghfirullah..." rintih Hanna meremas lengan kekar David. Kontraksinya semakin menjadi, berjam-jam menahan diri tak ingin mengaduh sakit karena mungkin hanya kontraksi palsu, namun kali ini ia tak sanggup lagi. Rasa sakit itu semakin menjadi, tidak diragukan lagi, bayinya sudah tak sabar ingin menyapa orang-orang terkasih.


Membuat David seketika itu membeliak.


Benar-benar tidak berguna.


"Adek maunya sekarang mas. Ayo-- ayo ke rumah sakit saja mas, adek udah ngga sabar sepertinya..." rintih Hanna menahan sakit.


"Kita-- kita ke rumah sakit sekarang!" Hendak membawa tubuh sang istri dalam gendongannya, tiba-tiba tangannya di cekal.


"Apa lagi sayang..." Ia sungguh frustasi. Bukankah istrinya itu meminta di bawa ke rumah sakit sesegera mungkin? Tapi kenapa malah menahan pergerakannya?


Ayolah Hanna. Suamimu bahkan terlihat sangat frustasi karena tak tau harus berbuat apa padamu yang akan segera melahirkan.

__ADS_1


Ini adalah pengalaman pertamanya.


"Mas pakai baju duluh, euhmmm..." pinta Hanna setengah merintih. Bagaimana ia membiarkan sang suami memperlihatkan roti sobeknya pada khalayak umum? Ini bukan untuk konsumsi publik. Hanya ia yang boleh menikmatinya.


Dengan gerakan cepat, David menyaut jubah mandinya yang tergeletak di atas kursi.


Di bawanya tubuh sang istri dalam gendongannya, fokusnya hanya tertuju pada jalan di mana ia harus membawa sang istri ke rumah sakit sesegera.


"Daddy shama mommy mau keumana?" Gadis kecil itu berteriak keras saat daddy dan mommy nya tiba-tiba saja meninggalkannya. Maura bahkan berlari mengejar sang daddy dengan tubuhnya yang masih basah kuyup.


Membuat David seketika itu berbalik. Saking gugupnya, ia bahkan melupakan keberadaan sang putri.


"Mommy akan melahirkan girl. Kamu tunggu di rumah ya... ."


"Dedek bayi oek-oek na mau mullutush?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Part yang di tunggu-tunggu nih, hehehe


Happy reading

__ADS_1


Saranghaja💕💕💕


__ADS_2