
°°°~Happy Reading~°°°
"Kamu kan daddy nya!"
"Ayolah ma, itu kasihan nangis terus..." pinta David mengiba. Memaksa mama Agatha untuk beranjak, mengambil bayi mungil yang masih saja terisak di ranjangnya.
"Bilang aja ngga berani gendong anak sendiri," cibir mama Agatha saat bayi mungil itu telah ada di gendongannya.
"Kan David belum terbiasa ma... ."
"Ahhh, cupu kamu," cibir mama Agatha.
"Hihihi, daddy tupu..." kikik gadis kecil itu ikut menertawakan kemalangan sang daddy.
"Sini ma, sepertinya adek sudah haus."
Mama Agatha pun menyerahkan bayi mungil itu pada sang menantu. Ragu Hanna memberikan ASI untuk bayi kecilnya. Sedang bayi mungil itu terus saja merengek tak sabar, kepalanya bahkan mendusel-dusel di dada Hanna seolah tau di sana menyimpan harta berharga.
Eaaaa... Oekkk... .
"Sayang, itu baby nya nangis terus," tegur David.
"I-itu mas..." Bola matanya menatap sang suami ragu.
Tuan Sebastian masih mendiami ruangan itu. Ia tak mungkin membuka auratnya untuk diperlihatkan pada sosok yang tidak berhak atasnya, termasuk mertua lelakinya.
"Astaghfirullah, maaf Han. Mama lupa."
Mama Agatha yang sadar pun segera bertindak. "Pa... ."
"Papa keluar dulu sana. Ini baby nya mau nen*n dulu. Papa nanti jatahnya di rumah," usir mama Agatha pada sang suami. Memaksa tuan Sebastian untuk keluar ruangan dengan berdecak sebal. Rahasianya telah di umbar tanpa sadar.
Selepas kepergian tuan Sebastian, Hanna lantas menyibak sebagian pakaiannya, menyodorkan ASI nya yang lantas di sambar bayi mungil itu dengan tak sabar.
"Hihihi, dedek bayi oek-oek na lutu ya myh. Mimi tutu na monong-monong bibill na, ihihihi..." komentar Maura menatap lucu pada sang adik.
__ADS_1
"Seperti kaka Maura dulu juga begitu." timpal Hanna.
"Kaka Molla dullu mimi tutu itu duga?"
"Iya dong. Dulu kaka Maura kalau mimik susu suka lama-lama. Suka buat mommy sampai mengantuk." keluh Hanna menggoda sang putri.
"Hihihi, kaka Molla anak lakush ya myh, ihihihi..." kikik gadis kecil itu sadar diri.
Mendengar celotehan itu, David pun merasa tersentil. Dulu, ia bahkan tidak ada di saat sang istri berjuang melahirkan sang putri, tidak ada di masa-masa sulitnya, bahkan tak menampakkan diri di masa-masa emas tumbuh kembang sang putri.
David merasakan penyesalannya.
Andai saja dulu ia sadar jika perempuan yang pernah menghabiskan malam dengannya ternyata mengandung anaknya, mungkin penyesalan itu tidak akan sedalam ini jadinya.
"ASI nya lancar kan Han?" tanya mama Agatha tiba-tiba.
"Alhamdulillah lancar ma."
"Anak cowok biasanya nyus*nya lebih banyak. Kalau kamu merasa ASI nya mulai ngga lancar, bisa di bantu sama susu pelancar ASI Han..." sarannya yang langsung di angguki Hanna."Iya ma."
"Mommy, itu dedek bayi oek-oek na kok bobok ladih?" sungut Maura menatap pada sang adik yang kembali terlelap.
"Iya sayang, adeknya masih mengantuk."
"Massha nantuk mulullu. Adek bayi oek-oek na eundak boshan-boshan tidull mulullu? Kan bellum main-main shama kaka Molla." keluh Maura tak terima.
"Iya, nanti mainnya waktu adek bangun ya. Kaka Maura cantik harus sabar ya sayang... ."
"Kaka Maura ngga mau cium adeknya?" tawar Hanna. Dengan cara-cara seperti inilah ia lakukan agar tak membuat gadis kecil itu merasa di sisihkan.
Dengan menyimpan rasa kesalnya, gadis kecil itu akhirnya mengecup pipi bayi mungil itu, "dedek bayi oek-oek teupat banun ya. Kaka Molla udah eundak shaball mau main keudall-keudall shama dedek bayi oek-oek... ."
Bayi mungil itu lantas diletakkan kembali di ranjangnya, sedang tuan Sebastian juga sudah kembali ke ruangan itu setelah tadi memilih meninjau rumah sakit lebih dulu.
"Terus namanya siapa Dav, kamu sudah ada pertimbangan kan?" tanya tuan Sebastian ingin tahu.
__ADS_1
"Belum Pah."
Membuat mama Agatha sontak mendelik, "Apa!!! Seriusan kamu ngga ada nama buat anak kamu sendiri?"
"Kan mama juga tahu kalau dokternya ngga bisa lihat jenis kelamin baby nya sampai akhirnya Hanna melahirkan?"
"Kan bisa nyiapin dua nama sekalian, David..." jengah mama Agatha pada sang putra.
"David ngga kepikiran, ma..."
"Terus mau di panggil apa putra kamu nanti Dav? Dedek bayi oek-oek seperti Maura?"telak mama Agatha.
"Iya iya iya, nama na dedek bayi oek-oek shaja daddy. Kan gemoyi, hihihi..." usul Maura tanpa pikir panjang.
"Duh ni cucu granny kok suka lawak. Sayang, gimana kalau adiknya Maura nanti di panggilnya "oek-oek"? Nggak lucu dong... ."
"Hihihi, eundak papa glanny. Kan lutu, ehahaha... ."
"Kamu pengen nama baby nya siapa sayang?" Tanya David tiba-tiba pada sang istri.
"Eummm, Hanna ikut mas saja. Dulu kan Hanna sudah memberikan nama untuk Maura. Sekarang, mas saja ya yang kasih nama buat adek."
"Eummm siapa ya... ."
"Lucien Austin Brisson. Bagaimana?" sahut David penuh pertimbangan.
"Wow... It's a beautiful name, Dav. Mama Setuju. Jadi kita bisa panggil dia Baby L."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Setuju ngga nih sama namanya😂
Happy reading
__ADS_1
Saranghaja💕💕💕