Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Sosok Dari Masa Lalu


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Mobil mewah itu tengah melaju membelah jalanan kota. Setelah menyantap makan siang di restoran milik David, mereka kini memutuskan untuk kembali ke kediaman.


Baru melahap setengah perjalanan, bola mata David membola, menatap lapar pada jajanan pinggir jalan yang selalu saja membuat air liurnya mengalir deras.


Laki-laki itu kembali nyidam.


"Kenapa mas?" tanya Hanna saat David tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Kini mereka bahkan berkendara tanpa supir pribadi, menghabiskan waktu bersama hanya dengan keluarga kecilnya.


"Mas pengen itu sayang," tunjuknya pada sebuah gerobak pedagang kaki lima.


"Pempek?"


Angguk David. "Pengen kuahnya yang banyak. Sepertinya enak di makan siang-siang gini."


Belum Hanna menanggapi, ponsel David terdengar berdering. Dirogohnya saku celananya, ternyata Erick. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu memilih menolak panggilannya. Dalam hati merutuk, bisa-bisanya si Erick itu mengganggu acara family time nya.


"Itu yang--"


Kring...


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya kembali berdering, membuat David sontak mengumpat sial.


"Shhittt, apa dia kurang kerjaan... ."


"Siapa mas?"


"Erick yang," jawabnya menahan geram, padahal di hari weekend ini ia sudah bilang tak ingin di ganggu barang sedetikpun.


"Ya udah mas angkat dulu telepon nya, siapa tau penting kan? Biar Hanna aja yang beli pempek nya," sahut Hanna memberikan solusi.

__ADS_1


"Molla ikut ya myh... ."


Hanna bersama dengan sang putri kini memilih keluar dari badan mobil meninggalkan David yang disibukkan dengan panggilannya. Membuat beberapa pedagang kini menatapnya tak percaya, jika mobil semewah itu akan menghentikan lajunya di deretan pedagang kaki lima, alih-alih di restoran mewah.


"Pempek nya 5 bungkus ya pak..." pinta Hanna pada sang pedagang.


"Siap neng,"


Pedagang itupun mulai menyiapkan pesanannya, tak lupa ia juga mempersilahkan Hanna untuk duduk di kursi plastik miliknya.


"Maaf ya neng, kotor."


"Tidak pak, bersih kok."


"Sini sayang," mempersilahkan sang putri untuk duduk di sampingnya. Tidak mungkin ia memangku sang putri, perutnya sudah terlalu membuncit.


"Sudah berapa bulan neng?"


"Dua mon lagi, dedek bayi na menetash ya myh?" tanya Maura ikut nimbrung. Membuat Hanna sontak tergelak.


*Mon: mount/bulan.


"Kok menetas sih sayang. Lahir dong. Dua bulan lagi, adek nya Maura lahir. Menetas itu untuk hewan yang bertelur. Telurnya nanti baru menetas," sahut Hanna menjelaskan. Jika tidak diluruskan, bisa-bisa putri kecilnya itu akan semakin salah arah.


"Kata Ashi, waktu dedek Ashell menetash, dedek Ashell nanit oek-oek," sanggah Maura.


Hanna menghela nafas dalam, lagi-lagi ajaran dari si kecil Arshi membuat putri kecilnya itu jadi salah jalan.


"Kalau adek Arshell menetas, berarti aunty Ane bertelur dong sayang," canda Hanna.


Membuat Maura sontak tergelak. " Ahahaha, aunty Anne beultellul shepeulti ayam kuk-kuk, hihihi... ."

__ADS_1


"Shhut, pelan-pelan sayang. Nanti kalau kedengaran Arsha, nanti Arsha nya marah lagi," sahut Hanna malah menakut-nakuti sang putri.


"Hihihi, iya myh. Asha kalau mallah-mallah sheullam sheukalli. Shuka mullotot-mullotot. Tapi Asha na baik juga kok, jadi Molla shuka, ehehehe..."


Sembari menunggu pesanannya jadi, gadis kecil itu tak henti berceloteh, bola matanya pun tak henti melirik kesana kemari mencari jajanan incarannya.


Hingga pandangannya kini terfokus pada satu titik. Senyumannya tiba-tiba memudar, wajahnya berubah pias. Buru-buru Maura turun dari bangkunya dan segera merengkuh sang mommy dengan tangis yang tak tertahankan.


"Hiks... Hiks... Mo-myh..." Isaknya terdengar sesenggukan, badannya kini bahkan bergetar hebat. Maura benar-benar ketakutan.


Membuat Hanna sontak kebingungan, tak tahu kenapa sang putri kini tiba-tiba menangis histeris.


"Sayang, ada apa?" Berusaha menguarkan rengkuhan sang putri agar mampu menatap wajah penuh isak itu, namun putri kecilnya itu malah semakin mengeratkan rengkuhannya, menenggelamkan wajahnya di perut buncitnya.


"Eundak mau, mau mommyh, hwaaa..." Tangisnya semakin menjadi, Maura semakin histeris. Membuat Hanna semakin kebingungan.


Hingga suara yang begitu dikenalnya kini menyeruak, "Hanna... ."


Hanna menoleh menatap asal suara, membuat perempuan itu sontak terbelalak saat mendapati sosok dari masa lalunya.


"B-bu Nurma..."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Masih ingat dengan Sari Kurma ngga


Nih othor munculin lagi🤣


Happy reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2