
°°°~Happy Reading~°°°
Pagi mulai menyingsing, keluarga kecil itu tengah bersiap menikmati hidangan sarapan yang telah tersaji.
"Aku sudah mencarikan Maura sekolah, senin depan dia bisa mulai belajar setelah gips di tanganmu dilepas..." Tutur David sembari duduk di bangku makannya.
"Molla mau shekullah daddy?" Gadis kecil itu sontak berbinar bahagia, sedari dulu ia sering menatap iri pada teman-teman sebayanya yang bisa dengan leluasa menimba ilmu di sekolah impian, namun tidak dengan dirinya, mommy nya tak memiliki cukup biaya hingga memaksanya mengurungkan keinginannya.
"Yes girl, putri daddy mau kan?"
"Mau daddy, Molla mau shekullah. Molla udah eundak shaball puna teman banak-banak..." Girangnya.
Namun, tiba-tiba gadis kecil itu menunduk sedih.
"Dullu, teuman-teuman eundak mau main shama Molla, kata na Molla anak eundak dullas, Molla anak nakall, tellush daddy peulgi deh tinggal-tinggal Molla shama mommy, Molla sheudih sheukalli..." Gadis kecil itu kembali menerawang saat dulu tinggal di perkampungan, tak dirasa luka yang di torehkan perkampungan kecil itu begitu dalam hingga membuatnya sulit melupakan setiap kejadian buruk yang sering ia alami bersama sang mommy tercinta.
"Tidak sayang, Maura tidak nakal kok, Maura anak mommy yang paling baik. Maura tidak boleh bicara seperti itu lagi..." Hanna mengusap wajah sang putri yang mulai meredup.
"Mommy na Bobby eundak shuka shama Molla myh, mommy na Bobby shuka kata-kata Molla anak nakall, mommy na Bobby shuka dahat shama mommy duga, Molla eundak shuka, hiks..." Isak gadis kecil itu, membuat Hanna pun semakin tak tega, di rengkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapan hangatnya.
"Tidak apa sayang, nanti kalau mommy nya Bobby nakal lagi sama Maura, biar mommy marahin. Sekarang putri mommy tidak boleh menangis lagi, Maura tidak malu dilihatin daddy?"
Gadis kecil itu beralih menatap pada sang daddy yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca, diusapnya bekas isak yang masih membekas di bawah matanya, lalu mengangguk.
"Huum..."
"Mau dipangku mommy?" Tawar Hanna setelah melepas rengkuhannya pada sang putri.
"Mauh, sruk..." Sahutnya sembari menarik kembali ingusnya.
Hanna akan bergerak mengambil Maura dengan tangan kirinya, namun seketika terhenti saat laki-laki itu kembali bersuara.
"Biar aku saja..."
"Tanganmu belum sembuh benar, biar Maura bersamaku..."
__ADS_1
David bangkit dari kursinya, laki-laki itupun membawa sang putri dalam pangkuannya, duduk berdampingan dengan sang istri layaknya keluarga bahagia.
"Putri daddy mau makan apa, hmmm..." Tawar David.
"Mau itu..." Tunjuk Maura pada salah satu makanan yang tersaji di meja
makan.
"Omelette?"
"Huum, mau omlellet..." Angguk Maura.
David menyambar makanan khas Eropa itu, menyuapkannya pada sang putri, "enak?"
"Huum, ennak sheukalli daddy. Molla eundak peullnah mamam ini, tapi Molla shuka sheukalli, hehehe..."
"Kalau begitu makanlah yang banyak, biar gemuk, hmmm..."
Gadis kecil itu menggeleng.
"Baiklah..."
David kembali menyuapkan makanan itu di mulut kecil sang putri, namun tiba-tiba ekor matanya tak sengaja menatap pada sang istri yang tengah kesulitan memakan makanannya dengan menggunakan tangan kiri.
"Kau kesulitan?"
"Tidak tuan..."
"Berikan padaku!"
"Huh... Tidak tuan, saya bisa sen..."
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, David sudah menyambar piring dan sendok yang di genggam Hanna, membuat perempuan itu sontak memekik.
"Tidak tuan, saya bisa sendiri..." Elaknya, berusaha merebut kembali miliknya.
__ADS_1
"Shhht, diam saja..." Tanda tak mau di bantah.
Hanna menghela nafas panjang, inilah sifat suami barunya, pemaksa, otoriter, tak ingin ditentang, sedikitpun Hanna tak akan bisa mengelak darinya.
Hingga tak lama, muncullah mama Agatha dengan senyum sumringah di bibirnya.
"Wow... Kebetulan sekali kalian sedang kumpul disini..."
Mama Agatha langsung duduk di depan kursi Hanna, membuat Hanna sontak dibuat gelagapan saat bertepatan dengan David yang bergerak akan menyuapinya.
"Tuan..." Lirih Hanna sembari menatap horor mama Agatha, seolah dirinya tertangkap basah telah berbuat yang tidak-tidak dengan suami sahnya itu.
"Buka mulutmu..." Titah David.
"Saya sudah kenyang tuan..." Cicit Hanna.
"Kenyang? Kenyang darimana? Aku bahkan belum sempat menyuapimu..."
Membuat Hanna mengambil suapan itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Sudah tuan, tuan suapi Maura saja..."
"Tidak sebelum kau menghabiskan sarapanmu!" Sergahnya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Masih ada penghuninya ngga nih😥
Maapken othor ya chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1