Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Ketahuan


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Apa yang kau lakukan di kamar putriku!!!" Suara menggelegar itu sontak membuat Arsha seketika itu membalik badan.


"Apa yang kau lakukan di kamar putriku, huuuh... Bukankah aku sudah menyiapkan satu kamar untukmu? Apa kau ingin diam-diam menyelinap ke dalam kamar putriku?" geram David.


"Sepertinya anda terlalu over thinking. Ck... . " timpal Arsha dengan santainya. Tanpa memperdulikan tatapan nyalang David, bocah laki-laki itu bahkan dengan lancangnya memasuki kamar si kecil Maura. Membuat David seketika itu mendelik tak terima.


"Berani-beraninya kau memasuki kamar putriku, huhhh... ."


Grep... .


David mencekal pergelangan tangan Arsha penuh amarah. Benar-benar lancang, berani-beraninya bocah tengil itu memasuki kamar sang putri dengan lancangnya.


"Jangan berani-berani kau mendekati putriku!" cicitnya penuh ancaman, jangan di tanya bagaimana ekspresi nya saat ini. Tentu saja hanya raut wajah marah dengan tatapan nyalang penuh ancaman yang ditampilkan.


"Sepertinya anda memang over thinking," decak Arsha.


"Sebentar, aku mau menyuruh Arshi pipis dulu. Anda tidak mau kan kalau dia sampai ngompol di sini?"


Membuat David seketika mematung kikuk.


Pipis?


Apa dia tengah salah paham?


"Arshi, pipis dulu. Nanti kamu ngompol." Titah Arsha, membuat Arshi seketika itu terlonjak.


"Oh iya. Ashi lupa Asha, hihihi... Untung Asha na kashih ingat Ashi, kallau eundak kan bisha beullabe. Bisa bocoll-bocoll nanti, hihihi... ."


Beranjak dari ranjangnya, Arshi pun segera berlari menuju kamar mandi, membuat Arsha sontak menghela nafas dalam. Kembarannya itu terlalu ceroboh.


"Jangan berlari Arshi..." peringat Arsha lalu menyusul sang kembaran memasuki kamar mandi yang tidak di tutup pintunya. Kembarannya terlalu ceroboh, jika tidak di awasi, khawatir kejadian buruk akan segera terjadi.


David seketika itu mendelik. Bocah tengil itu bahkan memasuki kamar mandi bersama kembarannya yang bahkan berbeda jenis kelamin, apa bocah tengil itu juga seorang yang-- cab*l?


Aishhh, shiit... .

__ADS_1


Apa putrinya itu akan baik-baik saja dengan adanya bocah cab*l itu? Apa bocah itu juga akan--


Ahhh tidak... .


Mau tak mau, malam ini ia harus menjaga putrinya dari bocah tengil itu.


"Daddy keunnapa eundak tidull-tidull? Daddy engli?" Melihat raut tak menyenangkan sang daddy, Maura khawatir jika daddy nya itu tengah tak baik-baik saja.


"Oh no. Daddy is fine girl. Don't worry... ."


"Ihhh, Asha. Inni na jadi bashah, hwaaa..." Tangisan Arshi terdengar menggema, membuat David seketika itu mengernyit. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?


"Kan Arsha udah bilang, celananya di buka dulu. Kamu ngga mau dengar, jadi begini kan?"


Tak lama Arsha terlihat keluar dari kamar mandi. Tanpa memperdulikan tatapan nyalang David, Arsha berlalu menuju paper bag besar yang terletak di pinggir nakas. Mengambil baju ganti yang sebelumnya telah di kirimkan sang mommy melalui supir pribadinya.


"Jangan berpikir macam-macam, nanti anda cepat tua om... ."


Ucap Arsha kemudian berlalu. Membuat David seketika itu mendelik, lagi-lagi bocah tengil itu mengatainya tua.


Awas saja, ia tak akan merestui bocah tengil itu menjadi menantunya apapun kompensasi yang akan diberikan Marvell, sang rekan bisnis.


Tak lama berselang, Arshi pun keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian barunya. Gadis kecil itu memicing, kenapa daddy nya Maura itu bahkan masih berada disana?


"Uncle napa mashih shini? Mau bobok beullempat?" tawar Arshi.


David mendelik. Tidur berempat dengan bocah tengil itu juga? Oh no please.


"Tidak, ini uncle mau keluar."


Tolaknya mentah-mentah. Bahkan menyebut dirinya sendiri sebagai "uncle". Arshi terlalu menggemaskan untuk di jadikan musuh.


Hendak beranjak, namun bocah tengil itu masih saja berada di ruangan sang putri. Membuat David menghentikan langkahnya.


"Kau! Juga keluar!" Sinis David begitu Arsha keluar dari kamar mandi.


Arsha tak bergeming, bocah laki-laki itu memilih mendekati sang kembaran.

__ADS_1


"Kamu jangan macam-macam. Langsung tidur, atau kalau tidak Arsha lapor mommy biar kamu ngga di bolehin nginep lagi."


"Ashi eundak mau apa-apa kok Asha..." Bela Arshi pura-pura tidak tau.


"Arsha dengar rencana kalian." jawab Arsha telak. Kedua gadis kecil itu bahkan telah merencanakan segalanya, bahkan tenda pun sudah di siapkan di sebelah ranjang. Mereka berencana berkemah di dalam kamar dan begadang semalaman.


"Lencanna apa. Ashi eundak lencana apa-apa kok..." ucapnya pura-pura bodoh.


"Lalu itu?" Menunjuk sebuah tenda dengan dagunya.


Fix, ketahuan.


Arshi menunduk lesu menaiki ranjangnya. Gagal sudah rencana berkemah dengan bestinya.


"Gagal Molla. Ashi tahuan."


"Tenda nya Arsha bawa. Biar kalian ngga bisa macem-macem lagi."


Alamat rencana itu gagal total.


Arsha keluar dengan tenda itu di tangannya. Sedang di luar David sudah menunggunya.


"Kamu!" Menunjuk-nunjuk Arsha dengan jari telunjuknya. "Jangan berani-berani mendekati putriku. Aku tidak akan merestui kalian." tegas David lalu berlalu memasuki kamar pribadinya.


Membuat Arsha seketika itu menghela nafas jengah.


Lagi-lagi perihal perjodohan.


Mengapa laki-laki itu begitu sensi dengannya hanya karena perjodohan gila itu. Memangnya ia menyetujui perjodohan itu? Tidak kan.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy Reading semua


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2