
°°°~Happy Reading~°°°
"Manis, rasanya sama seperti biasanya..."
Membuat Hanna sontak semakin merona.
"Mas apaan sih..." Hanna membalik badan, perempuan itu benar-benar tak kuasa memperlihatkan wajahnya yang kini bersemu merah di hadapan suaminya.
David membalikkan badan istrinya menghadap ke arahnya, merengkuhnya posesif, menahannya agar tak bisa lari dari kungkungan nya.
"Mas..." Hanna meronta, perempuan itu benar-benar malu akan wajahnya yang kini sudah mirip kepiting rebus, apalagi di dekap suaminya seperti itu.
Ahhh, bahkan kini jantungnya berdebar hebat. Bagaimana ia akan menyembunyikannya dari suami posesif nya itu?
"Sayang, beneran ini kamu kan?"
Hanna menghela nafas dalam-dalam, lagi-lagi pertanyaan itu yang kini terlontar dari suaminya.
"Astaghfirullah, iya mas... Ini Hanna, kenapa mas dari tadi nanya gitu sih... ."
Tanpa ba-bi-bu, laki-laki itu pun kembali melabuhkan satu kecupan di bibir mungil istrinya.
Cup...
"Kamu cantik sekali sayang..."
Hanna bergerak cepat menutup wajahnya yang merona dengan sebelah tangannya, di puji seperti itu, rasanya malu luar biasa.
"Mas jangan bilang gitu ihhh..." Sahut Hanna malu-malu.
__ADS_1
"Kenapa malu, hmmm..."
"Ya malu aja. Mas puji-puji gitu sih..."
"Ngga mau di puji?"
Hanna menggeleng, "ngga, Hanna ngga mau..."
"Biasanya perempuan senang di puji?" Goda David.
"Tapi Hanna ngga suka, nanti wajah Hanna jadi merah mirip tomat gimana..."
"Ngga apa-apa, malah tambah cantik kok..."
Hanna semakin dibuat tak karuan, ahhh... Kenapa suaminya itu pintar sekali menggombali dirinya.
"Ihhh mas, jangan bicara gitu lagi ih, kan Hanna sudah bilang Hanna malu..."
David mendekatkan wajahnya pada sang istri, semakin dekat semakin dekat, hingga akhirnya...
"Daddy shuttop..."
Membuat pergerakan David sontak terhenti.
"Daddy shuttop tium-tium mommy na Molla..." Dengan wajah penuh kesal, gadis kecil itu berjalan mendekat ke arah kedua orangtuanya yang masih dalam posisi saling merengkuh erat.
"Daddy leupashin mommy na Molla..." Dengan kedua tangan berkacak pinggang, gadis kecil itu memarahi sang daddy yang sedari tadi sewenang-wenang memonopoli sang mommy.
"Ohhh, putri daddy ingin di cium juga?" Tawar David tau sang putri merasa iri dengan sang istri.
__ADS_1
"No... No tium-tium Molla... Molla eundak mau daddy tium-tium ladih, daddy geunit, daddy shuka tium-tium mommy banak-banak, Molla eundak shuka, mommy puna na Molla..." Sungut gadis kecil itu merasa tersaingi dengan sang daddy yang selalu saja merebut posisinya di sisi sang mommy.
Membuat Hanna sontak tergelak.
"Mas, kamu genit ih, hahaha..."
David menghela nafas dalam, kalau sudah seperti ini akan susah membujuk putrinya yang sudah kadung ngambek akibat ulahnya menciumi sang istri.
Tapi kalau di pikir-pikir, ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Memang apa salahnya kalau ia ingin bermanja-manja dengan istrinya, itu hal yang wajar kan? Sah-sah saja kan?
Lagian putrinya saja yang terlalu manja ingin selalu dekat dengan sang istri. Tidak mau berbagi, ia juga kan butuh asupan dari istri cantiknya itu.
"Daddy dauh-dauh dalli mommy na Molla..." Gadis kecil itu mendorong tubuh sang daddy menjauh dari sang mommy.
David bisa saja mempertahankan posisinya, namun laki-laki itu memilih mengalah dengan memundurkan badannya menjauh dari sang istri tercinta.
"Ingat!!! Daddy eundak bolleh deukat-deukat shama mommy. No deukat-deukat, no tium-tium, kalau daddy nakall-nakall nanti biall daddy tidull shama kambing..." Sadis Maura pada sang daddy, membuat David sontak saja di buat tak berdaya.
"Sayang..." Sahutnya mengiba pada sang istri.
"Anakmu marah mas..." Menyunggingkan senyum setengah mengejeknya.
Boleh di bilang Hanna puas dengan hukuman pinalti yang dihadiahi sang putri untuk suaminya, setidaknya ia bisa terbebas dari sang suami yang sudah seperti predator buas.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Tetap semangat puasanya ya, tinggal dikit lagi selesai nih, hehehe
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕