Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Raden Erick


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Tiba-tiba Hanna mengernyit. "Asisten Erick? Itu asisten Erick mas?" tanya Hanna menatap tajam pada sosok laki-laki berkumis di belakang suaminya.


David mengikuti arah pandang sang istri, laki-laki itu menyunggingkan senyumnya, menertawakan hasil karyanya. "Yah... Dia Erick sayang, apa kau tidak bisa mengenalinya?"


Hanna mengernyit dalam.


"Kenapa tiba-tiba asisten Erick jadi berkumis mas? Apa kumisnya bisa muncul dalam waktu semalam?" tanya Hanna polos, membuat David sontak tergelak, "Hahaha, bagaimana kumis bisa tumbuh dalam semalam sayang, kau ini ada-ada saja... ."


"Tapi kemarin asisten Erick memang belum berkumis mas..."


"Hari ini mas suruh Erick pakai kumis palsu sayang, bagus kan..." kekeh David menertawakan ide gilanya, membuat Hanna sontak mendelik.


"Mas yang suruh?!"


"Heumm, dan lihatlah... penampilannya jadi tampak berbeda kan?"


Hanna manggut-manggut. "Iya sih mas, asisten Erick jadi mirip seperti pak Raden," nilai Hanna meneliti penampilan Erick dengan seksama.


David mengernyit, "pak Raden? Pak Raden-- siapa sayang?"


"Pak Raden yang ada di kartun si unyil itu loh mas..." Ingat Hanna akan kartun kesukaan sang putri, membuat David sontak tergelak.


"Hahaha, dengar Rick, kata istriku kau seperti pak Raden. Jadi sekarang kau punya julukan baru, Raden Erick, AHAHAHA... Itu sangat cocok untukmu Rick, hahaha... " Gelak David tanpa memperdulikan tatapan sinis dari laki-laki yang teraniaya itu.


"Ini terakhir kalinya saya menyanggupi permintaan absurd anda tuan, saya permisi." Laki-laki itu balik arah dengan wajah masam nya, bisa-bisanya ia disamakan dengan pak Raden si pemarah di serial kartun si Unyil.


"Shhht, sial!" Umpatnya tertahan.


"Mas, sepertinya asisten Erick marah deh..." cicit Hanna mendapati laki-laki itu berlalu begitu saja.


"Hahaha, biarkan saja. Toh nanti bakal baikan sendiri..." Seloroh David merengkuh pinggang sang istri lalu membawanya masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Kamu keterlaluan mas, kan kasihan asisten Erick kamu kerjain kaya gitu..." nasehat Hanna pada sang suami yang kini sudah mendusel dalam rengkuhannya.


"Tidak apa sayang, hanya sesekali..."


Hanna memutar bola matanya jengah, memang susah berdebat dengan orang keras kepala macam suaminya itu.


"Hallo baby, what are you doing, heummm..." Sembari mendusel dan menciumi perut sang istri yang kini hanya bisa duduk pasrah menerima setiap aksinya.


"Mas ihhh, geli..." Dan tentu saja rengekannya itu tak akan menghentikan aksi David begitu saja, alih-alih menghentikan aksinya, laki-laki itu bahkan semakin menggila dengan aksinya.


"Ouhhh, kamu ingin daddy jenguk baby?" seloroh David seolah sedang berbincang dengan sang calon buah hati, membuat Hanna seketika mendelik tajam.


"Jangan macam-macam kamu mas..." Ancam Hanna pada sang suami yang kini semakin berulah.


"Sekali aja ya sayang..." kilah laki-laki itu dengan smirk yang menyungging di bibirnya. "Ya?" tawarnya.


"Hanna nggak percaya, mas sih suka kelewatan..." Bukan ingin menolak, hanya saja, kini mereka sedang berada di kantor, ia khawatir, kegiatan panas itu mungkin saja akan mengganggu pekerjaan suaminya nantinya.


"Tapi suka kan?"


"Sayang..." balas David ikut merengek.


"Udah ih, sana kerja..." titah Hanna sembari mendorong dada bidang David agar menjauh dari tubuhnya dan segera melanjutkan pekerjaannya.


"Sun dulu..."


"Ihhh... Banyak maunya sih..." keluh Hanna.


"Sayang," Tiba-tiba David berubah serius.


"Iya, kenapa mas..." tanya Hanna dengan dahi mengernyit saat menyadari perubahan ekspresi sang suami.


"Mas kok pengen makan yang kenyal-kenyal ya..."

__ADS_1


Dan rengekan itu sukses menghasilkan toyoran di wajah tampan David. "Mas jangan ngada-ngada ih... Nanti pekerjaan mas jadi ngga selesai-selesai kalau begituan... ."


"Ihhh, bukan itu sayang. Mas beneran pengen makan yang kenyal-kenyal yang ada kuahnya..." rengeknya lagi.


Hanna menarik nafas dalam, ternyata ia terlalu berfikir jauh.


"Mas mau bakso?"


"Bukan itu sayang... Yang itu loh-- yang kamu pernah beli di pinggir jalan... "


"Apa sih mas..." keluh Hanna berpikir keras.


"Yang kenyal-kenyal ada kuahnya, rasanya aneh, mas ngga suka... ."


Membuat Hanna sontak teringat saat mereka menghabiskan libur akhir pekan tempo dulu, "Ouhhh, Pempek?"


"Iya itu, mas pengen itu sayang..."


"Beneran mas pengen itu? Dulu kan mas ngga suka sama rasa kuahnya?"


"Iya, tiba-tiba mas pengen sayang..."


"Ya udah Hanna beliin dulu ya, mas lanjut kerja dulu... ."


"Ngga mau kamu... ."


"Terus?"


"Mau mama yang beliin."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu

__ADS_1


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2