Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Kenapa Menangis?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Hari itu, David dijadwalkan untuk meninjau langsung proyek pembangunan mall di kota Bandung.


Enggan rasanya, di saat permasalahannya dengan sang istri belum selesai, namun beban pekerjaan malah kian menghimpit dan membuatnya kian dilanda frustasi.


"Anda terlihat kurang sehat tuan, apa perlu kita rescadule--"


"Tidak perlu, aku baik-baik saja."


David mengusap pelipisnya yang sedikit berdenyut. Semalam ia lembur hingga pukul 3 dini hari, membuatnya hanya sempat memejamkan mata 2 jam sebelum akhirnya berkutat kembali dengan pekerjaannya.


Jadwal yang padat di tambah dengan terik matahari yang kian menyengat, membuat pusing itu kian menjadi.


Selesai dengan kunjungannya, David memilih merebahkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Perjalanan ke Jakarta yang harus di tempuh beberapa jam ke depan, akan ia manfaatkan untuk mengistirahatkan diri, sebelum akhirnya kembali berkutat pada setumpuk berkas.


"Anda sebaiknya kembali ke kediaman tuan, pekerjaan akan saya handle dan segera saya laporkan pada anda," saran Erick menatap David penuh simpatik. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, mereka baru saja tiba di kantor setelah dua jam lamanya harus berjibaku di jalanan kota.


"Tidak, ada beberapa hal yang harus ku urus sendiri." Tolak David segera berlalu memasuki ruangannya.


Membuat Erick seketika itu menghela nafas kasar. Penyakit gila kerja David sepertinya kumat karena konflik rumah tangga.


Apa membangun rumah tangga tak seindah yang ada dibayangkannya?


"Ck. Apa aku tak usah menikah saja?" decak Erick dalam hati sebelum akhirnya memilih kembali ke ruangannya.


Seperti malam-malam sebelumnya, David kembali pulang larut malam. Setelah melihat keadaan istri juga putri kecilnya, ia kembali ke ruang kerjanya.


Memilih langsung merebahkan tubuhnya, David merasakan tubuhnya semakin lemah tak bertenaga. Pusing di kepalanya juga kian menyiksa, membuatnya memutuskan untuk langsung memejamkan mata.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Hanna terbangun saat dirasakannya kandung kemihnya terasa penuh, memaksanya beranjak untuk sesegera mungkin mengeluarkan air seninya.


Selesai dengan hajatnya, Hanna kemudian berlalu menyambangi ruang kerja sang suami yang tampak lengang tanpa sedikitpun aktifitas. Padahal malam-malam sebelumnya suaminya itu bahkan bekerja hingga larut malam.


Bagaimana ia tahu?


Tentu karena dirinya tetap memantau apa saja yang dilakukan sang suami setiap harinya. Meski dirinya memutuskan mendiamkan sang suami, namun di balik itu semua, dirinya tetap memperhatikan suaminya bagaimanapun caranya.


Mendapati situasi lengang itu, Hanna lantas memasuki ruang kerja David.


Di bukanya pintu ruangan itu tanpa suara, mengedarkan pandang, terlihat suaminya itu tengah terlelap di atas sofa.


Terlihat tak nyaman, membuat Hanna seketika itu merasa bersalah.


Didekatinya sang suami yang masih terlelap nyenyak, Hanna mengernyit, mengapa suaminya itu bahkan berkeringat di saat suhu AC begitu tinggi?


Di usapnya wajah penuh peluh itu dengan jemari tangannya, membuat Hanna seketika itu membulatkan matanya.


"Mas David demam?" gumam Hanna tak percaya.


Seketika rasa bersalah itu semakin nyata terasa. Perbuatannya sudah keterlaluan, setidaknya ia tak harus mengacuhkan sang suami berhari-hari lamanya.


Tak terasa air mata itu sudah berlinang. Yang tersisa kini hanya rasa penyesalan.


Ini salahnya, mengapa ia begitu egois hingga membuat suaminya itu sampai kesakitan.


"Eunghhh..." Isakan itu pun berhasil membangunkan David yang sebelumnya terlelap.

__ADS_1


Perlahan, David berangsur membuka matanya, aghhh... Rupanya sakit kepalanya masih belum menghilang, membuatnya hanya bisa menyipitkan pandangannya.


"Sayang..." David di buat terkejut saat mendapati sang istri kini tengah terisak di depannya.


"Kamu kenapa?"


David mencoba beranjak, namun sakit di kepalanya malah semakin menjadi, membuatnya sontak mengaduh kesakitan.


"Ahssh..." laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan rasa sakit yang menjalar di area kepalanya.


"Mas..." Hanna panik, suaminya itu terlihat begitu kesakitan. Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Mas kenapa? Hiks..." Bahkan tangisnya kian menjadi. Hanna benar-benar merasa bersalah.


"Tidak apa-apa..." ucapnya berusaha meyakinkan sang istri agar tak sampai khawatir.


"Kenapa kamu menangis, heummm... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Mendrama bentar ya, ehehehe


Kakak Molla nya di kandangin dulu bentar sama othor, katanya capek disuruh othor akting mulu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2