
°°°~Happy Reading~°°°
Malam mulai menyingsing. Bayi menggemaskan itu tengah terlelap nyenyak di ranjang bayinya, juga dengan si kecil Maura yang kini terlelap di ranjang kecil miliknya.
Sedang David, laki-laki itu tak henti merengkuh sang istri di sisinya, menciumi wajahnya, mencurahkan cintanya pada sosok yang begitu dicintainya.
"Sayang, kamu tahu bagaimana perasaan mas saat kamu akan melahirkan Lucien? Mas takut sayang. Mas takut jika nanti sampai kehilangan kamu," lirih David mengutarakan kekhawatiran terbesarnya kala itu.
"Mas suami yang hebat. Mas selalu bisa membuat Hanna merasa tenang meski Hanna tengah kesakitan sekalipun. Saat itu, rasa sakit itu benar-benar tidak ada apa-apanya karena mas selalu ada di samping Hanna. Hanna sangat beruntung memiliki suami hebat seperti mas..." timpal Hanna.
"Setelah ini, mas tidak ingin memiliki anak lagi. Cukup dengan Maura dan Lucien, mas sudah bersyukur," putus David.
"Hanna tidak yakin..." Hanna menatap sang suami penuh smirk. Mana mungkin laki-laki itu tidak akan beraksi saat masa nifasnya usai nanti.
"Mas serius. Kalau perlu mas akan vasektomi saja. Mas sudah konsul--"
"Mas..." Kalimatnya tertahan saat ucapan Hanna menggaung tinggi.
"Maksud mas apa?"
"Mas sudah konsultasi dengan dokter. Mas mau melakukan vasektomi, menjaga kemungkinan agar kamu tidak akan hamil lagi."
"Nggak. Hanna nggak setuju. Hanna tidak mau mas melakukan itu. Hanna marah kalau sampai mas diam-diam melakukan itu di belakang Hanna!" ancam Hanna tau akan keras kepala sang suami.
__ADS_1
"Mas takut membuat kamu hamil lagi dan merasakan kesakitan itu lagi, Sayang."
"Tapi masih ada banyak cara untuk mencegah kehamilan mas... Jadi mas tidak perlu melakukan itu, Hanna tidak setuju."
"Sayang--"
"Kita lakukan cara lain saja ya... Hanna ngga rela jika sampai mas melakukan itu hanya untuk Hanna. Hanna ngga mau mas kenapa-napa..." pinta Hanna mengiba.
Vasektomi? Itu terdengar sangat menakutkan baginya. KB permanen bukan hal remeh yang bisa diputuskan dalam waktu singkat. Ada banyak pertimbangan. Termasuk, jika kelak mereka menginginkan seorang anak lagi nantinya.
"Heummm, baiklah. Akan mas pikirkan."
"Berjanjilah jika mas tidak akan gegabah. Mas tidak akan diam-diam melakukan itu tanpa sepengetahuan dan seizin Hanna." ucap Hanna memastikan. Ia tak ingin kecolongan, apalagi dengan sifat David yang keukeh pada pendirian.
"Mas... ."
"Mas jangan diem aja..." cecar Hanna.
"Mas... ."
"Heummm, baiklah."
Membuat senyum Hanna sontak merekah. Jika laki-laki itu sudah berjanji, Hanna yakin suaminya itu tak akan mengingkari.
__ADS_1
"Mas ingat waktu kemarin adzanin adek? Hanna rasanya ingin nangis, suara mas membuat hati Hanna merasa terenyuh dan mengingat kuasa Allah saat mempertemukan kita dulu..." sahut Hanna mengingat detik-detik sang suami melantunkan adzan untuk pertama kalinya. Saat itu, Hanna benar-benar terpanah akan merdu suara David yang tengah melantunkan adzan di telinga sang putra.
"Mas benar kan melafalkannya?" tanya David penuh cemas. Ia bukan orang yang taat beribadah sebelum bertemu dengan Hanna. Setelah pernikahannya, barulah ia mulai kembali meniti jalan agama.
Angguk Hanna, "huum, sangat indah. Hanna suka." Mengeratkan rengkuhannya, Hanna benar-benar beruntung memiliki sosok lelaki seperti suaminya.
"Dulu, siapa yang menemani kamu saat melahirkan Maura." tanya David tiba-tiba.
Membuat Hanna seketika itu terhenyak. Saat itu-- saat itu adalah saat-saat tersulit dalam hidupnya.
"Sayang..." sahut David membangunkan sang istri dalam hanyut lamun yang mendera.
"Ya..." Hanya menyahut dengan gugup.
"Ceritakan pada mas, bagaimana dulu kamu melahirkan Maura. Mas ingin mendengarnya."
Hanna menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memulai bercerita akan kisah masa lalunya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕