
°°°~Happy Reading~°°°
"Give me more time, pa..." Pinta David, yang di balas gelengan kepala oleh tuan Sebastian.
"No, Semakin cepat semakin baik. Lagipula, papa khawatir kamu akan kabur dan mengingkari janjimu.." Sergah tuan Sebastian.
"Ohhh, no. Please pa, believe me, untuk apa aku kabur meninggalkan putriku, hmmm... Jadi beri aku waktu, aku bisa menyelesaikannya sendiri, please..."
"Jika kau menundanya, papa yakin kejadian kemarin bisa kembali terulang. Jangan bodoh Dave, mungkin kau lebih tahu bagaimana kehidupan Hanna selama ini kan, jadi pikirkanlah baik-baik..."
David menghela nafas dalam, benar yang dikatakan sang papa, jika saja kemarin ia berpikir cepat, pasti perempuan itu tak akan pergi dari kediamannya, kecelakaan itu tak akan pernah terjadi, dan perempuan itu pasti akan baik-baik saja saat ini.
Dengan mantap, David melangkahkan kakinya memasuki ruangan Hanna, mendekati ranjang perempuan yang masih terbaring lemah itu, laki-laki itu menatap Hanna lekat-lekat.
"Hanna, mungkin ini sudah sangat terlambat, tapi aku ingin mempertanggung jawabkan semuanya, mari kita menikah..."
Membuat Hanna sontak terlonjak kaget, apa? Menikah? Laki-laki itu mengajaknya menikah? Apa laki-laki itu sedang dalam keadaan sadar? Atau tadi saat sebelum masuk ke ruangannya kepalanya tak sengaja terbentur, hingga membuatnya lupa ingatan?
__ADS_1
"Hanna, menikahlah denganku..." Pinta David sekali lagi.
"T-tuan... A-apa yang anda bicarakan, saya..." Perempuan itu gelagapan, Hanna tak cukup berani menatap pada manik mata David yang terasa begitu tajam menatapnya.
"Glanny, meunnikah itu apa?" Tanya Maura tiba-tiba begitu mendengar ungkapan sang daddy.
"Menikah itu nanti daddy, mommy sama Maura bisa tinggal sama-sama selamanya, tidak akan terpisah lagi sayang..." Jelas mama Agatha, membuat gadis kecil itu sontak berbinar.
"Beunnellan glanny? Nanti kita tinggal shama-shama?" Sahut Maura penuh antusias.
"Bener dong sayang, masa salah, nanti granny dapat nilai nol dong..."
Gadis kecil itu sontak terlonjak dari duduknya, berlari kencang mendekati ranjang sang mommy dengan wajah berbinar nya.
"Mommyh... ayo kita meunnikah shama daddy myh, tullush tinggal shama daddy shama-shama, ya myh ya, mommy mau ya myh..." Rengek Maura pada sang mommy dengan wajah penuh harap.
"Sayang... Menikah bukan seperti itu. Ada banyak yang harus di urus, mommy..." Hanna bingung harus menjawab apa, lagian laki-laki itu tidak tau situasi saja, tidak bisakah membicarakannya saat hanya ada mereka berdua, membuatnya bisa memilih dengan pikiran jernih, tidak harus membuatnya memilih ya hanya karena rengekan dari sang putri.
__ADS_1
"Ya... Ullush shemua na biall bellesh. Nanti Molla bantu mommy ullush-ullush, ya myh... Mommy mau meunnikah shama daddy ya, tullush kita bobo na shama daddy, Molla eundak mau ballik ke lumah dullu, Molla tatut shama mommy na Bobby, Molla eundak mau mommy na Bobby dollong-dollong mommy ladi, tullush mommy dadi tatit-tatit ladi, Molla eundak mahu, hiks..." Gadis kecil itu mulai terisak, mengingat kenangan pahit itu, hatinya kembali terluka, bagaimanapun ia tetaplah sosok anak kecil yang cengeng dan butuh perlindungan.
"Sayang, sudah ya nangisnya... Kan mommy nya Bobby sudah tidak ada disini, jadi tidak bisa sakitin Maura dama mommy lagi..." Sahut Hanna berusaha menangkan sang putri yang kembali dirundung luka, namun usapannya itu tak mempan, gadis kecil itu masih saja terisak, sedang ia tak bisa berbuat apa-apa, ia terlalu lemah hingga tak kuasa untuk menggendong putri kecilnya.
"Sini, daddy gendong..."
David mengulur mengambil sang putri dalam gendongannya, di tepuk-tepuknya punggung kecil itu berusaha menenangkan.
"Putri daddy kenapa, hmmm... Kan udah janji tidak boleh menangis lagi..." Sahut David menenangkan.
"Molla mau daddy meunnikah shama Molla shama mommy, Molla eundak mau pishah-pishah ladi shama daddy, Molla mau tidull shama mommy shama daddy, beultiga, hiks..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Double up nih, hehehe
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕