
°°°~Happy Reading~°°°
Sesampainya di kediaman, David segera membaringkan tubuh sang putri di atas ranjang kamarnya. Maura kembali demam, gadis kecil itu kembali tak sadarkan diri dengan tubuh menggigil kedinginan, membuat David sontak di buat ketakutan.
"Mas sudah panggil dokter?" tanya Hanna tak kalah cemasnya. Tangannya kini bahkan tak henti membelai surai rambut sang putri yang tampak gelisah dalam tidurnya.
"Sudah sayang. Seharusnya Darren sudah sampai disini... ."
"Ahhh, sial. Kenapa ponselnya malah mati, shhittt.." umpat David hampir-hampir ingin membanting ponselnya.
"Mas tenang dulu, mungkin dokter Darren masih di jalan." Dalam keadaan itu pula Hanna masih berusaha menenangkan sang suami yang tengah diliputi kegusaran.
"Myh..." rintih Maura tiba-tiba di tengah tidurnya, suaranya terdengar parau, kerongkongannya terasa kering akibat suhu tubuhnya yang meninggi.
"Iya sayang, ini mommy..." Hanna segera membawa sang putri dalam dekapan hangatnya, merengkuhnya, berharap panas tubuh sang putri berpindah saja ke tubuhnya.
Dekapan Hanna itupun berhasil membuat gadis kecil itu kembali terlelap. Maura kembali terpejam dalam dekapan Hanna yang terasa begitu menenangkan.
Tak lama, akhirnya pintu kamar terdengar diketuk, terlihat pak Yi bersama Dokter Darren kini berangsur memasuki ruangan.
"Selamat siang tuan, nyonya." Sapa keduanya seraya membungkuk hormat.
__ADS_1
"Apa perlu aku pindahkan kau ke pedalaman agar aku tak bisa memanggilmu sekalian, Dokter Darren?" Geram David hanya karena menunggu dokter itu beberapa menit.
"Mohon maaf tuan."
"Apa saya bisa memeriksa nona muda sekarang?" ucapnya tanpa memberi alasan, percuma juga ia memberi seribu penjelasan, laki-laki itu tak akan sudi mendengarkannya.
"Kalau tidak sekarang kapan, huh? Menunggu sampai kau dikuburkan?!" sergah David yang sudah terlalu geram dengan keterlambatan dokter muda itu.
Dokter Darren menghela nafas dalam, dari pada terus berdebat dengan laki-laki arogan itu, lebih baik ia memulai saja pemeriksaannya.
Lagi-lagi gadis kecil itu harus kembali di infus, panas tubuhnya terlalu tinggi, jika tak di bantu dengan cairan infus, khawatir gadis kecil itu akan semakin lemah dan tak kunjung pulih.
"Nanti akan saya tempatkan dua suster di sini, untuk mengawasi dan mengatur obat-obatan yang harus nona muda konsumsi," papar dokter Darren.
"Baik dokter, terimakasih..." Sahut Hanna menimpali.
Dokter Darren pun kini pamit undur diri, menyisakan David juga Hanna yang tak henti menatap tak tega pada tubuh lemah sang putri.
"Sayang, istirahatlah. Mas yang akan menjaga Maura," pinta David pada sang istri yang sedari tadi tak henti menemani sang putri di sisinya. Meski perutnya sudah membuncit sekalipun, perempuan itu bahkan rela duduk berlama-lama menemani sang putri yang sedang tidak baik-baik saja.
"Nanti saja mas..." tolak Hanna. Raut wajah cemas tentu saja masih menghiasi wajahnya yang kini memucat pasi. Permasalahan imunitas tubuh yang buruk dan trauma mendalam akan masa lalu, membuat gadis kecil itu kembali tak sadarkan diri. Lagi-lagi ini akibat dari kelalaiannya.
__ADS_1
"Sayang, please... Perhatikan juga kesehatan kamu dan baby, biar mas yang jaga Maura, heummm..." bujuk David sekali lagi. Ia tahu, istrinya itu terlalu mengkhawatirkan kondisi sang putri hingga sampai melalaikan diri sendiri.
"Sayang, please. Istirahat dulu ya... ."
Dengan berat hati, Hanna akhirnya beranjak dari tepi ranjang yang sedari tadi di duduki. Baru selangkah kakinya mengayun, perempuan itu tiba-tiba mengaduh.
"Ahshhh... ."
"Sayang!!" Pekik David saat Hanna terlihat limbung dan hampir saja terjatuh. Beruntung tangannya dengan sigap menggapai tubuh sang istri dan membawanya ke dalam rengkuhannya.
"Are you oke, heummm?" sahut David penuh kekhawatiran, apalagi menatap wajah sang istri yang terlihat memucat, membuatnya semakin takut jika saja istrinya itu tengah tak baik-baik saja.
"Perut Hanna-- sakit mas..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading all
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1