
°°°~Happy Reading~°°°
Selesai sudah acara berburu kado, saatnya untuk kembali ke kediaman.
David berjalan dengan menggendong si kecil Maura, sedang Hanna, perempuan itu tampak mengekor dibelakang.
Suaminya masih kesal padanya, perempuan itu masih mencari cara untuk membujuk suaminya agar tak lagi mengacuhkannya.
Di cubit nya sedikit lengan baju suaminya, membuat langkah David tertahan, laki-laki itupun sontak menoleh dengan dahi berkerut.
"Mas, Hanna lapar. Kita makan dulu ya?" Pintanya dengan senyum indah yang menyungging di bibir piech nya.
"Hmmm... Nanti kita ke restoran dulu..."
Masih dengan wajah yang datar dan dingin, oke fix, suaminya marah besar gara-gara tadi ia membela pegawai laki-laki yang tersenyum ramah padanya.
Bukankan itu hal yang wajar dilakukan seorang pelayan saat melayani calon pembelinya? Jika saja mereka berwajah jutek seperti yang diinginkan suaminya, bukankah semua calon pembelinya akan kabur dan beralih ke tempat lain, benarkan?
Ahhh, entahlah. Mungkin semua menjadi tidak wajar jika berada di mata suaminya.
Hanna tak patah arang, perempuan itu memiliki 1001 cara untuk dapat meluluhkan hati suaminya.
Dalam pergolakan hati yang bimbang, perempuan itupun melingkarkan tangannya di lengan kokoh sang suami, membelitnya posesif, mereka bagai keluarga harmonis yang saling mencintai satu sama lain.
Diliriknya ke arah sang suami yang masih fokus melangkahkan kakinya, wajahnya masih saja dingin seperti semula, es batu itu rupanya belum mencair, berarti ia harus mencoba cara lain.
Perempuan itu termenung, masih memikirkan bagaimana cara meluluhkan es batu yang kadung membeku itu. Hingga akhirnya sebuah ide kini tiba-tiba muncul.
Apa... Itu?
Benarkah ia harus melakukan itu? Di sini?
__ADS_1
Hanna melirik sekitar mall yang tampak ramai oleh pengunjung. Apa benar ia harus melakukan itu disini? Bagaimana jika ada yang melihat aksinya nanti?
Rasanya pasti akan sangat memalukan jika ketahuan melakukan itu di tempat umum seperti ini.
Tapi, jika ia tak mencobanya, suaminya itu mungkin akan tetap mendiamkannya bahkan sampai di rumah nanti.
Ahhh, tidak tidak. Lupakan rasa malu, yang penting masalah selesai sebelum mereka tiba di kediaman.
Cup...
Perempuan itu mengecup cepat pipi kiri suaminya, membuat langkah David sontak terhenti, pandangannya kini berlabuh pada sang istri yang tengah menatapnya penuh sesal.
"Mas masih marah sama Hanna? Maafin Hanna ya mas... Hanna tadi tidak bermaksud..."
Cup...
Perkataan Hanna terhenti saat tiba-tiba bibir itu mendarat di bibir piech nya, membuatnya sontak melebarkan bola matanya tak percaya.
"Mas..."
Bagaimana jika ada yang melihat aksi mereka?
Ahhh, tidak tidak...
Perempuan itu sontak menelisik ke sekeliling mall yang tampak ramai akan lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, membuatnya bisa sedikit bernafas lega.
"Mas... Gimana kalau ada yang..."
Cup...
Lagi, suaminya kembali meraup bibir mungilnya, membuatnya dengan cepat melepaskan ciuman itu secara paksa atau mereka akan tertangkap basah karena melakukan adegan mes*m di tengah keramaian.
__ADS_1
"Mas, udah... Gimana kalau ada yang lihat ih..." Gugup Hanna sembari membekap mulutnya agar suaminya itu tak lagi bisa mencuri ciumannya.
"Biarkan saja, kamu kan istriku..."
"Tapi Hanna kan malu mas, ihhh..."
Perempuan itu benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran suaminya, dari tadi saja suaminya itu mengacuhkannya, begitu di pegang sedikit langsung menyerang hingga membabi buta, tak perduli mereka di tengah keramaian sekalipun.
"Kok tuma mommy yang dapat tium-tium daddy... Molla duga mau tium shini shini shini..." Gadis kecil itu memberengut, iri akan sang mommy yang mendapat kecupan manja dari sang daddy.
David tergelak, saat tengah kesal seperti ini, putrinya itu sangat mirip dengan istrinya, imut dan menggemaskan.
"Rupanya putri daddy ini iri dengan mommy?"
Maura menggeleng.
"No, Molla eundak illi dungki, miss Elesha shulluh Molla dauh-dauh illi dungki, illi dungki eundak baik, jadi Molla eundak shuka..."
"Benarkah?"
Membuat gadis kecil itu sontak mencebik.
"Huffft, daddy shuka putall-putall, Molla eundak shuka. Kalau daddy eundak mau tium-tium Molla ya shudah, Molla minta tium-tium shama mommy shaja. Mommy puna na Molla, jadi daddy eundak bolleh deukat-deukat shama mommy na Molla..."
Membuat David sontak panik bukan kepalang.
"Oh no girl, daddy mau kok cium Maura, kenapa tidak, hmmm..." Sahutnya cepat sembari menghamburkan ciuman bertubi di wajah sang putri. Jika istrinya benar-benar di tahan oleh sang putri, bisa berabe urusannya nanti.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕