
°°°~Happy Reading~°°°
Gadis kecil itu menatap kagum pada jajaran tas branded yang terpajang rapi di etalase kaca, manik matanya tak henti berkeliaran menatap satu per satu tas berharga fantastis itu dengan mulut menganga.
"Mommy, mau ini bolleh? Tash na badush, Molla shuka, hihihi..." Tunjuk Maura pada salah satu tas yang diletakkan terpisah dengan tas-tas lain, tas berwarna hitam itu terlihat begitu elegan untuk dikenakan.
"Tidak sayang, ini bukan tas sekolah untuk Maura. Cari yang lain ya sayang..." Tolak Hanna, meski tak sesuai peruntukannya, namun pilihan putrinya itu benar-benar tidak diragukan lagi, lihat saja, bahkan dirinya saja terkesima dengan tas limited edition keluaran terbaru itu.
Merasa ingin tahu berapa harga yang harus dibandrol untuk satu tas branded itu, tangannya pun mengulur menyaut label harga yang menggantung di tas itu. Dan seketika itu Hanna di buat menganga dengan harga yang di bandrol, bola matanya sontak melebar.
Sembilan ratus juta?
Apa mereka salah menyantumkan harga? Bagaimana bisa satu tas bisa dihargai dengan harga setinggi itu? Bahkan dengan uang itu, ia bisa makan bertahun-tahun tanpa harus bekerja.
"Maaf nona..."
Tiba-tiba datang dua orang karyawan toko mendatangi Hanna yang masih dalam mode terkejut, keduanya tersenyum begitu manis, dan tak lama salah satunya pun membuka suara.
"Anda tidak diperkenankan untuk menyentuh produk yang terpajang di etalase kami. Menyentuh, berarti membeli..." Sahut salah satu karyawan dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Ahhh, begitu ya? Baiklah, maafkan saya..." Sontak Hanna menarik kembali tangannya.
Kedua karyawan itupun membalik badan, seketika senyuman manis itu luntur dari bibir keduanya, tergantikan oleh seringai sinis yang begitu menjengkelkan.
"Ck, lihatlah orang miskin datang lagi kesini. Bagaimana mereka bisa masuk, bukankah harus ada kartu member VIP?"
"Entahlah... Orang miskin benar-benar tidak tahu malu. Kalau ngga mampu beli ya sudah jangan sok-sokan masuk kesini terus semua tas di pegang-pegang, menjijikkan..."
Dan percakapan kedua karyawan itupun terdengar jelas di telinga Hanna, membuat perempuan itu benar-benar terluka. Meski kehidupannya sekarang jauh lebih baik dari kehidupannya yang dulu di kampung, namun tetap saja, hinaan itu tak akan pernah lepas dari tubuhnya. Serendah itukah pandangan orang-orang terhadap dirinya sang perempuan tak berdaya?
"Mommy, mau lihat shana. Ayo lihat shana myh..." Pinta gadis kecil itu pada sang mommy, membuat Hanna sontak keluar dari kubangan rasa sakitnya.
"Kata daddy, Molla shulluh milih-milih dullu... Nanti daddy shini habish telepon shama om Ellik..."
"Iya, tapi kita harus cari daddy dulu ya sayang. Mommy tidak membawa uang, nanti kalau mau membayar tas nya Maura bagaimana..." Hanna masih mencari alasan, tidak mungkin dirinya kembali berkeliaran disana, apalagi pasti putri kecilnya itu ingin memegang tas-tas yang berhasil mengambil alih perhatiannya.
"Tapi Molla mashih ingin lihat-lihat myh, tash na badush-badush, tapi Molla pushing-pushing..."
Baru sedetik gadis kecil itu mengeluh pusing, kini mata elangnya kembali beraksi.
__ADS_1
"Wahhh, itu badush myh..." Pekik gadis kecil itu tak sengaja menatap pada tas berwarna pink di ujung etalase, membuat gadis kecil itu sontak berlari meninggalkan sang mommy begitu saja, mendekati tas incarannya, gadis kecil itupun langsung menyaut tas imut itu dan memeluknya erat.
"Mommy, Molla mau ini..." Girang Maura telah mendapatkan tas incarannya.
"Sayang, lepaskan dulu, kita cari daddy dulu ya..." Hanna berusaha mengambil tas itu dari pelukan sang putri, berharap tak ada satupun karyawan yang melihat aksi nekat putri kecilnya itu.
Dan yang sedari tadi ia takutkan pun kini benar-benar terjadi, karyawan yang tadi memperingatkannya kini kembali mendekatinya dengan wajah sinis.
"Tadi kan saya sudah bilang, kalau tidak mau membeli jangan pegang-pegang. Anda mengerti tidak sih..."
🍁🍁🍁
Annyeong chingu
Pagi-pagi udah update nih
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1