Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Pemilik Hati


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Dulu, siapa yang mengadzani Maura?" sahut David membuka kembali perbincangan.


"Eummm... Dulu, Alhamdulillah ada pak dokter yang bersedia mengadzani Maura, Mas... ."


Hening, David tak lagi menimpali. Membuat Hanna sontak mendongak menatap wajah sang suami.


"Mas... ."


"Apa dia masih muda?"


Membuat Hanna mengernyit bingung.


"Maksud mas?"


"Dokter itu, berapa usianya? Apa sudah kakek-kakek atau masih muda?!"


Suara itu jelas menunjukkan nada ketidaknyamanan. Apa suaminya tengah cemburu pada sosok dokter yang bahkan tak ia ketahui namanya?


"Itu--sudah agak tua. Sekitar umum 29 tahunan, Mas." Hanna menelan ludah kasar. Jawabannya aman kan?


Terdengar umpatan lirih dari bibir itu, membuat Hanna yakin, suaminya benar-benar terbakar api cemburu.


"Itu, pak dokternya tidak ikut membantu Hanna lahiran kok mas, dia hanya dokter bedah. Karna waktu itu tidak ada yang bisa mengadzani Maura, jadi dokter perempuan yang bantu Hanna lahiran minta tolong ke pak dokternya buat bantu mengadzani Maura. Pak dokternya juga bantu gendong Maura waktu Maura nangis karena Hanna masih di tindak" jelas Hanna memberikan pengertian.


"Mas percaya padamu, tapi mas jauh lebih tidak percaya pada dokter itu, Sayang."


Membuat Hanna mengernyit, apa maksud suaminya itu sebenarnya?


"Apa dokter itu tebar-tebar pesona pada putri kesayangan mas? Apa dia juga menyentuh tubuh kecil berharganya? Ck. Kalau sampai itu benar-benar terjadi, akan mas cari dokter brengs*k itu lalu menghajarnya habis-habisan."


Membuat Hanna sontak tergelak. Di pikirnya suaminya itu tengah mencemburuinya. Ternyata ia salah dugaan. "Ahahaha, mas memang tidak pernah berubah," keluh Hanna.


"Waktu itu putri kita bahkan masih bayi mas, dan sekarang pun Maura masih kecil. Mas terlalu posesif dengan gadis kecil mu itu mas. Hanna khawatir, kelak Maura tidak akan memiliki kekasih karena keposesifanmu itu." tutur Hanna mengutarakan kekhawatiran terbesarnya.


"Semua laki-laki sama saja, Sayang. Brengs*k dan hanya bisa menyakiti perempuan. Mas tidak mau putri mas sampai sakit hati hanya karena cinta-cintaan yang tidak jelas."


"Kamu akan membuat putri kita menjadi perawan tua mas..." keluh Hanna.


"Biar saja. Mas masih sanggup memberikannya kasih sayang sampai dia lupa rasanya jatuh cinta," sahut David masa bodoh.

__ADS_1


"Mas keterlaluan."


"Terserah. Karena Maura terlalu berharga untuk disakiti laki-laki manapun sayang. Mas tidak akan rela."


"Termasuk dengan Arsha?"


Membuat wajah David seketika itu muram.


"Stop membicarakan bocah tengil itu, Sayang." peringat David merasa muak.


"Mas tidak boleh begitu. Arsha anak baik loh. Hanna lihat dia juga sangat menyayangi Anelis. Bukankah laki-laki baik itu yang menyayangi ibunya lebih dari apapun?"


"Tapi mas tidak akan rela Maura menikah dengan laki-laki macam dia. Dia sangat sombong dan angkuh. Pasti dia tidak akan bisa membahagiakan putri kita, apalagi dengan wajah kanebo nya itu."


"Mas juga wajahnya kaya kanebo kalau sama orang," cibir Hanna.


"Tapi kan tidak kalau sama keluarga sendiri."jawabnya telak.


"Apa kamu mau mas wajahnya kaya kanebo gitu?"


Ekspresi wajahnya berubah drastis. Beku tanpa ekspresi. Membuat Hanna sontak menutup wajah sang suami dengan telapak tangannya.


"Jangan ah mas. Muka mas nyeremin kalau gitu." Keluh Hanna.


Sejenak Hanna berfikir, "jangan ah, nanti kalau mas ramah sama orang, nanti banyak yang genit sama mas gimana." keluh Hanna merasa was-was.


"Ya... itu kan tugas kamu buat jagain mas, sayang." Mengecup gemas pipi sang istri.


"Kalau yang genit banyak, Hanna bisa kalah mas. Apalagi Hanna baru saja selesai melahirkan." Mencebikkan bibirnya.


"Kamu tidak akan kalah, karena kamulah pemilik hati mas."


Tanpa permisi, David melabuhkan ciumannya pada bibir piech sang istri. Kedua bibir itupun saling menempel erat. David begitu menikmati ciumannya hingga dorongan tangan Hanna membuat laki-laki itu terpaksa menghentikan ciumannya.


"Kenapa Sayang?" Tanya David pada sang istri yang seperti menolak ciumannya.


"Mas kan harus ngitung mie instan." timpal Hanna mengingatkan.


Membuat David seketika itu tergeletak lemas, terhempas akan kenyataan.


"Sayang... ."

__ADS_1


Hanna tergelak di buatnya, ekspresi kesal juga mengiba sang suami benar-benar membuat tawanya pecah.


"Kamu keterlaluan sayang." Keluh David. Membuat tawa Hanna semakin menjadi.


"Mas sabar ya, tunggu 39 hari lagi. Mas harus kuat." ledek Hanna.


"Sayang, awas ya kamu... ."


"Ahahaha... ."


Sepasang suami istri itupun saling menghamburkan tawa satu sama lain, keduanya saling melengkapi hingga lupa akan kesakitan yang dulu pernah dialami.


Benar kata Tuhan dalam segala firman-nya. Bahwa tidak ada yang abadi. Termasuk kesakitan itu sendiri.


Dulu, Hanna boleh bersedih akan takdir hidup yang seolah tak pernah berpihak padanya. Namun sekarang, semua itu terbayar dengan kehadiran keluarga kecilnya.


Hanna bersyukur, semua kesakitan itu mampu terlewati dengan kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan diri pada takdir yang mungkin saja dulu tak ia mengerti.


Hanna bersyukur, akhirnya harapan juga doa yang selalu dipanjatkannya pada sang Khalik, akhirnya menemui titik akhir.


Mungkin dulu terasa sia-sia. Selalu melantunkan doa, namun seperti tidak ada perubahan yang tercipta. Tuhan seolah mendiamkannya dengan memberikannya rasa sakit juga luka bernanah.


Namun, perlu diketahui. Semua ada masanya.


Jika dulu doa itu terasa tidak bekerja, jangan lantas marah lalu memutuskan hubungan dengan Sang Pencipta. Mungkin saja Tuhan tengah menunggu waktu yang tepat untuk membuat kita mengerti indahnya kesabaran.


...---END--- ...


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Terimakasih yang selama ini sudah support othor


Meski berat dan terkesan memaksa, inilah akhir dari kisah Hanna, David dan keluarga kecilnya


Semoga othor di beri hidayah untuk bisa membuat kisah lanjutan mereka dan si comel Arshi🤣


Mon maap jika othor selama ini suka bikin kalian kaya jemuran baju yang di gantung berhari-hari


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2