
°°°~Happu Reading ~°°°
Pada akhirnya Hanna terbangun saat sang putri masih asik terlelap. Rasa sakit yang sempat melilit di area bawah perutnya kini tak lagi terasa, usapan tangan David benar-benar membuat janin dalam perutnya merasa nyaman dan tak lagi membuatnya meringis kesakitan.
"Kamu sudah bangun sayang? Apa ada yang sakit? Perutnya mau di usap-usap lagi? Apa mau minum? Mau mas ambilin?" Baru saja membuka mata, perempuan itu sudah di cecar oleh suaminya dengan beragam pertanyaan.
"Tidak mas, Hanna baik-baik aja kok, perutnya udah ngga sakit lagi. Sepertinya tadi adek lagi pengen di manja sama daddy nya," timpal Hanna mencoba mencairkan suasana.
Ketegangan yang tadi sempat terjadi saat putri kecilnya tak sadarkan diri di tambah dirinya yang mengeluh kesakitan, pastilah cukup membuat suaminya gusar dan tak tenang.
"Ck, pengen di manja tapi tidak mau di tengok. Shhhit, sial*n..." umpat David menahan kesal.
"Mas kenapa?" tanya Hanna tak mengerti saat mendapati sang suami yang hanya diam membisu tanpa menimpali. Tangannya kini bahkan sudah merayap mengusap wajah David yang tiba-tiba menekuk lesu.
"Tidak sayang, mas tidak apa-apa kok. Mas hanya takut kamu kenapa-kenapa..." Menduselkan wajahnya pada bahu kecil Hanna yang tengah duduk bersandarkan kepala ranjang.
"Kamu jangan sakit-sakit lagi ya, jangan bikin mas jantungan lagi. Mas takut loh Yang..." rengek David seperti anak kecil, membuat Hanna sontak terkekeh pelan. Suaminya itu selalu saja menggemaskan jika tengah manja seperti ini.
__ADS_1
"Iya mas, nggak lagi-lagi kok..." timpal Hanna mengusap lembut kepala sang suami yang masih bertengger di bahunya.
"Maura belum bangun mas?" tanya Hanna beralih menatap pada sang putri yang masih terlelap di bawah selimut tebalnya.
"Belum sayang. Kata Darren mungkin satu-dua jam lagi Maura pasti bangun," ucap David. Bebas dari rengkuhan sang istri, sekarang laki-laki itu beralih memainkan rambut sang istri yang dibiarkan tergerai.
"Hanna tidak menyangka kejadian malam itu membuat Maura sampai trauma, mas. Hanna pikir, Maura akan melupakan kejadian itu seiring berjalannya waktu. Tapi Hanna salah, Maura belum baik-baik saja, Maura bahkan trauma karena kejadian itu. Ini salah Hanna mas, Hanna ngga bisa lindungin Maura," sesal Hanna.
"Shhhut, stop menyalahkan diri kamu sendiri sayang. Ini bukan salah kamu, mas juga bersalah karena tidak bisa melindungi kamu dan Maura."
"Namun, dari pada kita saling menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita fokus dengan kesembuhan Maura, kita berusaha yang terbaik untuk membahagiakan Maura sampai Maura akhirnya lupa dengan traumanya, heummm... ."
"Terimakasih mas, terimakasih karena mas sudah menjadi obat untuk setiap rasa sakit yang Hanna dan Maura alami. Terimakasih karena mas selalu ada untuk kami."
"Mas akan selalu ada untuk kamu, juga untuk anak-anak kita sayang. Terimakasih kamu sudah menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak mas, I love you."
Krrr... Krrr... .
__ADS_1
Membuat Hanna sontak melepaskan rengkuhannya. Kedua pasang mata itupun saling bertatapan, dan tak lama tawa pun pecah saat keduanya menyadari bunyi nyaring itu berasal dari perut Hanna yang menandakan sang janin sudah merasakan kelaparan.
"Alarm nya sudah bunyi mas, hahaha..." kekeh Hanna pada kelakuannya sendiri yang tak bisa menahan lapar barang sedetikpun.
"Sepertinya baby sudah bosan mendengarkan curhatan kita sayang, ahahaha... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Karena komennya rame, nih aku tambahin up nya, ehehehe
Udah pada kangen kakak Molla ya, sabar sabar
kakak molla nya baru di umputin othor dulu
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕