
°°°~Happy Reading ~°°°
Puas menjelajahi alam mimpi, gadis kecil itu akhirnya terbangun dari tidur lelapnya. Perlahan Maura mengerjap, kedua tangannya bergerak mengacak-acak kelopak matanya yang bagai saling menempel hingga sulit terbuka sempurna.
Diangkatnya kedua tangan mungilnya.
Ahhh... Badannya terasa begitu nyaman saat otot-otot tubuhnya itu ia regangkan penuh penghayatan.
"Daddy..." Sontak Maura berbinar saat mendapati sang daddy kini tengah terlelap nyenyak di sampingnya. Membuatnya seketika merayap mendekat pada sang daddy yang masih terlelap nyenyak.
"Daddy... ."
Rindu yang membelenggu karena dua malam ini tak dapat tidur bersama, membuat gadis kecil itu tak segan merengkuh lalu menciumi wajah tampan sang daddy.
Hingga akhirnya gadis kecil itu di buat mengernyit bingung.
"Daddy?"
Di sentuhnya kening sang daddy memastikan.
"Hwaaa..." membuat Maura seketika itu terisak saat mendapati suhu tubuh sang daddy yang tak biasa. Daddy tampannya demam.
"Hwa, Daddy... ."
Lengkingan suara tangisan itu sontak membangunkan David dari tidur lelapnya. Dengan berjingkat gugup, laki-laki itupun bangkit dari tidurnya.
"Hei girl. What happen?" sahut David penuh keterkejutan saat mendapati sang putri tengah terisak di depannya. Didekapnya gadis mungil itu dalam rengkuhannya.
__ADS_1
"Kenapa putri daddy menangis, heummm..." Diusapnya wajah sang putri yang basah akan isaknya.
"Da--ddy..." Rintih Maura penuh sesenggukan.
"Yes girl, putri daddy kenapa?" tanya David penuh kekhawatiran. Dalam hati menerka-nerka, mungkin saja putri kecilnya itu di landa mimpi buruk hingga membuatnya kini menangis tanpa sebab.
"Daddy dumam? Daddy na Molla eundak bolleh tatit, hiks... Molla sheudih, Molla eundak shuka daddy dumam-dumam, hiks... ."
Membuat David sontak bernafas lega. Senyum tipis seketika menyungging di bibirnya. Apa hanya karena ia demam hingga membuat gadis kecil itu sampai terisak di pagi buta? Sesayang inikah sang putri padanya hingga menangis histeris hanya karena demamnya yang tak seberapa?
Entah kenapa, David benar-benar bahagia dibuatnya.
"Tidak, daddy tidak demam, girl. Daddy hanya rindu dengan putri daddy yang cantik ini. Daddy pasti sembuh kalau daddy di peluk Maura seperti ini."
"Kallau Molla pulluk-pulluk daddy shepeulti ini, Daddy cembuh? Srukkk... ."
"Molla mau pulluk daddy halli-halli..." Seloroh gadis kecil itu mengeratkan rengkuhannya.
"Eh, kenapa ini kok pada pelukan?" Hanna yang baru selesai menyiapkan seragam sekolah sang putri, di buat terkejut saat mendapati suami dan putri kecilnya itu tengah saling berpelukan.
"Daddy tatit mommyh. Molla hallush pulluk-pulluk daddy biall Daddy teupat cembuh..." sahut Maura posesif tanpa melepas rengkuhannya.
Hanna beralih menatap David penuh tanya.
"Maura tiba-tiba Maura nangis saat tau mas demam, Sayang. Kalau ngga digituin, dia ngga berhenti-berhenti nangisnya..." lirih David yang rupanya masih bisa terdengar oleh gadis kecil itu.
"Molla eundak nanit, Molla anak baik, hwa... ."
__ADS_1
Membuat David seketika itu kalang kabut. Ia harus bisa mendiamkan gadis kecil itu atau istrinya itu akan ngamuk.
"Oh yes girl. Forgive me. Sini peluk daddy. Daddy sakit, girl... ."
Hanna menghela nafas dalam, kalau seperti ini namanya suaminya itu mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Ya udah. Maura mandi dulu ya sayang. Mommy udah siapin air buat Maura, Maura kan harus sekolah," ajak Hanna.
Sejenak Maura menimbang
"Kallau Molla beullangkat shekull nanti Molla eundak bisha pulluk-pulluk daddy. Nanti daddy eundak cembuh-cembuh myh... ."
Bola matanya tampak berkaca-kaca. Gadis kecil itu benar-benar khawatir pada keadaan sang daddy yang masih demam dan masih butuh pelukan.
"Nanti setelah daddy minum obat, pasti daddy sembuh, Sayang."
"Eundak mommy. Daddy eundak mau minum ubat, daddy mau na pulluk Molla."
Hanna menghela nafas dalam, kalau begini ia harus menawarkan negosiasi terbaik agar putri kecilnya itu menyetujui permintaannya.
"Nanti mommy yang peluk."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
__ADS_1
saranghaja 💕💕💕