
°°°~Happy Reading~°°°
Hanna telah rapi dengan pakaiannya, perempuan itu tengah bersiap menyambangi rumah sakit untuk melepas gips yang masih membalut lengan kanannya.
Rasanya sangat melegakan, ia benar-benar sudah tak sabar untuk melepaskan benda itu dari tangannya dan kembali menggendong putri kecilnya.
"Mommy, nanti putih-putih di tangan na mommy di minta shama dotell, tullush mommy bisha gendong Molla ladi ya myh..." Bukan Hanna saja yang menantikan momen ini, ternyata gadis kecil itupun sama tak sabarnya menantikan kesembuhan sang mommy.
"Iya sayang. Maura tidak sabar ingin di gendong sama mommy ya?"
"Huum, Molla udah eundak shaball mau di gendong mommy, kangen puk puk duga. Molla eundak shuka puk puk daddy, tangan na daddy keullas, badan na Molla tatit-tatit shemua. Tapi Molla tetap sheunang kok di puk-puk shama daddy, hihihi..." Kikik gadis kecil itu.
"Baiklah, kita berangkat sekarang ya sayang, Maura sudah siap kan..." Hanna hendak menyaut tangan kanan sang putri, namun pergerakannya tiba-tiba tertahan saat gadis kecil itu kembali bersuara.
"Kita eundak tunggu daddy pulang myh? Molla mau beullangkat lumah tatit na shama-shama daddy..." Pinta Maura, membuat Hanna menghela nafas dalam, gadis kecil itu selalu tak bisa lepas dari sang daddy, selalu menanyakan keberadaan sang daddy jika laki-laki itu tak ada dihadapannya.
"Daddy kan harus bekerja sayang. Jadi, Maura yang temenin mommy ke rumah sakit ya..."
"Daddy bekeulja na lama sheukalli, Molla boshan-boshan kallo tunggu daddy pullang. Beshok Molla mau ikut daddy bekeulja aja biall keulja na daddy teupat-teupat sheleshai.."
__ADS_1
Gadis kecil itu kembali protes, sudah seminggu ini Maura sering uring-uringan karena ditinggal David bekerja. Padahal David bekerja pun tidak seintens dulu, ia bahkan rela memangkas jam kerjanya agar segera cepat menemui sang putri tercinta.
Hingga akhirnya pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok laki-laki berparas rupawan dengan hela nafas tak beraturan.
"Mas? Mas kok sudah pulang? Apa ada yang ketinggalan?"
"Daddy..."
Belum David menjawab, gadis kecil itu sudah menyambar tubuh kekarnya, membuatnya tak segan menggendong putri kecilnya itu dalam dekapan hangatnya.
"Daddy pullang na kok teupat-teupat, daddy kangen Molla ya, hihihi..."
"Shuttop daddy, Molla geulli... Bewok daddy geulli, tushuk-tushul pipi na Molla, hahaha..." Gadis kecil itu berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah sang daddy yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di dagunya.
"Kenapa kamu menggemaskan sekali girl..." Gemas David pada tingkah sang putri yang selalu tidak terduga.
"Kalluna Molla anak na daddy Dafhid shama mommy Hanna, hihihi..."
"oh iya?" Sahut David seolah tak percaya.
__ADS_1
"Iya dong..."
"Mas mampir ke rumah ada yang ketinggalan? Mau Hanna ambilkan?" Tanya Hanna sekali lagi, sedari tadi perempuan itu diacuhkan oleh sepasang ayah dan anak yang tengah saling melepas rindu.
"Tidak. Aku hanya ingin mengantarmu ke rumah sakit, aku tidak terlambat kan?"
Hanna menggeleng perlahan, rupanya laki-laki itu tidak se-egois yang ada di pikirannya, buktinya saja ia bahkan meluangkan waktu hanya untuk sekedar mengantarkannya ke rumah sakit, benarkan? itu benarkan? Hanna berusaha meyakinkan hatinya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Kabar Chingu gimana nih, ada yang lagi galau karena ayang?😂
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1