Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Uring-uringan


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Suasana hati yang buruk tentu akan berpengaruh terhadap segala hal. Termasuk pada pekerjaan.


Mood yang hancur itu membuat David seharian ini uring-uringan, tidak sedikit staff juga manajer mendapatkan amukan darinya. Entah itu masalah serius, atau bahkan masalah sepele sekalipun, semua tak lepas dari amukan sang tuan muda.


"Ulangi dari awal!!!" David melempar laporan keuangan itu ke atas meja kerjanya. Benar-benar tidak berguna, membuat laporan seperti itu saja tidak becus. Membuat emosi David kian meluap.


"Apa karena dua hari ini aku tak berangkat, membuat kinerja karyawan menjadi seburuk ini Rick?" Sergah David penuh amarah.


Erick menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan kinerja para karyawan, semuanya berjalan seperti biasanya. Hanya sepertinya suasana hati sang tuan muda sedang tak baik-baik saja membuatnya seharian ini uring-uringan.


"Segera akan saya tindaklanjuti, tuan."


Dari pada cari mati, mending ia cari aman saja. Pikir Erick realistis.


"Apa anda ingin di buatkan kopi, tuan?" tawar Erick, mungkin saja dengan seduhan kopi, bos nya itu bisa sedikit lebih rileks.


"Espresso."


Erick manggut-manggut. Dalam hati bergumam, "Memang orang yang tengah merasakan kepahitan hidup, cenderung lebih suka yang pahit-pahit." Tanpa sadar, asisten pribadi itu menertawakan kesengsaraan yang tengah di alami sang bos besar.


David akhirnya menyelesaikan pekerjaannya tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 8 malam.

__ADS_1


Jarang-jarang laki-laki itu pulang hingga larut malam, semenjak menikahi Hanna, ia bahkan membatasi jam kerjanya hanya sampai sore hari, layaknya karyawan biasa. Meski biasanya ia harus lembur di rumah, tapi setidaknya ia ada untuk keluarganya, pikirnya penuh tanggung jawab.


Di tangannya sudah menggantung sebuah mainan berukuran besar, tentu bukan hasil membeli sendiri, melainkan hasil jerih payah sang sekretaris yang ia tugasi untuk mencari mainan yang kemungkinan akan disukai anak-anak. Pikirannya terlalu kalut, bahkan untuk memutuskan sebuah kontrak kerja sama harus ia undur beberapa hari kedepan.


"Yeayyy, daddy pullang daddy pullang..." Kedatangannya sontak mendapat sambutan dari sang putri tercinta. Senyum lebar seketika menyungging di bibirnya, ketika sang istri mengacuhkannya, setidaknya masih ada sang putri yang begitu memperdulikannya.


"Putri daddy sudah menunggu daddy rupanya?"


"Yesh daddy, Molla wait daddy dalli tadi-tadi tapi daddy na eundak pullang-pullang..." keluh Maura bergelayut di rengkuhan sang daddy.


"Kan daddy harus beli mainannya Maura dulu," sahut David penuh kebohongan.


Membuat Maura sontak berbinar, "Mainan? Molla mau mainan. Manna mainan na Molla daddy?"


David menyodorkan mainan itu pada sang putri, membuat Maura sontak berbinar, mainan princess itu adalah salah satu mainan incarannya.


Muachhh... Muachhh... Muach... .


Kecupan bertubi itu Maura labuhkan di wajah sang daddy, membuat David menyunggingkan senyum.


"Kamu pintar sekali mengambil hati daddy, girl... ."


"Tapi kenapa daddy tidak bisa mengambil hati mommy mu girl..." gumam David meratapi nasib buruknya.

__ADS_1


"Mommy dimana girl?"


"Eummm, mommy ladi kuking-kuking beullakang daddy. Kata mommy buat daddy mamam na... ."


*Kuking-kuking: cooking-cooking/masak-masak.


Membuat senyum David seketika itu mengembang.


"Come on, kita menyusul mommy, girl. Kita lihat mommy sedang masak apa, heummm... ."


Keduanya kemudian berlalu ke arah dapur, terlihat Hanna tengah menyiapkan makan malam sang suami karena ia sendiri telah makan lebih dulu bersama sang putri karena lapar tak dapat di tahan.


Hanna terlihat sedikit kesusahan dengan perut buncitnya, membuat David seketika itu mengambil alih.


"Kenapa tidak menyuruh pelayan saja?" Mengambil alih mangkuk yang ada di tangan Hanna lalu meletakkannya di atas meja makan.


"Hanna sudah menghangatkan makanannya, nanti kalau mas sudah selesai biar pelayan yang membereskannya. Hanna ke atas dulu sama Maura. Kasihan sudah malam, besok harus sekolah."


Rentetan kalimat itu menjadi tamparan keras untuk David, di kiranya Hanna sudah tak lagi marah dengannya. Namun pikirannya salah, Hanna masih saja mengacuhkannya.


Alhasil, malam ini ia harus makan malam seorang diri tanpa ada yang menemani. Makanan yang lezat itu pun harus terbuang sia-sia. David tak lagi nafsu untuk sekedar mencicipi. Pikirannya bercabang akan kemurkaan sang istri yang belum juga dapat diatasi.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2