Secret Baby Girl

Secret Baby Girl
Hitam Bullat-Bullat


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"It's our baby honey..." isak David tak lagi memperdulikan sekitarnya, laki-laki itu bahkan semakin mengeratkan rengkuhannya, David benar-benar tak mampu menahan haru yang kini semakin membuncah dalam dada.


Di usapnya surai rambut itu dengan jemari lentiknya, Hanna benar-benar tak menyangka jika suaminya itu akan sampai terisak. "iya mas, itu adek."


"Thank you for everything honey, i so happy and i love you..." Dikecupnya kening sang istri dalam debar yang tak biasa, lalu beralih pada bibir piece Hanna yang selalu sukses memporak-porandakan hatinya. Membuat Hanna sontak memekik, "mas..." Di dorongnya dada bidang itu agar suaminya itu menjauh dari tubuhnya.


"Daddy keunnapa kullay-kullay? Dedek bayi oek-oek na Molla manna?"


Ternyata tangisan lirih David tadi terendus oleh si kecil Maura, membuat David sontak menegakkan tubuhnya, hilang sudah reputasinya, bukan pada dokter dan para perawat yang kini masih menunaikan tugasnya, namun pada sang putri yang kini tengah menatapnya penuh selidik.


"Oh no girl. Daddy does'n cry..."


Maura mengernyit, "nooo... Daddy kullay! Itu di mata na daddy ada mata aill na..." Tunjuk Maura pada bawah mata David yang basah akan isak yang tak sengaja luruh dari manik matanya.


"Kamu tidak bisa berbohong pada Maura mas..." Gelak Hanna menatap pada wajah sang suami yang sudah memerah menahan malu di depan sang putri tercinta.


"Sayang..." Rengek David agar istrinya itu berhenti menertawakannya.


"Uuuh, daddy mallah kullay-kullay enjin... Dedek bayi oek-oek na Molla manna daddy..." Gadis kecil itu menarik-narik jas sang daddy agar laki-laki itu berhenti men-drama dan segera menepati janjinya.


*Enjin : again/lagi


"Ouhhh, stop saying daddy is crying, girl..."


"Daddy kullay..." Ejek Maura.


"No, i'm not crying..."


"Daddy kullay-kullay..."


"No, please... im not crying girl, oh my God..."

__ADS_1


"No no no... Daddy kullay-kullay..."


Keduanya malah asik saling berdebat, membuat Hanna menghela nafas jengah.


"Astaghfirullah... Sudah dong berdebat nya. Katanya Maura mau lihat adek... ."


David menarik nafas frustasi.


"Baiklah, perlihatkan saja calon bayiku pada putriku..." Titah David dengan wajah yang kembali datar tanpa ekspresi.


Dokter Stephanie mengangguk patuh, perempuan itupun segera memperlihatkan sosok janin yang masih berusia 7 minggu itu pada gadis cantik di depannya.


"Lihat, ini calon adik anda nona muda..." Tunjuk dokter Stephanie pada layar monitor.


Maura mendekat, bola matanya memicing menatap tajam pada gambar hitam putih didepannya.


"Manna onty? Yang hitam bullat-bullat itu?" tunjuknya pada gambar tak jelas itu.


Sejenak Maura bergeming di tempatnya, gadis kecil itu menatap pada gambar itu dengan tatapan tak percaya. Hingga akhirnya gadis kecil itu memilih berbalik dan merengkuh sang daddy dalam isak tangisnya. "Daddyh, hiks... ."


"What happen girl?" David mengusap lembut punggung sang putri yang kini bergetar karena isak tangisnya. Pikirnya sang putri tengah terharu seperti dirinya, namun rupanya... .


"Daddy, kok dedek bayi oek-oek na Molla eundak shepeulti dedek Acell, kok dedek bayi oek-oek na Molla tuman hitam bullat- bullat keucil? Molla eundak mau, hiks... Molla mau na dedek bayi oek-oek yang shepeulti dedek Acell, hwaaa..." Tangis Maura menggelegar saat ekspektasi nya tak sesuai dengan realita yang ada, bayangan akan menemui bayi seimut baby Arshell seketika terhempas saat dirinya hanya dihadapkan pada gambar hitam putih berbentuk bulatan kecil di depannya.


"Ouhhh don't cry again my sweety... Itu-- itu hanya gambar girl, nanti setelah baby nya keluar, adiknya Maura pasti seperti baby Arshell, heummm..." jelas David berusaha menenangkan isak tangis sang putri.


Sejenak Maura bergeming.


"Jadi dedek bayi oek-oek na Molla cuman gamball, eundak buntuk-buntuk shepeulti dedek Acell?" Rutuk Maura sesenggukan.


Membuat David sontak di buat gelagapan, bukan itu maksudnya. "B-bukan begitu girl, maksud daddy-- daddy... "


"Hwa... Daddy dahat, daddy tipu-tipu Molla, hwa..." Tangisnya semakin menggelegar, membuat Hanna mau tak mau harus segera turun tangan.

__ADS_1


"Sayang, Maura... ."


Maura sontak melepas paksa rengkuhan sang daddy, gadis kecil itu berjalan layu menuju sang mommy yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.


"Daddy dahat myh, daddy tipu-tipu Molla enjin, hiks..." Adu Maura merengkuh leher sang mommy.


"Cup cup... Dengarkan mommy sayang... ." Perintah Hanna mengusap surai rambut sang putri.


"Hiks hiks... ." Dengan tangis sesenggukan gadis kecil itu melepaskan rengkuhannya, manik matanya yang masih berair pun menatap lekat pada manik teduh sang mommy.


"Adek tidak mau muncul karena adek bayinya masih malu-malu sama kakak Maura, jadi kakak Maura harus baik-baik sama adek, biar adik bayi tidak malu-malu lagi sama kakak Maura, dan kakak Maura bisa cepat bertemu adek bayi ya sayang... ."


Maura termenung.


"Mommy shius? Dedek bayi oek-oek na eundak muntul-muntul kalluna ladi shy-shy shama kakak Molla?"


Angguk Hanna, "iya sayang. Jadi kakak Maura nanti bisa cium perutnya mommy, atau usap-usap perutnya Mommy juga boleh, agar adik bayinya tidak malu-malu lagi sama kakak Maura, yahh... ."


Gadis kecil itupun mengangguk antusias, "shiap mommyh... Nanti Molla kish kish pullut na mommy banak-banak biall dedek bayi oek-oek na eundak shy-shy ladi, hihihi... ."


Membuat David sontak tercengang, apa hanya seperti itu? Apa hanya dengan alasan absurd itu putrinya akan percaya dengan begitu mudahnya?


Wah wah... .


Gadis kecil itu benar-benar pilih kasih dengan mommy nya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2