
°°°~Happy Reading~°°°
Langkah kaki itu mulai mengalun menyusuri koridor rumah sakit, tak tahu lagi bagaimana perasaannya saat itu, bayang-bayang akan wajah terisak sang putri membuat David begitu kalut, berkali-kali laki-laki itu mengusap wajah frustasi, sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan di banding dengan kesakitan yang kini sang putri alami.
Hingga kekhawatiran itu nyata terbukti, apa yang di takutkan kini benar-benar terjadi, lirih isak tangis kini mulai mendengung menusuk indra pendengarannya, membuat David sontak mempercepat langkahnya, laki-laki itu memasuki ruangan sang putri yang kini di jaga ketat oleh bodyguard-bodyguard kepercayaannya.
"Maura..."
Panggilan itu berhasil mengalihkan si kecil Maura dari isak tangisnya, sontak gadis kecil itu menatap ke arah sang daddy dengan mata sembab nya.
"D-Daddyh, hiks..." Rintih Maura, suaranya tersendat, bola matanya memerah, wajahnya bahkan terlihat sendu tanpa gurat senyum yang biasa menyungging di bibir piech nya. Membuat David sontak mendekati ranjang rawat sang putri, di rengkuhnya tubuh kecil itu dalam dekapan hangatnya.
"Putri daddy kenapa, hmmm..." Di usapnya wajah sang putri dengan usapan lembutnya, jemarinya kini bergerak merapikan helaian rambut si kecil Maura yang terlihat berserakan.
"Mommy daddy, hiks... Mommy na Molla manna, hiks..."
Dan apa yang ditakutkannya kini benar-benar terjadi, putri kecilnya kini mencari sang mommy yang masih tak sadarkan diri, membuat laki-laki itu semakin di landa frustasi.
Oh Tuhan, jawaban apa yang harus ia berikan pada putri kecilnya itu.
"Tenanglah girl... Mommy pasti akan segera kesini jenguk Maura..."
__ADS_1
"Molla mau mommy sheukallang daddy, hiks..." Pinta gadis kecil itu dalam dekapan hangat sang daddy.
"Iya... Nanti mommy kesini girl. Tapi mommy harus istirahat dulu, Maura tunggu disini sama daddy ya..."
"Eundak, daddy beulbohong, hiks... Mommy pashti udah tinggalin Molla shendilli shini, Molla anak nakall, hiks..."
Membuat David sontak membelalakkan matanya, kepalanya menggeleng penuh.
"No girl... Putri daddy gadis baik, kenapa Maura bicara seperti itu, hmmm..."
"Molla nakal daddy, Molla udah buat mommy tatit, mommy pashti tinggalin Molla shini sheundili. Molla eundak mahu, Molla eundak mau mommy peulgi tinggal-tinggal Molla ladi, ayo kita demput mommyh daddy, ayo demput mommyh na Molla, hiks..." Rintihan halus kini kembali menggema dari bibir mungil itu, kesedihan semakin mendera, gadis kecil itu semakin terisak dalam rengkuhan hangat sang daddy.
"Tidak girl, ini salah daddy, ini semua salah daddy..."
Mengapa penyesalan ini terasa begitu menyesakkan?
"Glanny, hiks..." Rintih si kecil Maura menatap pada mama Agatha yang berangsur memasuki ruangannya.
"Ohhh... Sayang, cucu kesayangan granny ini kenapa, hmmm..." Mama Agatha merengkuh si kecil Maura yang masih setia berada dipangkuan sang daddy, perempuan itu menatap sang cucu penuh sesal, jika saja ia tak menyusul sang suami ke Paris, mungkin semua ini tak akan terjadi, mungkin semua akan tetap baik-baik saja.
"Mommy glanny... Mommy Molla peulgi tinggalin Molla sheundilli shini, Molla eundak mahu, Molla mau mommy, hiks..." Adu si kecil Maura dalam derai isak yang tak berkesudahan.
__ADS_1
"Tidak sayang, siapa bilang mommy tinggalin Maura, hmmm... Mommy nya Maura lagi beliin mainan yang banyak buat Maura..."
"Glanny eundak beulbohong?"
"Tidak sayang, untuk apa granny berbohong pada cucu granny yang cantik ini..."
"Glanny shius eundak beulbohong, hiks..."
"Serius dong sayang. Bagaimana bisa mommy Hanna tinggalin putri secantik Maura, hmmm..."
"Maura tidak mau menyapa grand pa?" Mama Agatha melempar pandang pada tuan Sebastian yang hanya berdiri mematung di belakangnya.
"Glandpa..."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap yeee nyangkut lamaaaaa
Jangan lupa like
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕